Dendam Cinta Tuan Alvin

Dendam Cinta Tuan Alvin
Hanya mimpi


__ADS_3

Suasana yang semula tegang karena ricuhnya suara pistol yang menggema mendadak hening seketika. Baku tembak antar kedua kubu juga terhenti karena kedatangan Alvino. Jonathan belum memiliki jawaban yang tepat untuk pernyataan yang terlontar dari bibir sang mantan pimpinannya. 


"Jo, apa kau tidak menyesal atas perbuatanmu saat ini? Kau membantai dengan sadis mantan rekan kerjamu hanya karena ambisi. Kau sama sekali tidak pernah memikirkan bagaimana perasaan keluarga mereka," ujar Andri seraya menatap keadaan sekeliling. Banyak sekali korban yang berjatuhan karena ambisi Jonathan yang di luar batas. 


"Aku tidak akan pernah menyesali perbuatanku!" Jonathan menjawab dengan congkaknya. 


Tatapan mata Alvino masih tertuju pada mantan anak buahnya yang kini sudah berani melakukan pemberontakan. Tidak tanggung-tanggung pria yang merupakan orang kepercayaannya di markas itu melakukan pembant*ian masal kepada sebagian besar anggota. Alvino menatap sendu para anggota yang sudah kehilangan nyawa demi memegang teguh kesetiaan mereka. 


"Jika kau kecewa padaku, kenapa kau lampiaskan semuanya pada mereka, Jo? Mereka tidak bersalah," lirih Alvino menyesal atas apa yang terjadi. 


"Lalu apakah aku harus melampiaskan kekecewaan ini pada anda?" tanyanya sambil menyeringai.


"Kalau itu bisa membuat kamu puas. Aku tidak keberatan," jawab Alvino tanpa ragu. 


"Baiklah, jika itu kemauan anda." Jonathan mengangkat senjata yang di arahkan pada Alvino. 


"Jo! Berani kau lukai tuan muda, aku yang akan memb*nuhmu dengan tanganku sendiri!" bentak Andri emosi. 


Jonathan kini mengarahkan bidikan pistolnya ke arah Andri. "Jadi lebih baik kau yang ku musnahkan dulu," ujarnya tanpa beban. 


"Stop, Jo. Lakukan saja padaku!" timpal Alvino yang tidak ingin ada lagi pertengkaran antara kedua orang itu. 


"Tidak, Tuan. Saya yang akan menggantikan posisi anda," ucap Andri yang tidak rela jika tuan mudanya terluka. 


"Cukup! Sepertinya kalian sangat saling menyayangi. Bagaimana jika aku memberikan anda penawaran, Tuan Alvin?" 


"Penawaran apa?" tanya balik Alvino dengan cepat. 


"Berikan Wild Wolf beserta markas ini padaku," ujarnya dengan santai. 

__ADS_1


Alvino terdiam sejenak, mencoba menimang keputusan agar mendapatkan jalan yang terbaik. Namun, melihat diamnya sang pewaris klan tersebut membuat Jonathan geram. Pria itu tanpa basa-basi langsung membidik salah satu anggota pada kakinya. 


"Baiklah! Ambil markas ini dan nama klan yang di dirikan oleh ayahku. Asal kau mau mengakhiri ini semua," ujarnya dengan tegas. 


Tidak ada pilihan lain untuknya menolak permintaan dari mantan tangan kanannya itu. Meski berat untuk memberikan hak tersebut pada Jonathan, akan tetapi perbuatan nekat pria itu membuatnya mengambil keputusan dengan terpaksa. 


Alvino tidak mau lagi jika akan ada korban yang berjatuhan hanya karena keegoisan dan ambisi Jonathan yang sudah melampaui batas. 


"Bagus. Anda mengambil keputusan yang tepat." Jonathan kembali memasukkan senjatanya ke saku jaket. 


"Tapi aku memiliki syarat untukmu," ujar Alvino. 


"Aku tidak memberikan anda kesempatan untuk bernegosiasi, Tuan. Jadi pergilah! Bawa semua anggotamu dari sini," jawab Jonathan dengan sombong. 


"Beri aku waktu untuk membereskan kekacauan yang kau buat, Jo. Aku harus mengurus semua korban kejahatanmu," timpal Alvino tetap mengajukan syarat. 


"Baik. Kuberi waktu satu hari untuk membereskan para bedeb*h ini. Setelah itu, tinggalkan markas milikku!" Jonathan akhirnya pergi dari tempat itu membawa semua anggota yang mendukung pengkhianatannya. 


