
Yakin bahwa sang istri menghilang karena di bawa oleh sang ibu, Alvino segera keluar dari mansion besarnya. Pria itu kembali memacu mobilnya dengan kecepatan maksimal. Pria itu tidak peduli dengan keselamatan orang lain, bahkan dirinya sendiri. Yang terpenting sekarang adalah menjemput istrinya itu untuk pulang bersama.
Amarah Alvino kali ini sudah berada di puncaknya, bukan emosi pada sang ibu melainkan emosi dengan dirinya sendiri yang sudah melakukan kesalahan begitu besar.
Menempuh perjalanan sekitar hampir satu jam, Alvino kini sampai di mansion milik orang tuanya. Pria itu segera keluar dari mobil begitu mobil berhenti. Para penjaga membungkukkan badan untuk menyambut kedatangannya.
Namun, Alvino tidak memperdulikan apapun. Pria itu langsung melangkah menuju kamar sang ibu untuk mencari istri kecilnya. Akan tetapi di kamar ibunya tidak ada satupun orang, bahkan sang ibu juga tidak ada di sana.
Pria itu menghentikan langkah ketika mendengar suara yang bernada lirih dari kamar yang terletak persis di samping kamar sang ibu. Pintu kamar itu sedikit terbuka, membuat suara orang yang berada di dalam bisa terdengar dari luar. Jika dalam keadaan tertutup rapat, kamar itu tidak mungkin sampai tembus suara karena kamar tersebut memiliki fasilitas peredam suara.
"Fana, ayo ceritakan semua kekejaman Al, Sayang!"
"Tidak, Mah. Bang Vino tidak melakukan apapun pada Fana," elak perempuan muda itu.
Hati Alvino langsung mencelos ketika mendengar sang istri yang enggan membuka aibnya, bahkan pada mertuanya. Beberapa kali terdengar suara Mama Seren yang mengintimidasi Syifana untuk mengakui semua yang di lakukan oleh pria itu, akan tetapi perempuan itu sama sekali tidak mau membuka satupun kekejaman yang dia lakukan.
__ADS_1
"Kalau benar Al tidak melakukan apapun, kenapa di tubuhmu terdapat banyak luka?" tanya Mama Seren tetap tidak percaya.
"Em, ini Mam, Syifana jatuh di kamar mandi. Fana hanya belum terbiasa untuk tertlalu dekat dengan pria, makanya Fana terlihat takut pada Bang Vino," ujar Syifana menutup-nutupi semua yang terjadi.
"Jadi karena itu kalian pisah kamar? Tapi kenapa harus kamar buruk itu yang di berikan oleh Al untuk kamu, Syifa?"
Mama Seren sengaja terus bertanya agar perempuan itu keceplosan dan mengakui kejahatan Alvino. Namun, sekeras apapun usahanya, tidak berhasil.
"Syifa sendiri yang memilih kamar itu, Mah," tukas perempuan itu.
Merasa introgasinya kali ini tidak berhasil, Mama Seren akhirnya berpamitan untuk keluar dari kamar sang menantu. Ketika wanita itu membuka pintu dan keluar, di depan pintu berdiri sang putra dengan posisi membelakanginya.
"Kau menyusulku kemari, Al, apa sudah berani mengakui perbuatanmu?" tanyanya dengan sinis.
Alvino membalikkan tubuhnya, lalu menggeleng. "Al cuma mau jemput istri Al untuk pulang," jawab Alvino datar.
__ADS_1
Sebelah mata Mama Seren memicing. "Istri? Kamu bilang istri, Al? Syifana di mansionmu lebih cocok sebagai pembantu. Aku tidak Sudi menantuku menjadi babu di rumah suaminya sendiri!" hardik Mama Seren amat kesal.
Alvino menunduk ketika sang ibu benar-benar menyudutkan dirinya. Tidak menyangka jika ibunya akan secepat ini mengetahui tentang istri yang dia rahasiakan.
"Kau bahkan menikahinya tanpa meminta restu dariku, aku tidak rela, Al. Sampai kapanpun aku tidak akan pernah rela! Camkan itu." Mama Seren langsung melangkah meninggalkan sang putra yang mematung di tempatnya.
Beberapa langkah maju, Mama Seren kembali menghentikan langkah. Wanita itu membalikkan tubuhnya, menatap sang putra dengan tajam.
"Berani masuk ke kamar Syifana, aku akan membun*hmu saat itu juga, Al!" ancam wanita itu dengan tegas.
Setelah memberi ancaman pada putranya sendiri, Mama Seren kembali melangkahkan kakinya untuk turun ke lantai dasar. Wanita itu berniat untuk menyuruh pelayan untuk memasak makanan untuk menantunya agar lekas pulih dari kondisinya sekarang.
Alvino langsung mengejar langkah sang ibu, pria itu mencekal pergelangan tangan ibunya. Dengan tatapan memohon, pria itu terlihat sangat menyesal. Namun, Mama Seren sama sekali tidak peduli dengan raut wajah putranya saat ini.
"Mam, Al perlu bicara."
__ADS_1
Bersambung...