
Alvino tengah berada di ambang kebingungan. Setelah mendengar sendiri penjelasan dokter yang memfonis bahwa kemungkinan Syifana akan susah untuk memiliki keturunan lagi. Pria itu merasa sangat terpukul dengan apa yang saat ini terjadi pada istri kecilnya.
Meski merasa lega karena berhasil bertemu kembali dengan perempuan yang telah merebut hatinya itu, akan tetapi rasa bersalah kini memenuhi hati pria itu. Banyak sekali rasa sesal yang membuatnya membenci diri sendiri.
Begitu juga dengan Reiner, pria itu merasa sangat bersalah karena gagal dalam menjaga Syifana. Niat hati ingin melindungi perempuan itu dari kekejaman suaminya sendiri, kini justru membuat perempuan itu justru kehilangan janin yang baru di kandungnya.
"Bodoh kau, Rei! Kenapa bisa lengah seperti ini? Gara-gara kamu, Syifana kehilangan anaknya."
Ara memegang bahu sang kakak, memberikan elusan lembut disana agar kakaknya itu merasa lebih tenang. "Rei, semua sudah terjadi. Syifana pasti tidak akan menyalahkan kamu atas apa yang terjadi sekarang," ujarnya berusaha menenangkan.
"Kak, semua ini bukan kemauanmu. Ini semua kecelakaan, sudah takdir Tuhan. Akan seperti apapun kita menjaganya, jika Tuhan berkenan mengambilnya, kita hanya bisa mengiklaskan. Aku yakin, Syifa akan mengerti," timpal Ali.
__ADS_1
Meskipun dia juga merasa tidak tega dengan nasib sang adik yang malang, akan tetapi dia juga tidak mampu berbuat apa-apa. Semua sudah di gariskan oleh sang pemilik kehidupan.
Sementara itu, Alvino berjalan dengan langkah besarnya. Wajahnya terlihat menyimpan amarah yang begitu besar terhadap seseorang. Hingga ketika dia sampai di hadapan seseorang yang menjadi alasan amarahnya saat ini, dia tanpa basa-basi memukul wajah pria itu.
"Puas kau, Rei? Ini semua terjadi karena ulahmu. Jika saja kau tidak membuat drama penculikan itu, istriku tidak mungkin mengalami hal ini."
Reiner sama sekali tidak berniat membalas. Pria itu cukup sadar atas kesalahannya yang fatal kali ini. Berbeda dengan Ara yang kini menghalangi tangan Alvino yang berniat kembali meluncurkan pukulan.
Alvino menyentak kasar tangan Ara yang menahan tangannya. "Kamu jangan ikut campur, Bee! Karena ulah kakakmu, Syifana akan susah memiliki keturunan."
Semua orang yang berada di tempat itu tercengang dengan penuturan Alvino. Awalnya mereka mengira Syifana hanya kehilangan bayinya, akan tetapi ternyata perempuan muda itu juga akan sulit untuk hamil lagi. Tidak terkecuali dengan seorang wanita paruh baya yang baru saja sampai di tempat itu.
__ADS_1
Botol mineral yang ada di genggamannya terlepas begitu saja saat mendengar ucapan sang putra tentang menantunya. Jika perempuan itu akan sulit memiliki keturunan, itu artinya diapun akan kehilangan kesempatan memiliki seorang cucu.
"Tidak mungkin!"
Alvino menoleh ke belakang, di lihatnya sang ibu berdiri mematung di tempatnya. Di bawahnya terdapat botol air yang pecah akibat terlalu keras saat terjatuh.
"Mama." Alvino segera mendekati wanita itu.
"Al, tidak mungkin, 'kan? Kamu pasti akan bisa memiliki keturunan nanti,"
"Mah, itu tidak penting. Bagi Al, kesehatan Syifana lebih penting. Tapi, bagaimana caranya menyampaikan masalah ini padanya, Mah?"
__ADS_1
"Aku yang akan memberitahu dia. Tapi setelah ini, jangan pernah tampakkan dirimu di hadapan putriku. Aku sendiri yang akan mengurus perceraian kalian," ujar seseorang yang baru saja datang.