Dendam Cinta Tuan Alvin

Dendam Cinta Tuan Alvin
Donor Darah


__ADS_3

Gadis remaja dengan panjang rambut sebahu itu membuang muka ke arah samping. Dia sudah bisa menebak bahwa budenya akan menyuruh dia untuk mendonorkan darahnya. Karena kebetulan golongan darah mereka sama.


"Syifa!" panggil Bude Nur sekali lagi.


Dengan malas Syifana menoleh pada budenya yang sejak tadi memanggil namanya.


"Apa, sih, Bude."


Wanita paruh baya yang masih terlihat cantik walau sudah berumur setengah abad itu mendekati sang keponakan. Tangannya dengan lembut merangkul bahu Syifana, bibirnya mendekati telinga Syifana untuk membisikkan sesuatu pada sang keponakan.


"Kamu bisa, 'kan donorin darah kamu? setahu Bude darah kamu O negatif juga," bisik Bude Nur pelan.


"Enggak! darah Syifa udah ganti," ucap Syifana lantang membuat Dokter menatap bingung pada gadis remaja di hadapannya.


Bude Nur melepaskan rangkulannya di bahu Syifana dan menarik Syifana menjauh dari Dokter cantik juga Gevano. Setelah berada di tempat yang cukup sepi, Bude Nur melepaskan gandengan tangan mereka.


"Syifa tidak mau menolong Bude?" tanya Bude Nur dengan suara sendu.


Sedih, itu yang di rasakan oleh Bude Nur saat ini. Walaupun pria itu bukan siapa-siapa, tapi ia tidak ingin melihat orang lain merasakan sakit ataupun kehilangan nyawa karena kekurangan darah.


"Mau, Bude. Tapi bukan menolong pria itu. Dia menyebalkan sekali," ucap Syifana.


Ucapan yang baru saja keluar dari bibir Syifana membuat Bude Nur semakin sedih. Wanita itu membalikkan tubuhnya yang semula berhadapan dengan Syifana menjadi membelakangi Syifana.


Pandangan Bude Nur menembus masa lalu saat dirinya harus kehilangan suami karena kecelakaan. Saat itu, suaminya tidak bisa di selamatkan karena tidak mendapat donor darah.


"Bude, lihat apa disitu?" ujar Syifana mendekati Bude Nur.


Saat dirinya berada di samping Bude Nur, dia terkejut karena di sebelah Rumah sakit ini terdapat Makam yang bisa di lihat dari tempat mereka berdiri.


Gadis itu cukup paham, mungkin budenya teringat dengan almarhum pamannya yang sudah meninggal. Syifa memang tidak tahu seperti apa kejadiannya yang mengakibatkan nyawa pamannya melayang. Namun dari cerita sang ibu, dapat di simpulkan bahwa pamannya meninggal akibat kekurangan darah.


Wanita paruh baya itu masih diam dengan pandangan tak lepas dari deretan makam yang sunyi oleh gelapnya malam. Hanya ada beberapa lampu sebagai penerangan di sekitar makam.

__ADS_1


"Oke, Syifa akan donorin darah Syifa ke pria menyebalkan itu. Tapi Bude tidak boleh sedih terus," Syifa akhirnya mengalah pada budenya.


Setelah mendengar keputusan Syifa, Bude Nur menoleh dan tersenyum bangga pada sang keponakan. Walau Syifa sangat kesal pada pria itu, tapi dia masih mau berkorban demi dirinya.


"Kamu memang anak baik, Sayang." Bude Nur memeluk Syifana erat.


Gadis itu membalas pelukan dari budenya tak kalah erat. Mereka berdua saling menyalurkan rasa kasih sayang satu sama lain. Walaupun mereka tidak tinggal bersama, namun mereka mempunyai ikatan darah yang mengikat mereka dalam satu keluarga.


"Bude, bisa kita pindah?" tanya Syifana saat pelukan mereka terlepas.


Bude Nur mengerutkan keningnya bingung. Kenapa sang keponakan meminta pindah dari tempat ini?


"Kenapa harus pindah?" Bude Nur membalik pertanyaan pada sang keponakan.


"Bude apa tidak sadar kita dari tadi memandangi kuburan di tengah malam? kalau ada permen jahe gimana?" rengek Syifana manja.


Ucapan Syifana barusan membuat Bude Nur semakin kebingungan. Mereka memang menatap makam sejak tadi. Tapi dirinya sama sekali tidak melihat ada permen di makam itu.


"Kamu sudah gila, Syifa. Mana ada permen di dalam kuburan, apa lagi malam-malam begini. Siapa yang mau membawa permen kesana?"


