
"Abang mau kemana lagi?" tanya Syifana ketika melihat sang suami kembali meraih kunci mobil yang tergeletak di atas nakas.
"Orang yang menolongku sekarang kritis, Fana. Aku harus segera kesana," jawab Alvino dengan mimik wajah cemas.
Syifana tersentak ketika mendengar jawaban sang suami. Laki-laki dewasa itu belum sempat menjelaskan apapun, tetapi langsung pada poin penting dari kejadian tersebut.
"Fana ikut, boleh?" tanya Syifana ragu-ragu.
"Ayo!"
Mereka berdua akhirnya berangkat ke rumah sakit. Di sepanjang perjalanan Syifana beberapa kali melirik sang suami yang benar-benar terlihat cemas dan khawatir.
"Bang," panggil Syifana dengan lirih.
Alvino menoleh sejenak lalu kembali fokus pada jalan di depan. "Kamu pasti penasaran kejadian apa yang sudah terjadi, 'kan?"
"Boleh Fana tahu?"
"Temen masa perkuliahanku kemarin datang, dia meminta pekerjaan di perusahaan kita, Sayang. Aku tidak tega karena dia seorang janda yang memiliki dua anak. Tetapi ternyata dia memiliki permasalahan dengan mantan suaminya. Kedua anaknya diculik, terpaksa aku membantu dia untuk mencari anak-anak itu."
"Terus gimana bisa dia terluka, Bang?"
__ADS_1
"Perutnya tertusuk oleh orang suruhan mantan suaminya, Sayang. Awalnya mereka mengincar ku, tetapi Sintia dengan cepat menarikku hingga dia sendiri yang terluka."
"Ya ampun. Suaminya jahat sekali," sahut Syifana tidak menyangka.
Perbincangan mereka terhenti ketika mereka sudah sampai di rumah sakit. Dengan tangan yang saling menggandeng mereka berjalan melewati lorong-lorong rumah sakit.
Di depan ruang rawat Sintia seorang pria yang sudah dipercayai oleh Alvino setia menunggu. Andri langsung bangkit ketika melihat kedatangan sang atasan.
"Tuan muda, Nyonya muda."
"Bagaimana keadaan Sintia?" tanya Alvino tanpa basa-basi.
"Ndri, bawa separuh anggota kita untuk menyelamatkan anak-anak Sintia. Aku tidak mau mereka juga menjadi korban nantinya," perintah Alvino kepada sang sekretaris.
"Baik, Tuan. Segera saya lakukan perintah anda," jawab Andri patuh.
Andri bergegas pergi meninggalkan tuan dan nyonya mudanya. Pria itu harus segera menyelesaikan misi yang diberikan oleh sang tuan muda sebelum terlambat.
Selepas kepergian sang sekretaris Alvino menuntut sang istri untuk duduk di kursi tunggu. Pikirannya kini sedang kacau karena mengkhawatirkan keadaan Sintia serta anak-anak wanita itu yang entah sekarang bagaimana kabarnya.
"Bang Vino, jangan pernah tinggalkan mereka. Bantu mereka semampu kamu, Bang. Kasihan mereka harus hidup dalam ancaman," ujar Syifana yang di angguki oleh Alvino.
__ADS_1
*****
Andri dan beberapa anggota yang dibawa kini tengah menyusuri hutan yang diberitahukan oleh Alvino. Mereka berpencar untuk mencari keberadaan pria jahat yang bahkan rela menyakiti orang-orang terdekatnya.
Tidak membutuhkan waktu yang lama salah satu regu yang menyebar dapat menemukan sebuah rumah yang berada di tengah hutan tersebut. Mereka yakin bahwa korban penculikan disembunyikan di dalam rumah tersebut.
Dengan rencana dan strategi yang matang dibawah pimpinan Andri mereka berhasil masuk ke dalam rumah tersebut.
"Wah-wah-wah. Ada tikus yang menyusup ke gubugku ternyata."
Suara itu menghentikan langkah Andri. Pria kepercayaan Alvino itu membalik tubuhnya. Tatapan tajam dari kedua pria itu bertemu. Mereka saling menebar aura permusuhan yang kuat.
"Lepaskan anak-anak Nona Sintia!"
Pria itu meludah ke samping lalu tertawa menggelegar. "Memangnya kau siapa berani memerintah ku?" tanyanya dengan sinis.
"Tidak penting siapa aku. Yang jelas lepaskan mereka sebelum kau menyesal."
Lagi-lagi suara tawa itu terdengar. Sepertinya ancaman dari Andri sama sekali tidak berarti untuk laki-laki yang duduk di atas kursi kayu di depan sana. Terbukti dia masih santai menghisap rokok ditangannya.
"Bilang pada bosmu, jangan ikut campur urusanku jika tidak mau keluarganya terusik."
__ADS_1