
Jadwal mengunjungi makam ibu Salma di majukan karena Syifana terus merengek pada mertuanya. Perempuan itu bahkan mengancam akan pergi sendiri jika mertuanya tidak mau mengantarkan dirinya.
Dengan terpaksa Mama Seren mengantarkan menantu satu-satunya itu ke tempat pemakaman umum. Mereka hanya di antara oleh satu pengawal yang juga merangkap profesi sebagai sopir pribadi Mama Seren.
Wanita paruh baya itu menatap sang menantu yang tengah berlutut di atas pusara ibunya. Sejak tadi, tidak ada satupun kata yang terucap dari bibir perempuan muda itu.
Mama Seren bahkan merasa heran karena sang menantu hanya diam di tempat dengan tangan terus mengelus papan nisan bernama Salma itu.
Isak tangis pilu Syifana terdengar, sejak tadi Mama Seren menunggu apa yang akan di lakukan oleh perempuan itu di atas pusara sang ibu. Kini wanita paruh baya itu sudah mendapatkan jawabannya.
Perempuan muda yang sudah berstatus seorang istri di usia muda itu hanya ingin menangis tanpa berucap apapun yang ingin di sampaikan kepada sang ibu yang sudah tiada.
Mama Seren mengelus lembut punggung bergetar Syifana. "Sudah, Sayang?" tanya wanita itu dengan sangat lembut.
__ADS_1
"Sudah, Mah, terima kasih." Syifana bangkit dari posisinya.
Mama Seren dengan sigap menggandeng sang menantu, wanita paruh baya itu sudah dapat menyimpulkan bahwa sang menantu ingin mengunjungi makam ibu kandungnya hanya karena merindukan sosoknya, bukan untuk mengadu tentang apapun yang kini terjadi padanya.
Kedua wanita berbeda generasi itu terus berjalan, menyusuri deretan bukit-bukit kecil yang di dalamnya berisi jasad-jasad manusia tidak bernyawa.
Saat sudah sampai di dekat mobil, pengawal dengan sigap membuka pintu untuk kedua majikannya. Menantu dan mertua itu masuk ke dalam mobil bergantian.
Sorot mata perempuan muda itu masih sangat nampak bahwa dia masih ingin menangis. Mama Seren langsung menarik sang menantu untuk bersandar di bahunya agar perempuan itu dapat istirahat selama perjalanan.
Syifana yang memang masih belum sehat dan dalam keadaan sangat kelelahan, fisik dan batin tertidur lelap ketika dalam perjalanan pulang.
Rasa bersalah kini memenuhi jiwa Mama Seren. Sang menantu mengalami hal mengerikan akibat dari kekejaman alvino yang hanya menjadikan perempuan itu sebagai pelampiasan dendamnya.
__ADS_1
Mama Seren berharap suatu saat nanti Alvino akan mendapat ganjaran yang setimpal atas perbuatannya sendiri. Meskipun pria itu adalah anaknya, akan tetapi Mama Seren tidak dapat mentorerir kesalahan yang di lakukan.
"Maaf, Fana, Mama janji, Mama akan bantu kamu untuk bangkit kembali. Mama juga akan pastikan Alvino akan menyesal dengan semua yang dia lakukan kepada kamu," gumam wanita paruh baya itu mengelus Surai hitam sang menantu yang bersandar di bahunya.
"Del, kau sudah pastikan pskiater yang akan memeriksa Syifana datang tepat waktu, kan?" tanya wanita paruh baya itu memastikan.
"Iya, Nyonya. Saya sudah membuat janji dan setelah ini saya sendiri yang kan menjemputnya untuk datang ke mansion," jawab pria yang tengah menyetir mobil mewah itu.
Mobil itu terus berjalan menyusuri jalan, Syifana masih tetap terlelap dalam dekapan erat Mama Seren. Beruntung perempuan itu memiliki mertua yang sangat menyayanginya layaknya anak kandung. Jika saja sang mertua justru ikut jahat padanya, entah akan jadi apa perempuan berusia 18 tahun itu.
Mobil yang awalnya melaju dengan normal tiba-tiba mengerem mendadak. Mama Seren dengan sigap memegang Syifana agar tidak jatuh. Namun, Syifa tetap terbangun, kedua wanita itu langsung menatap ke depan, sebuah mobil fan menghalangi jalan mereka.
"Kamu cek siapa yang berani mencari masalah denganku, Del!"
__ADS_1
Bersambung...