Dendam Cinta Tuan Alvin

Dendam Cinta Tuan Alvin
Hukuman untuk gadis nakal


__ADS_3

Mendengar suara yang tidak asing di telinganya, Syifana menoleh ke sumber suara. Sementara pelayan yang ada di depan Syifana semakin menundukkan kepala. Tidak berani melihat aura menyeramkan dari sang tuan muda, yang dari suaranya saja sudah terlihat sangat emosi.


"Bang Vino,"


"Kenapa kemejaku ada padamu! Kau berani sekali menyentuh barangku, Gadis nakal!" seru Alvino dengan tatapan menyeramkan.


Alvino langsung merebut kemeja dari tangan sang istri, lalu menarik tangan istrinya itu menuruni tangga, berjalan dengan langkah lebar hingga Syifana yang berusaha menyamakan langkah, berjalan dengan terseok-seok.


Pria itu membawa sang istri menuju sebuah gudang di belakang mansion besar itu. Sementara Andri hanya mengikuti kedua orang itu tanpa berani mencegah apa yang di lakukan oleh tuan mudanya.


"Buka pintu gudang, Ndri!" perintah Alvino kepada sekretarisnya itu.


Andri terpaksa menurut, walaupun sebenarnya pria itu tidak tega dengan hukuman yang akan di berikan tuan mudanya itu kepada istri kecilnya. Namun, dia tidak memiliki kuasa apapun untuk melarang atau sekedar membela perempuan malang yang menjadi sasaran dendam dari tuan mudanya.


Begitu pintu gudang itu terbuka, Alvino melemparkan tubuh sang istri hingga terjerembab di lantai gudang tersebut. Alvino dengan segera kembali menutup ruangan itu, meninggalkan Syifana seorang diri di dalam sebuah ruangan yang gelap, minim pencahayaan dan terasa sangat lembab.


Syifana tidak memperdulikan rasa sakit di lututnya yang terbentur lantai. Perempuan itu segera bangkit untuk mengejar sang suami, walaupun ternyata percuma. Ruangan itu sudah di kunci dari luar. Syifana menangis, memanggil nama sang suami untuk menolongnya keluar dari tempat itu. Padahal apa yang di lakukannya itu percuma, suaminya itu sedang dalam keadaan emosi dan memang dengan kejam menaruhnya di tempat itu.


"Bang Vino, tolong Fana, Bang!" teriak Syifana dengan menggedor-gedor pintu gudang tersebut.


Perempuan itu membalikkan tubuhnya, pandangan matanya berkeliling untuk mengetahui tempat apa yang sekarang menjadi tempat sang suami mengurungnya.


Dia berusaha berjalan dengan meraba dinding untuk mencari saklar lampu. Semakin Syifana meraba, perempuan itu semakin jauh masuk ke dalam gudang itu.


"Nah, ini dia,"


Syifana segera memencet tombol yang dia yakini adalah saklar lampu. Begitu tombol itu di pencet oleh Syifana, lampu menyala dengan terang. Menampakkan tempat yang ternyata lebih menyeramkan dari pada saat keadaan gelap tadi.

__ADS_1


"Aaa ...."


Syifana berteriak dan berlari saat melihat dengan mata kepalanya sendiri, di ruangan itu banyak sekali anggota t*buh yang tergantung. Seperti kep*la, potongan tub*h, hingga hanya org*n dalam manusia tergantung dengan rapi di tempat itu.


Rasa mual mendera perutnya, Syifana hingga muntah beberapa kali ketika melihat pemandangan di tempat itu.


Syifana yang ketakutan, menyembunyikan dirinya di sebuah lemari besar. Perempuan itu bahkan masuk ke dalam lemari itu agar tidak lagi melihat pemandangan sadis yang pertama kali dia lihat.


"Tempat apa ini? Kenapa di rumah Bang Vino, banyak sekali potongan-potongan tub*h manusia! Sebenarnya apa pekerjaan Bang Vino? Kenapa, kenapa Bang Vino tega mengurungku di tempat mengerikan ini?" Banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang singgah di pikiran perempuan berusia 18 tahun itu.


Ketika sedang sibuk dengan pikirannya sendiri, Syifana mendengar suara yang terdengar seperti desisan ular. Perempuan itu memeriksa kotak-kotak yang berada di sampingnya. Penasaran dengan isi kotak yang juga berada di lemari itu, Syifa membuka kotak itu. Ketika melihat isinya, Syifana segera membuka lemari persembunyiannya dan melemparkan kotak itu ke lantai.


