Dendam Cinta Tuan Alvin

Dendam Cinta Tuan Alvin
Serangan dadakan


__ADS_3

Alvino baru saja pulang ke mansion setelah berusaha mengejar ayah mertuanya. Meski hanya kegagalan yang dia dapatkan, akan tetapi pria itu berniat menyembunyikan hal itu dari Syifana. Namun, ketika pria gagah itu membuka pintu kamar utama, dia di kejutkan dengan teriakan sang istri. Dia bergegas masuk untuk memeriksa hal apakah yang membuat istrinya itu histeris. 


Akan tetapi yang dia dapatkan sang istri masih terbaring di ranjang dengan mata terpejam. Anehnya meski perempuan itu dalam keadaan tidur, mulutnya tidak henti berteriak memanggil ayah. 


"Fana, bangun!" Alvino berusaha membangunkan istrinya. 


"Ayah, jangan tinggalin Syifa, Yah. Syifa janji enggak akan membangkang ayah lagi," racau Syifana, perempuan itu terus saja mengigau memanggil ayah. 


"Fana! Bangun." Alvino menggoyangkan tubuh Syifana pelan. 


Usaha Alvino belum juga mendapatkan hasil, istrinya masih terus mengigau. Keringat dingin mulai mengucur deras di dahi perempuan tercintanya itu. Alvino beberapa kali menyeka peluh yang membasahi wajah cantik sang istri. Namun, Syifana belum juga bangun.


Akhirnya dengan terpaksa sang suami mengguncang tubuh istrinya lebih keras. Alvino juga beberapa kali menepuk pipi Syifana agar sang istri segera bangun. 


"Ayah!" Akhirnya Syifana membuka mata setelah sekian lama Alvino berjuang untuk membangunkan perempuan itu. 


Saat kedua matanya terbuka, pandangannya berkeliling untuk memeriksa dimana dia saat ini berada. Napasnya masih memburu, seperti baru saja mengikuti lomba lari. Perempuan itu menghela napas panjang saat sadar bahwa dia sedang berada di kamar. 


"Kamu mimpi buruk?" tebak Alvino yang kini duduk di samping istrinya, pria itu mengambil segelas air putih lalu memberikannya pada Syifana. 


Syifana menerima uluran gelas berisi air putih dari Alvino lalu meneguknya hingga tandas. Wajahnya masih terlihat ketakutan, untuk menenangkannya, dia memberikan elusan lembut di punggung sang istri. 


"B-a-ng. Ayah–," 


"Sudah, jangan terlalu di pikirkan. Itu hanya bunga tidur, Fana. Ayah baik-baik saja," ujarnya berusaha menenangkan sang istri. 


Perlahan-lahan Alvino menarik Syifana ke dalam pelukannya. Si istri hanya menurut, bersandar di dada bidang suaminya. Perempuan itu mendongak untuk menatap wajah tampan sang suami. "Bang, antar Fana ke rumah ayah," pintanya dengan menatap suaminya penuh harap. 

__ADS_1


Senyum tipis terbit di bibir pria yang tengah memeluk erat istrinya itu, lalu dengan senang hati Alvino mengangguk. "Mau kesana sekarang, atau kamu mau mandi dulu?" tanyanya sambil mengendus aroma tubuh istrinya. "Kamu kenapa bau kucing, Fana?" lanjutnya sambil memicingkan sebelah matanya. 


Syifana melepaskan pelukan hangat suaminya. "Tentu saja aku bau kucing, suamiku menyiapkan binatang peliharaan kesukaanku sebanyak itu. Memangnya siapa yang mau mengurus mereka kalau bukan aku?" sindirnya dengan lirikan mata serta bersedekap dada. 


Gemas dengan tingkah istrinya itu, Alvino mengacak rambut panjang Syifana hingga si perempuan berteriak kesal seraya berusaha menyingkirkan tangan kekar sang suami dari puncak kepalanya. 


"Abang, rambut Fana jadi berantakan, 'kan! Ish, menyebalkan." Syifana cemberut, akan tetapi kembali merapikan surai hitamnya menggunakan jari-jari ketika sang suami sudah menghentikan kegiatan itu. 


Alvino tertawa ringan saat melihat sang istri yang cemberut. Bibirnya yang terlipat membuatnya semakin menggemaskan. Ide jahil tiba-tiba muncul di otak pintar pria itu. 


 


"Kamu sengaja memancing saya, Fana?" tanya Alvino, mata pria itu masih saja tertuju pada bibir sang istri. 


