Dendam Cinta Tuan Alvin

Dendam Cinta Tuan Alvin
Mama Seren


__ADS_3

"Mam, aku kira ke kamar utama," ujar Alvino seraya melepaskan tangan Syifana yang di genggam olehnya.


Wanita paruh baya itu tidak memperdulikan ucapan sang putra. Dia justru menghampiri perempuan yang masih membelakanginya. Ketika melihat wajah pucat sang menantu, Mama Seren terkejut. Wanita itu langsung mengulurkan tangan untuk memeriksa kening menantunya.


"Ya ampun, badan kamu panas sekali!" seru wanita itu dengan lantang.


Wanita itu menatap tajam Alvino yang berada di samping Syifana. "Kau tidak becus sekali jadi suami! Persis dengan Papamu itu."


Rasa kesal pada sang putra membuat wanita itu mengingat bagaimana dulu suaminya juga tidak pernah memberinya perhatian. Pria yang dia cintai dengan tulus itu hanya memberinya gelar istri dan harta berlimpah, tanpa secuilpun kasih sayang.


Sementara perempuan yang berstatus istri Alvino itu hanya diam mematung. Rasa tidak percaya bahwa wanita yang kini memberikan perhatian padanya itu adalah ibu kandung suami kejamnya.


Mama Seren menggandeng lengan perempuan yang masih diam saja dengan tatapan kosong itu, dengan perlahan membawa perempuan yang berstatus menantu satu-satunya itu ke kamar utama. Syifana hanya mengikuti langkah sang mertua.


Alvino mengikuti kedua wanita itu di belakang. Rasa cemasnya hilang seketika, dia yang awalnya mengira bahwa sang ibu akan memarahi perempuan yang menjadi istrinya itu, atau bahkan lebih parahnya lagi tidak memberi restu pada mereka.


Ternyata sang ibu justru memperlakukan sang istri dengan baik, penuh perhatian dan kasih sayang.


Ketika memasuki kamar utama yang berukuran luas itu, Syifana menghentikan langkah. Rasa takut kembali menguasai dirinya, bayangan sang suami meruda paksa dirinya kembali membuatnya ketakutan.


"Ayo, Sayang, tidak apa-apa." ujar Mama Seren yang melihat raut wajah ketakutan di wajah pucat sang menantu.


Perempuan muda itu menggeleng. Dia berniat membalikkan tubuhnya untuk keluar dari kamar tersebut. Namun, Mama Seren menggenggam erat jemari sang menantu yang terasa sangat dingin.


"Tidak apa-apa, percaya sama Mama!" seru wanita itu ketika Syifana memandangnya dengan tatapan memelas.


Namun, perempuan itu benar-benar menolak untuk tetap berjalan masuk ke dalam kamar utama yang terlihat megah dan mewah.

__ADS_1


Kini Mama Seren menatap Alvino dengan curiga. Dia begitu hafal dengan sifat tempramental sang putra, apa lagi setelah di tolak mentah-mentah oleh Ara. Anaknya itu bahkan sampai mengalami depresi, yang saat inipun belum sembuh total.


"Baiklah, Mama tidak akan memaksa kamu. Kamu tidak mau berada di tempat ini, lalu mau dimana?" tanya wanita itu dengan lembut.


"F-fana ingin ke kamar Fana sendiri," ucap Syifana dengan lirih.


"Okey, Mama antarkan kamu ke kamar kamu. Ayo!"


Syifana membalikkan tubuhnya, perempuan itu seketika menundukkan pandangan ketika melihat ternyata sang suami tepat berada di belakangnya. Rasa takut semakin memenuhi jiwa perempuan itu.


Peka dengan reaksi menantunya yang terlihat sangat ketakutan dengan adanya Alvino. Mama Seren segera membawa sang menantu melangkah dengan tetap menggandeng perempuan tersebut.


Sementara Alvino langsung merasakan hawa tidak enak. Pria itu yakin bahwa setelah ini, sang ibu akan mengintrogasi dirinya habis-habisa. Ketika pria itu kembali akan mengikuti melangkah, Mama Seren menghentikan langkah Alvino dengan isyarat tangan. Alvino terpaksa menuruti perintah sang ibu.