"Bude, maksud Syifa bukan permen beneran. Tapi demit yang hobi loncat itu loh," ujar Syifana merengek manja.


"Oh, maksud kamu pocong?" tanya Bude Nur seraya mengangguk-anggukan kepalanya.


Gadis remaja yang biasanya hobi menonton podcast horor di sebuah aplikasi yotube di ponselnya itu membulatkan matanya. Budenya benar-benar iseng menyebut nama si pemilik goyang loncat-loncat itu.


Dengan sengaja Syifana melarikan diri dari keisengan budenya. Malam-malam budenya sama sekali tidak takut dengan hal mistis itu. Dirinya yang mempunyai hobi menonton horor saja merasa takut saat berada di tempat itu.


Saat Syifana kembali ke ruangan IGD terlihat Gevano sedang berbincang dengan seorang perawat. Pria itu terdengar sedang meminta perawat itu untuk membantu mencarikan donor darah untuk pasien. Walau dia sangat kesal padanya namun hati nuraninya tetap saja memikirkan orang yang sedang membutuhkan bantuan.


"Tolong, Sus. Bantu carikan donor untuk pasien, saya juga akan membantu mencarinya semampu saya," pinta Gevan mencoba meminta tolong dari perawat itu.


"Baik, Mas, saya akan usahakan untuk mencari. Tapi jika Mas sudah menemukan tolong segera kabari saya," ujar suster dengan suara lembutnya.

__ADS_1


"Sus, saya mau mendonorkan darah saya. Kebetulan golongan darah kami sama,"


Dari arah belakang Gevano, Syifana muncul dan segera mengatakan pada perawat bahwa dirinya yang akan mendonorkan darahnya untuk pasien.


Walaupun terkejut karena Gevan baru mengetahui golongan darah gadis pujaannya, namun pria itu sedikit lega karena Syifana begitu baik mau mendonorkan darahnya untuk laki-laki menyebalkan yang mereka tolong.


"Baik, Mbak. Kita cek dulu ya, untuk memastikan mbak bisa mendonorkan darah atau tidak," ucap perawat memberi tahu.


Syifana hanya menganggukan kepalanya. Sebenarnya kegiatan seperti ini biasa dia lakukan setiap bulan. Selain untuk membantu orang-orang yang membutuhkan juga dia sangat merasa lebih baik setelah mendonorkan darahnya.


"Mari, Mbak ikut saya." Perawat berjalan lebih dulu menuju ruangan lain.


"Syifa tidak takut?" Gevano bertanya karena mengkhawatirkan gadis pujaannya.


Gelengan kepala Syifana cukup menjawab pertanyaan Gevano. Gadis itu memang tidak suka banyak bicara dengan orang orang yang di anggap asing. Mereka memang berteman, tapi bukan teman dekat yang membuat keduanya akrab.


Syifana mengikuti perawat itu menuju ruangan khusus. Hal ini ia lakukan demi Bude Nur bukan demi laki-laki menyebalkan yang membuat dirinya merasa kesal.


Setelah kepergian Syifana, Gevano mendudukkan dirinya di kursi tunggu. Tubuh lelahnya sangat butuh istirahat, namun tidak membuat dirinya egois. Dia dengan sabar menunggu, dengan menyandarkan punggungnya di kursi dan memejamkan matanya. Berusaha untuk membuat dirinya nyaman di tempat itu.


Baru saja Gevano terlelap, dirinya justru di kagetkan dengan suara seorang wanita yang seperti orang ketakutan. Kedua mata itu terbuka dengan pandangan berkeliling. Namun dia sama sekali tidak menemukan seorangpun di tempat itu.


"Sial,"


Bersambung...


Thanks For Reading...


_Nurmahalicious_


Hai gays, author punya rekomendasi cerita keren banget nih. Karya Siti Fatimah dengan judul Jeratan Istri Yang Terhina


__ADS_1


Kisah pahit harus dialami gadis berusia 20 tahun yang tak lain gadis itu bernama Putri Varelina. Gadis malang yang lebih memilih persahabatan ketimbang cinta yang nantinya akan menghancurkan ketiga sahabat itu.


Hinga akhirnya hidupnya hancur lebur setelah ia dinodai oleh mantan kekasihnya yang kini berstatus Suami dari sepupunya sendiri. Mampukah ia bertahan mempertahankan janin yang kini menjadi calon anak dari Suami sepupunya sendiri. Dan mampukah ia berjuang bertahan dari hinaan dan siksaan batin yang dilakukan laki-laki itu yang dengan teganya tidak Sudi untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya tersebut.


__ADS_2