Dendam Cinta Tuan Alvin

Dendam Cinta Tuan Alvin
Ingin bicara


__ADS_3

"Baiklah, kalau keputusan kamu sudah bulat. Mama izinkan kamu tinggal disini, tapi dengan satu syarat," jelas Mama Seren.


"Syarat apa, Mah?" tanya Syifana heran.


"Mama akan tinggal disini bersama kalian!" jelasnya tanpa ragu.


Perempuan yang kini sudah tidak sepucat pertama kali di temui Mama Seren itu tersenyum simpul. Jika syaratnya hanya itu, dia justru akan dengan senang hati karena dapat mengurus suami sekaligus mertuanya dalam waktu dan tempat yang sama.


"Syifa setuju, Mah."


Mulai saat itu, Syifana benar-benar menetap di mansion sang suami. Namun, tidak hanya tinggal berdua dengan pria kejam itu, Mama Seren ikut tinggal di tempat yang sama dengan mereka.


Ketika pagi menyapa, Alvino baru saja sadar dari pingsannya. Pria itu pelan-pelan membuka mata, akan tetapi kedua matanya langsung terfokus pada selang infus yang tergantung di sampingnya.

__ADS_1


Pria itu mengikuti kemana selang infus itu berada, ternyata selang itu berhenti di tangan kirinya. Pandangannya kembali mengamati setiap penjuru, akan tetapi dia berada di kamar mewahnya.


Suara pintu yang terbuka mengalihkan perhatiannya, pria itu kembali mengalihkan pandangan ke arah pintu kamar. Dari sana muncul seorang perempuan yang hati ini terlihat sangat cantik sedang membawa sebuah nampan di kedua tangannya.


Meski sang pria dapat melihat ada gurat rasa takut dari perempuan tersebut, akan tetapi dia merasa lega karena dapat melihat perempuan itu kembali.


Lengkungan senyum tipis tercetak jelas di bibir sang pria. Perempuan yang masih berjalan mendekatinya perlahan membalas senyuman itu meski belum bisa tersenyum lepas. Masih ada rasa keterpaksaan di bibir si perempuan, akan tetapi si pria masih memaklumi apa yang menjadi respon istrinya tersebut.


Syifana menaruh nampan berisi sarapan untuk suaminya di atas nakas. "Bang Vino sudah sadar?" tanyanya penuh perhatian.


Bukan karena suaranya menghilang, akan tetapi Alvino berusaha membuat sang istri agar tidak ketakutan. Pria itu juga menahan diri saat batinnya memaksa untuk bangkit dan memeluk perempuan yang sudah menjadi istrinya tersebut.


"Syifana memang masih disini, tapi semua tetap dalam kendali Mama. Mama masih belum percaya bahwa kamu akan berubah, Al. Untuk mengakui kesalahanmu padaku saja kamu masih belum berani, kan?"

__ADS_1


Suara itu menyahut di susul oleh hadirnya seorang wanita paruh baya yang sedang mengipas dirinya dengan kipas tangan. Syifana mengurungkan niatnya untuk menjawab pertanyaan sang suami. Lagi pula sang mertua juga berada di tempat yang sama. Wanita itu yang akan menjawab semua pertanyaan Alvino yang menyangkut keberadaannya di tempat tersebut.


"Mah, Al pasti akan menjelaskan semuanya. Tapi beri Al waktu sebentar untuk berdua dengan istri Al," pinta sang putra kepada ibunya sendiri.


"Jangan harap, Al. Jika kamu belum mengakui semuanya, Mama tidak akan pernah membiarkan kalian hanya berdua. Mama tetap akan menjadi penjaga 24 jam untuk menantu Mama," tolak wanita paruh baya itu dengan mantap.


Syifana menatap Alvino yang terlihat sangat tertekan. Dia khawatir jika suaminya itu akan kumat lagi seperti yang di jelaskan oleh Andir, bahwa sang suami tidak bisa mengendalikan diri ketika dalam keadaan tersudut oleh orang-orang di sekitarnya.


"Mah, tapi Syifana ingin bicara berdua dengan Bang Vino."


Sebenarnya tidak ada yang ingin di bicarakan oleh perempuan itu, akan tetapi untuk membela sang suami dia nekat berkata seperti itu.


Alvino dan Mama Seren sama-sama terkejut ketika mendengar ucapan yang baru saja mereka dengar. Namun, kedua orang itu merasakan hal yang berbeda. Alvino dengan rasa senangnya, sementara Mama Seren dengan amarah. Tidak menyangka jika menantunya akan lebih berpihak pada putranya yang kejam.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2