Wanita paruh baya itu menuntun sang menantu untuk masuk ke dalam kamar yang berada tepat berhadapan dengan kamar utama. Kamar yang cukup besar, yang sering dia gunakan ketika menginap di mansion sang putra.


"Kamu mau kemana, Sayang?" tanya Mama Seren dengan sabar.


"Ka-kamar Fana ada di lantai dua," ungkap Syifana jujur.


Wanita paruh baya itu mengangguk, kembali menuntun sang menantu untuk turun ke lantai dua mansion. Wanita paruh baya itu masih mengira bahwa sang menantu mungkin menempati kamar tamu di lantai dua. Akan tetapi, dia begitu syok ketika menantunya itu justru melangkah menuju sebuah ruangan yang dulu digunakan untuk menyimpan koleksi senjata pribadi sang putra.


Syifana membuka pintu kamarnya, lalu perlahan masuk ke dalam ruangan itu masih tetap dengan di gandeng oleh Mama Seren. Wanita paruh baya itu membulatkan mata ketika melihat tempat itu sudah berubah menjadi sebuah kamar sederhana. Hanya ranjang berukuran kecil dan lemari kayu yang menjadi satu-satunya benda yang menghiasi ruangan itu.


Mama Seren berusaha mengendalikan amarah yang kini menguasai dirinya dengan menghembuskan nafas perlahan. Wanita itu tersenyum ketika sang menantu memandangnya dengan senyum tipis.


"Maaf, Bu, tapi Fana lebih nyaman berada di tempat ini."

__ADS_1


"Tidak apa-apa, Sayang. Kamu panggil Mama, yah!"


Syifana mengangguk pelan. Masih belum menyangka bahwa wanita yang kini ada di hadapannya begitu sangat menyayangi dirinya meski baru pertama bertemu.


"Kamu istirahat, yah! Mama akan suruh bibi untuk buatkan teh jahe untuk kamu." Wanita paruh baya itu kembali menuntun sang menantu menuju ranjang.


Mama Seren membantu sang menantu untuk berbaring, dengan lembut dia menyelimuti menantunya itu dengan selimut ada di sana. Hanya sebuah selimut tipis yang menjadi teman tidur perempuan itu.


Rasanya Mama Seren ingin segera memberi pelajaran pada putranya yang sangat keterlaluan. Aldev bahkan lebih kejam dari papanya. Jika dulu dia hanya kekurangan kasih sayang, berbeda dengan sang menantu yang bahkan terlihat seperti pembantu di mansion suaminya sendiri.


"Mama tinggal sebentar, yah! Fana istirahat saja dulu." Wanita itu mengelus dengan sayang pucuk kepala sang menantu.


Mama Seren berjalan untuk segera keluar dari kamar sederhana yang lebih cocok di gunakan oleh pembantu dari pada nyonya besar mansion itu. Ketika membuka pintu, di depan pintu sana Alvino berdiri menghadap ke arah pintu masuk.


"Temui Mama di taman depan, banyak yang harus kamu jelaskan, Al!"


Wanita paruh baya itu berjalan meninggalkan sang putra yang saat ini seperti patung seorang diri. Mama Seren menuruni tangga hingga sampai di lantai dasar. Dia berjalan menuju dapur untuk memerintahkan pembantu untuk membuatkan teh jahe hangat untuk sang menantu.


Begitu selesai dengan urusannya, Mama Seren segera menuju taman depan. Dia semakin dongkol ketika melihat di taman itu tidak ada siapapun. Putranya itu belum sampai di sana seperti perintahnya.


Wanita paruh baya itu memutuskan untuk duduk di sebuah kursi taman. Menatap ke arah bunga-bunga yang bermekaran. Mama Seren kembali teringat dengan raut wajah ketakutan menantunya itu. Dia merasa gagal dalam mendidik putranya untuk menjadi suami yang baik.


Tidak terasa cairan bening lolos dari kedua sudut mata Mama Seren. Sebagai seorang wanita, dia juga sangat paham dengan ketakutan yang di tunjukkan oleh sang menantu. Dia paham betul bahwa rumah tangga putra semata wayangnya tidak sedang baik-baik saja.


"Mam,"


Suara itu membuat wanita yang sedang menangis menoleh ke arah sumber suara. Tatapan tajam dia hadiahkan untuk pria yang tengah berdiri di belakang punggungnya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2