"Bereskan m*yat rekan kita, antarkan mereka pada keluarganya dan berikan dispensasi atas kemat*an para anggota kita. Jangan sampai keluarga yang di tinggalkan mengalami kesusahan," ujar Alvino tegas, seraya menatap sedih pada mereka yang mengorbankan nyawa demi membelanya. 


"Andri, berikan perawatan terbaik untuk mereka yang terluka. Aku tidak ingin mendengar salah satu dari mereka terlantar!" perintah Alvino sebelum melenggang pergi. 


Sebenarnya Alvino pergi dari tempat itu bukan karena tidak mau ikut mengurus para anggota. Dia hanya merasa gagal sebagai pemimpin karena tidak dapat melindungi anak buahnya dengan baik. 


Alvino memutuskan untuk kembali ke mansion. Pikirannya sudah tidak bisa di kendalikan saat ini. Rasa kecewa dan marah pada diri sendiri membuat dirinya sendiri tidak berguna. 


Suara dentuman pintu yang di banting dengan keras terdengar. Alvino melampiaskan kekecewaan itu di kamar miliknya. Pikiran serta hatinya sedang benar-benar kacau saat ini. Selain merasa tidak pantas untuk menjadi suami Syifa, Alvino juga menyesali kejadian yang baru saja terjadi. 


"Mungkin jika aku tidak membubarkan wild wolf, Jonathan tidak akan berbuat seperti ini. Aku memang lemah dan tidak berguna!" seru Alvino seraya menjatuhkan diri di ranjang besarnya. 

__ADS_1


Tanpa melepaskan pakaiannya, Alvino terlelap di ranjang. Pria itu terlalu penat dengan semua takdir yang terjadi padanya selama ini. Entah kenapa saat merasa tertekan, sekarang Alvino justru selalu mengatasinya dengan beristirahat.  


"Bang Vino," 


Suara yang begitu lembut terdengar di kedua sisi telinganya di susul oleh rasa nyaman ketika ada tangan yang mengelus kepalanya, memainkan rambut ikal miliknya yang kini sedikit lebih panjang dari biasa. Kedua mata pria itu mengerjap perlahan hingga samar-samar melihat wajah cantik yang berada di atasnya, seketika matanya membelalak sempurna saat menyadari wajah itu milik perempuan tercinta dan kepalanya sedang berada di pangkuan perempuan tersebut. 


"Fana." Alvino berniat bangkit dari posisinya, akan tetapi tangan yang masih berada di kepalanya itu menahannya. 


"Bang Vino istirahat saja, Fana akan menemani disini," ujarnya dengan sangat lembut. 


Tangan mungil itu bahkan masih bermain-main di atas kepalanya. Menyugar rambut ikal miliknya yang sudah dua hari tidak tersentuh air. 


"Rambut saya bau, Fana. Nanti tangan kamu kotor," ucapnya melarang si perempuan. 


Tawa ringan terdengar indah di kedua telinga si pria. Alvino sampai terpaku ketika mendengar tawa yang berasal dari bibir tipis istri kecilnya. Sadar sedang di perhatikan oleh si pria, perempuan itu menghentikan tawanya. Kini tawa ringan itu berganti dengan senyum hangat yang semakin mempercantik wajah si perempuan. 


"Rambut Bang Vano wangi, kok! Fana suka sekali," ujarnya begitu selesai dengan tawanya. 


"Fana, kamu cantik, dan ternyata semakin cantik saat tertawa." Tangan si pria terulur hingga menyentuh wajah yang masih berada di atasnya, membelainya penuh kasih. "Saya bodoh sekali karena menyia-nyiakan kamu, Fana. Mulai saat ini, saya janji akan selalu menjaga kamu," ujarnya disertai senyum tipis.


"Kalau benar seperti itu, kejar dia! Jangan malah asik tidur-tiduran di ranjang. Kamu pikir dengan bermimpi, Syifana akan kembali padamu?" 


Suara itu menyentak seorang pria dari mimpi indahnya. Terkejut dengan lantangnya suara yang memenuhi pendengarannya, Alvino sampai berdiri seketika. Namun, karena kesadarannya belum kembali membuat tubuhnya limbung dan akhirnya terjatuh ke lantai. 


"Awh," pekik Alvino saat bok*ngnya mencium lantai dingin. 


Bersambung… 


Hay, Gays. Author mau rekomendasikan novel keren punya Kakak author, Nih. Di jamin keren,deh! kuy mampir ke novel Santi Suki dengan judul Bidadari Yang Diabaikan.

__ADS_1



__ADS_2