
Alvino menghela napas panjang setelah Gerry datang menyusulnya. Dia berniat untuk segera kembali ke mansion sebelum sang istri nekat keluar untuk mencarinya.
Kini yang menjaga Sintia adalah Gerry, sang sekretaris. Sementara itu, Alvino yang baru sampai di mansion bergegas masuk. Laki-laki itu langsung berjalan menuju kamar utama untuk mencari istrinya.
"Sayang," panggil Alvino sambil membuka pintu kamar.
"Masih ingat pulang?" tanya Syifana yang ternyata sedang duduk bersilang kaki di sofa.
Aura menakutkan menyebar di ruangan luas tersebut. Sorot mata Syifana benar-benar berhasil membuat bulu-bulu halus di tubuhnya berdiri seketika.
"Sayang," sapa Alvino dengan senyum ala iklan pasta gigi.
"Kamu masih ingat pulang, Bang?" tanya Syifana sekali lagi dengan ekspresi datar.
"Ingatlah, kan kamu yang minta." Alvino mengayunkan langkah untuk mendekati Syifana.
__ADS_1
"Oh, jadi kalau aku tidak minta kamu pulang, kamu tidak akan pulang?"
Alvino menggosok tengkuknya dengan mimik wajah bingung. Syifana yang sekarang benar-benar sudah berubah. Perempuan yang dulu penakut itu kini sudah semakin berani mengintimidasinya.
"Pulang, Sayang. Mana mungkin aku tidak pulang, nanti istriku tidur dengan siapa?" ujarnya sambil mendudukkan diri di ruang kosong samping Syifana.
Laki-laki dewasa itu melingkarkan tangannya di pinggang sang istri lalu berusaha mengecup pipi istrinya itu. Namun, dengan cepat Syifana menghindari. Perempuan muda itu bahkan berusaha melepaskan tangan sang suami yang memeluk pinggangnya dengan erat.
"Jangan pikirkan aku tidur dengan siapa. Yang penting kan kamu bisa tidur dengan istri barumu," ujarnya dengan sinis.
"Istri baru?" Alvino menautkan kedua alisnya bingung. "Aku tidak punya istri selain kamu, Sayang."
Syifana berjalan menuju ranjang lalu menjatuhkan dirinya di kasur empuk itu. Tangan kanannya terulur menggapai sebuah bingkai foto pernikahan mereka.
"Aku ikhlas jika Bang Vino mau menikah lagi, atau bahkan sudah menikah lagi. Fana sadar, Bang. Fana bukan wanita sempurna," tutur Syifana dengan nada lirih, setetes air mata jatuh ke bingkai foto yang buru-buru diusap dengan tangannya.
__ADS_1
Alvino segera bangkit dari tempatnya lalu berjalan cepat menuju tempat sang istri sedang duduk. Laki-laki dewasa itu kembali mendekap erat tubuh Syifana. Dia paham, istrinya akan kembali membahas perkara mereka yang akan sulit untuk memiliki keturunan.
"Fana, jangan mengatakan hal itu, plis. Aku mohon jangan pernah bahas itu lagi. Apapun keadaannya aku akan tetap mencintai kamu," jelas Alvino tanpa ragu.
Laki-laki yang dulu terkenal kejam dan penuh ambisi itu menangkup wajah istrinya. Menatap dalam-dalam kedua mata sang istri yang kini berembun. Dia yakin, sebentar lagi istrinya itu akan menangis.
"Percayalah. Aku benar-benar mencintai kamu, Fana. Aku sadar, dulu aku begitu bodoh sampai sempat menyakiti hati dan fisik kamu. Tapi aku janji, mulai saat ini kita akan selalu bersama."
Usai mengungkapkan perasaannya untuk meyakinkan perempuan di depannya ini Alvino melayangkan kecupan hangat di kening Syifana. Kecupan itu berlangsung hampir 5 menit, tidak hanya mengecup tetapi Alvino juga menghirup dalam-dalam aroma yang menguar dari tubuh sang istri. Begitu menenangkan jiwa dan raganya.
"Bang Vino tidak keberatan kalau Fana tidak bisa memberikan keturunan?" tanyanya dengan mimik wajah memelas.
"Ada atau tidaknya anak diantara kita, aku akan tetap mencintai kamu. Satu-satunya wanita yang berhasil membuat aku berubah menjadi lebih baik. Kamu percaya jika jodoh adalah cerminan diri kita sendiri? Aku sempat ragu karena aku merasa begitu buruk sebagai manusia, sedangkan kamu bagaikan seorang bidadari yang sangat suci. Alasan itulah yang membuatku ingin terus belajar menjadi baik," tutur Alvino dengan senyum manisnya.
"Lalu siapa nyonya yang di maksud orang tadi, Bang?"
__ADS_1
"Dia …."
Penjelasan Alvino terhenti saat ponsel di sakunya berdering. Laki-laki itu meminta izin untuk menerima panggilan itu lebih dulu sebelum menjelaskan semuanya kepada sang istri tercinta.