
Kedatangan Syifana dan Alvino disambut dengan baik oleh Ara dan Ali. Wanita muda itu langsung sibuk bermain dengan kedua keponakannya yang sudah mulai bisa merangkak. Syifana tampak bahagia ketika bergurau dengan Baby Twins kesayangannya.
Sementara itu, Alvino justru terlihat canggung saat Ali mengajaknya berbincang. Laki-laki berjambang tipis itu masih merasa malu karena perbuatan buruknya kepada keluarga itu.
Seberapa jahat dia dulu kepada Ali dan bahkan Syifana yang menjadi korban. Namun, Ali dan Syifana sama sekali tidak menaruh dendam kepadanya.
"Minum dulu, Vin."
Alvino tersenyum tipis lalu segera mengambil segelas kopi panas di depannya. Perlahan-lahan dia menyesap kopi hitam itu. Dari rasanya saja, Alvino dapat mengenali bahwa kopi tersebut buatan Ara, wanita yang sempat menghuni hatinya saat kecil dulu.
"Kak Al, aku dengar Syifa akan berkuliah di salah satu universitas ternama di kota ini. Apakah itu benar?" tanya Ara.
"Iya, Ra. Aku sengaja ingin dia memiliki aktivitas lain. Kasihan dia, ketika aku bekerja dia selalu merasa kesepian."
"Bagus kalau begitu, Kak. Dengan begitu akan membuat dia lupa dengan kesedihannya," timpal Ara setuju.
"Aku titip Syifa di sini dulu ya, nanti sore aku jemput."
"Biar nanti kita yang antar dia pulang, Vin. Kamu tidak perlu cemas," ucap Ali.
"Baiklah. Kalau begitu aku pamit dulu," pamitnya kepada iparnya tersebut.
Setelah menitipkan sang istri kepada Ali dan Ara, Alvino berpamitan kepada Syifana. Laki-laki itu menghampiri sang istri yang masih tertawa bahagia karena melihat kelucuan putra sang kakak.
"Fana, aku ke kantor dulu ya. Kamu baik-baik di sini," ujar Alvino yang langsung di angguki oleh Syifana.
"Hati-hati ya, Bang. Fana doakan urusan Abang lancar," jawab perempuan muda itu.
Alvino menyempatkan diri untuk mengecup kening istrinya sebelum pergi. Syifana masih saja malu-malu ketika mendapat serangan dari suaminya itu.
Laki-laki dewasa itu tersenyum senang saat melihat rona merah di wajah sang istri. Tangannya mengulur membelai puncak kepala istrinya, menyalurkan rasa sayang yang semakin bertambah setiap hari.
1 jam kemudian Alvino sudah sampai di kantornya. Laki-laki itu langsung berkutat dengan berkas-berkas penting yang sudah tertata rapi di meja. Andri sudah lebih dulu memeriksa berkas-berkas itu sebelum Alvino bertugas menandatangi berkas tersebut.
Ketika sedang sibuk membubuhkan tanda tangan di atas kertas-kertas penting perusahaan terdengar suara ketukan pintu.
"Masuk!" seru Alvino tanpa mengalihkan pandangan dari berkas di meja.
"Hai, Dev."
__ADS_1
Suara seorang wanita yang begitu lembut menyapa pendengarannya. Alvino menoleh, di ambang pintu berdiri seorang wanita cantik dengan gaya modis.
"Sintia," gumam Alvino dengan ekspresi melongo.
Sudah sangat lama dia tidak bertemu bahkan melihat wanita yang pernah dekat dengannya ketika masa perkuliahan dulu. Wanita yang sempat menyatakan cinta kepadanya. Namun, dia sama sekali tidak menaruh rasa apapun terhadap wanita itu.
"Boleh aku masuk?" tanya Sintia dengan sopan.
"Ah, silahkan."
Sintia mengayunkan kakinya dengan langkah anggun. Bagaikan seorang model yang berlenggak-lenggok di atas catwalk. Wanita seumuran dengannya itu sejak dulu memang menjadi primadona di kampusnya dulu.
"Duduk, Sin."
Sintia duduk di kursi yang berhadapan dengan Alvino. Pandangan mata mereka tidak sengaja bertemu. Sintia terlihat gugup meskipun Alvino hanya bersikap biasa.
"Kamu apa kabar, Dev?" tanya Sintia memulai pembicaraan.
"Aku baik, kamu gimana?" jawab Alvino yang juga melemparkan pertanyaan yang sama.
"Aku sedang tidak baik-baik saja, Dev."
"Aku butuh pekerjaan. Makanya aku datang kemari," jawab Sintia dengan canggung.