"Apa, sih, Bang? Mancing, emangnya Bang Vino ikan pakai di pancing segala?" tanya balik Syifana dengan bibir mencebik. 


"Coba aja kalau bisa, Bang. Bibir Fana ini enggak mudah buat di dapetin," tantangnya bergurau. 


Sayangnya Alvino tidak menganggap tantangan itu sebagai candaan. Pria itu dengan cepat menyerang bibir sang istri, Syifana sedikit terkejut dengan serangan tiba-tiba sang suami. Perempuan itu masih terdiam, dengan tatapan mata yang tertuju pada hidung mancung suaminya. 


Merasakan respon yang tidak buruk berupa penolakan dari Syifana, akhirnya Alvino memberanikan diri untuk ******* bibir itu pelan-pelan. Namun, ciuman itu semakin lama semakin dalam, Syifana bahkan memejamkan matanya dengan tangan yang memegang lengan sang suami.


Tidak kuat lagi untuk bertahan dari serangan suaminya yang semakin brutal itu, Syifana sampai menepuk dada bidang Alvino beberapa kali. Berharap ciuman itu akan terlepas. Si suami yang baru sadar bahwa istrinya itu hampir kehabisan oksigen langsung melepaskannya. 


"Maaf." Alvino sedikit menjauhkan diri dari istrinya. 


Syifana tidak menjawab permintaan maaf dari Alvino. Perempuan itu masih berusaha mengatur napasnya yang memburu. Hingga hampir lima menit barulah dia merasa lebih baik, deru napasnya mulai teratur. 

__ADS_1


Suasana yang awalnya terasa hangat seketika berubah canggung. Keduanya sibuk dengan isi pikirannya masing-masing. Syifana yang masih berusaha mengendalikan degup jantungnya yang terasa berdebar lebih cepat dari biasanya, sedangkan Alvino yang merasa tidak enak, selain itu dia juga takut jika istri tercinta kembali merasakan trauma karena serangannya itu. 


"Em, Fana mandi dulu aja, yah, Bang. Bulu-bulu kucing tadi pasti masih banyak yang tertinggal di pakaian Fana," pamitnya dengan perasaan campur aduk. 


"Hem. Saya tunggu di bawah saja," jawab Alvino sanksi. 


Syifana langsung melarikan diri ke kamar mandi, perempuan itu bahkan lupa membawa handuk ataupun pakaian miliknya. Debaran di dada membuat dia melupakan segalanya. Saat ini hanya ingin bersembunyi agar debaran jantungnya tidak terdengar oleh pria yang sudah menikahinya itu. 


Alvino segera beranjak keluar dari kamar utama yang mulai saat ini akan dia tempati bersama istri tercinta. Dia juga perlu ruang dan waktu untuk mengendalikan perasaannya yang kini penuh kebahagiaan. 


Di dalam kamar mandi, Syifana menyandarkan punggungnya di pintu. Tangannya memegang dadanya yang terasa berdegup sangat kencang. 


"Ah, kalau Bang Vino seperti itu terus. Aku bisa terkena serangan jantung mendadak," gumamnya dengan pipi yang memerah, ketika mengingat kejadian yang baru saja terjadi. 


Cukup lama perempuan muda itu berusaha menguasai diri yang sempat oleng tadi. Syifana tersenyum tipis sambil menyentuh bibirnya. 


"Sepertinya aku benar-benar sudah mencintai suamiku," ujarnya malu-malu, padahal dia sedang sendirian. Namun, raut wajahnya berubah seketika saat mengingat sesuatu. "Andaikan saja calon anak kami masih berada disini, kebahagiaan kami pasti terasa lebih sempurna." Syifana beralih memegang perutnya seraya tersenyum kecut. 


Menunggu sekian lama, akan tetapi sang istri tak kunjung datang, akhirnya Alvino memutuskan untuk menyusul perempuan tersebut. Pria itu mengedarkan pandangan, kamar utama terlihat kosong tanpa seorangpun disana. Pintu kamar mandi tertutup rapat, akan tetapi tidak ada suara gemericik air dari dalam sana. 


Khawatir jika ada sesuatu yang terjadi pada istrinya, Alvino segera melangkah menuju kamar mandi. Pria gagah itu mengetuk pintu dengan pelan untuk memeriksa apakah sang istri baik-baik saja. 


Ketukan pintu menarik paksa Adeline dari lamunannya tentang sang calon keturunan yang kini sudah menjadi bunga di surga. Buru-buru Syifana menyeka air mata yang membasahi pipinya. 


"Fana, are you oke?" tanya Alvino dari luar sana. 


Bersambung...

__ADS_1



__ADS_2