Perempuan itu kembali berlari, kini tidak memperdulikan apa yang di lihatnya tadi. Hewan ini lebih menakutkan dari pada banyaknya tubuh yang menggantung seperti manekin itu. Syifana berusaha menyelamatkan diri dari beberapa ular yang terlepas dari tempatnya itu.


Syifana berlari menuju arah masuknya tadi, perempuan itu menggedor pintu dengan keras. Memanggil-manggil nama sang suami agar mau menolongnya dari bahaya ini.


Saat ular-ular itu semakin mendekati tubuh tidak berdaya Syifana, pintu gudang terbuka. Andri yang membuka gudang itu setelah mendapatkan ijin dari tuan mudanya.


Pria itu terkejut dengan pemandangan yang dia lihat, tubuh istri dari tuan mudanya itu sudah semakin di dekati oleh ular-ular berukuran besar. Tanpa pikir panjang, Andri mengeluarkan pistol miliknya dan menembak ular-ular yang berani mendekati Nona mudanya.


"Kurang ajar! Tamatlah kalian."


Dengan beberapa peluru milik Andri ular-ular besar itu sudah tidak bisa bergerak lagi. Andri menembak mereka tepat di kepala ular-ular itu, sehingga tidak perlu menghabiskan waktu lama untuk menyingkirkan hewan berbisa itu.


Melihat Nona mudanya tergeletak di lantai, Andri merogoh ponselnya di saku celana. Pria itu menelphone tuan mudanya untuk melaporkan bahwa sang istri dalam keadaan pingsan. Namun, panggilan darinya hanya di abaikan oleh Alvino. Pria itu tengah sibuk mengatur penampilannya untuk pergi ke kantor.


Karena tidak mendapat respon, Andri memutuskan menggendong sendiri tubuh lemas Nona mudanya untuk dia bawa ke mansion. Badan Syifana terasa sangat panas, kemungkinan perempuan itu sedang dalam keadaan demam.

__ADS_1


Andri dengan langkah berwibawa menggendong Nona mudanya, membawanya masuk ke dalam mansion. Ketika Andri menaiki anak tangga, bersamaan dengan Alvino yang akan menuruni tangga.


Pria itu menatap tajam sekretarisnya yang sudah berani menyentuh tubuh istrinya. Rahang Alvino mengeras dengan sempurna, tangannya mengepal hingga buku-buku tangannya memutih. Ketika sudah dekat, Alvino merebut sang istri dari gendongan sang sekretaris.


"Berani sekali kau, Ndri! Siapa yang menyuruhmu menggendongnya?" mata tajam Alvino menyiratkan permusuhan pada orang kepercayaannya itu.


Alvino berbalik, menaiki anak tangga untuk sampai di kamar utama miliknya. Sementara Andri masih setia mengikuti kemanapun langkah sang tuan muda. Ketika sudah sampai di kamar utama di mansion itu, Alvino menurunkan tubuh yang terasa sangat panas itu ke ranjang.


Seperti suami yang baik, Alvino menyelimuti tubuh sang istri dengan selimut tebal miliknya. Saat ini, Alvino seperti orang yang sangat menyayangi Syifana. Entah apa yang membuatnya tiba-tiba saja berubah sikap.


"Maaf, Tuan, tapi tadi Nona hampir menjadi mangsa hewan berbisa peliharaan anda!"


"Hampir di mangsa hewan berbisa? Maksudmu hewan yang mana?" tanya Alvino menatap tajam Andri.


"Ular jenis king kobra yang ada di lemari gudang, Tuan."


Alvino membulatkan matanya, terkejut dengan apa yang di beritahu oleh tangan kanannya. Hampir saja perempuan itu game over jika saja Andri tidak kembali menyusulnya ke tempat itu.


"Lalu, kau apakan ular-ular itu?" tanya Alvino curiga.


Gerak-gerik Andri seperti orang yang sedang gelisah. Entah apa yang di lakukan tangan kanannya itu pada hewan-hewan peliharaannya, sehingga Andri terlihat seperti orang yang tertekan.


"Maaf, Tuan. Saya tembak m*ti ular-ular itu,"


"Apa?" pekik Alvino dengan suara besarnya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2