"Bukannya kamu sudah bersuami, Sin. Untuk apa kamu bekerja lagi?" tanya Alvino sekenanya.
Sintia menaruh kedua tangannya di atas meja. Menautkan kedua tangan tersebut sebagai pelampiasan rasa malunya. Dia sangat tidak ingin masalah yang sedang dihadapinya di ketahui oleh orang lain. Apa lagi pria yang sempat dia sukai.
"Aku … sudah bercerai, Dev. Sekarang, aku memiliki tanggungan dua anak yang masih balita," terang Sintia dengan suara lirih.
Mendengar pengakuan Sintia tentu saja membuat Alvino sedikit terkejut. Yang dia tahu dari berita yang beredar setahun lalu. Rumah tangga Sintia dengan suaminya yang merupakan salah satu pengusaha terkenal dalam kondisi yang harmonis.
"Maaf, aku tidak tahu tentang itu."
"Tidak apa-apa, Dev. Mungkin sudah takdirku untuk menjadi janda diusiaku sekarang," ucap Sintia.
"Kalau kamu bekerja lalu anak-anakmu dengan siapa? Bukankah kamu sudah tidak memiliki keluarga?"
"Aku akan menyewa baby sitter untuk mengurus mereka. Bisakah aku meminta tolong kepada kamu, Dev. Aku sudah tidak tahu lagi harus kemana."
__ADS_1
"Baiklah. Aku akan memberikan kamu pekerjaan. Biar sekretarisku yang mengurusnya. Sekarang, lebih baik kamu pulang dulu."
"Sebelumnya maaf jika aku lancang, boleh aku meminta nomor ponselmu?"
Tanpa menaruh prasangka apapun Alvino memberikan nomornya kepada Sintia. Menurutnya wajar saja jika teman lama ingin kembali berkomunikasi, terlebih wanita itu juga akan bekerja di perusahaannya.
"terima kasih ya, Dev."
Alvino hanya mengangguk lalu membiarkan tamunya itu untuk pergi. Setelah kepergian Sintia Alvino kembali fokus pada berkas-berkas di depannya.
Beberapa saat kemudian Andri datang ke ruangan CEO dan langsung mengambil posisi berdiri menghadap tuan mudanya.
"Tuan, anda yakin akan memberikan pekerjaan pada Nona Sintia?" tanya Andri.
"Apa salahnya menolong teman yang sedang mengalami musibah, Ndri. Dia membutuhkan biaya untuk membesarkan anak-anaknya," jawab Alvino tanpa mengalihkan pandangan.
"Tapi, Tuan. Kita akan mendapat masalah besar," terang Andri yang seketika membuat Alvino menatap ke arahnya.
"Apa maksudmu?" tanyanya menuntut.
"Mantan suami Nona Sintia sepertinya belum benar-benar melepaskan mantan istrinya itu, Tuan. Saya khawatir anda justru akan mendapat masalah," tutur Andri menjelaskan.
"Oh. Laki-laki itu belum bisa move on dari mantannya. Kalau begitu biarkan saja. Kita akan tetap menolong Sintia. Aku tidak tega kepada anak-anak itu," putus Alvino tanpa mau mendengar penjelasan selanjutnya dari sang sekretaris.
Menjelang sore hari, Alvino yang baru selesai mengerjakan semua urusannya bergegas untuk kembali ke mansion. Seperti perintah Ali yang mengatakan akan mengantar Syifana, Alvino pun langsung menuju mansionnya.
Setibanya dia di mansion, Alvino langsung melenggang masuk ke kamar mandi dan membersihkan dirinya. Suara dering ponsel sama sekali tidak didengar olehnya karena suara gemericik air yang turun dari shower.
Selesai membersihkan diri Alvino keluar dari kamar mandi hanya menggunakan sepotong handuk yang menutupi tubuh bagian bawahnya. Saat dia melangkah menuju lemari untuk mengambil pakaian terdengar suara dering ponsel.
Alvino memilih untuk mengabaikan panggilan tersebut. Dia mengambil sepasang pakaian dan segera memakainya. Pada saat itu dering ponsel kembali terdengar.
"Siapa, sih." Alvino menggerutu kesal tetapi dia berjalan menuju tempat dimana ponselnya tergeletak.
Kedua alisnya terangkat saat melihat nomor asing yang tertera di layar ponsel. Tidak mau sembarangan menerima panggilan Alvino justru menolak panggilan tersebut.
Tidak lama berselang sebuah pesan tiba-tiba masuk. Alvino pun membuka dan membaca pesan singkat tersebut. Kedua matanya membulat seketika saat melihat isi pesan singkat itu.
Tolong, Dev. Mantan suamiku menculik anak-anakku
__ADS_1