
Syifana langsung menghubungi suaminya. Beberapa kali dia mencoba tetapi alvino belum juga menjawab telepon darinya. Entah suaminya itu memang sedang sibuk atau tidak mendengar bunyi ponselnya yang berdering nyaring.
"Bang, cepat angkat! Arina dalam bahaya."
Karena tidak mendapat respon apapun dari suaminya, Syifana memutuskan untuk pergi ke tempat yang sudah disebutkan oleh orang yang menghubunginya tadi. Wanita cantik itu sama sekali tidak menghiraukan keselamatan dirinya. Sekarang yang sedang ada di pikirannya hanyalah bagaimana caranya menyelamatkan sang anak.
Syifana semakin menginjak pedal gas semakin dalam saat pikiran buruk tiba-tiba menghampirinya. Beruntung meski dalam keadaan panik, dia sempat mengabari Reiner untuk meminta pertolongan.
Saat ini Syifana telah sampai di sebuah rumah yang dari luar sana tampak tidak terurus. Melihat itu Syifana tentu semakin mengkhawatirkan keadaan Arina. Gadis remaja itu pasti ketakutan di dalam sana sendirian.
"Arina sabar ya, ibu pasti akan berusaha menyelamatkan kamu," gumamnya pelan.
Ketika Syifana sedang berniat masuk ke tempat itu, tiba-tiba dari belakang ada seseorang yang membekap mulutnya menggunakan kain. Wanita itu berontak, akan tetapi tenaga orang di belakangnya terlalu kuat. Detik berikutnya Syifana kehilangan kesadaran.
*****
__ADS_1
Tidak lama berselang, Reiner juga sampai di tempat yang dikirim oleh Syifana. Laki-laki itu membawa beberapa pengawal yang siap bertempur demi melindungi keluarga tuan mudanya.
"Ini mobil Syifa, berarti benar mereka ada di sini."
Mereka semua bergegas masuk ke dalam rumah terbengkalai di depan sana. Reiner memimpin para pengawal untuk mencari keberadaan Syifana.
"Berpencar!" perintah Reiner tegas.
Para pengawal pun berpencar mengikuti instruksi yang diberikan oleh tuan muda mereka. Setiap tempat sudah digeledah oleh para pengawal yang berjumlah sepuluh orang itu. Namun, tidak ada seorangpun yang ditemukan di tempat itu.
"Argh! Sial. Mereka mengecoh kita!" teriak Reiner marah.
"Datang ke hutan larangan sekarang juga jika ingin istri dan putrimu selamat!"
"Kau siapa?" tanyanya membentak.
__ADS_1
Rahang tegas Alvino mengeras seketika saat mendapat ancaman tersebut. Laki-laki itu mengepalkan kedua tangan saat membuka kiriman Vidio dari nomor yang sama. Di Vidio tersebut tampak Syifana dan Arina sedang diikat di sebatang pohon besar. Di sekelilingnya terdapat bongkahan kayu yang sepertinya siap dibakar.
"Kurang ajar! Siapa yang berani mencari masalah denganku!"
Alvino bergegas menyusul sang putra yang tengah menunggu di ruangannya. Tanpa membuang waktu lagi, Alvino langsung membawa putranya itu ke lokasi.
"Ayah, ada apa sebenarnya? Kenapa kita buru-buru pergi dari kantor?" tanya David heran.
"Ada yang menculik Ibu dan Kak Arin. Nanti, kamu diam saja di dalam mobil! Biar ayah yang menyelamatkan mereka," ujar Alvino sambil terus mengendarai mobilnya.
Setelah menempuh perjalanan panjang melewati jalan berkelok menuju sebuah hutan, kini mereka telah sampai. Alvino datang seorang diri tanpa mengabari siapapun.
Alvino menghentikan laju mobilnya saat melihat sang istri dan putrinya terikat di satu batang pohon besar. Sebelum itu dia sudah berpesan kepada David untuk tetap berada di dalam apapun yang terjadi dan tidak boleh membuka kunci mobil itu sebelum semuanya dalam keadaan aman dan terkendali.
"Fana, Arin!"
__ADS_1
Kedua wanita tersayangnya itu masih dalam keadaan pingsan. Namun, dengan teganya orang yang menculik mereka mengikatnya dengan sangat erat. Melihat itu, amarah Alvino memuncak seketika.
Alvino berlari mendekati kedua wanita tersayangnya dan langsung berusaha membuka ikatan tali itu. Namun, belum usahanya belum berhasil. Tiba-tiba dari arah belakang terdengar suara tawa menggelegar