Dendam Cinta Tuan Alvin

Dendam Cinta Tuan Alvin
Pengecut


__ADS_3

Alvino terpaksa harus menerima apa yang saat ini terjadi tanpa bisa berbuat apa-apa. Istri yang berhasil membuat dirinya sadar bahwa cintanya kini telah sepenuhnya di miliki oleh perempuan yang dia nikahi hanya untuk membalas dendam salah alamat itu saat ini kembali dibawa pergi oleh ayah kandungnya. 


Sebagai seorang suami diapun sadar bahwa dia telah gagal menjadi kepala rumah tangga yang baik. Tugas yang seharusnya dia menjaga lahir batin istrinya justru tidak dilakukan. Dia bahkan berkali-kali sengaja menyakiti hati serta fisik sang istri. 


"Maafkan aku, Fana. Jika memang dengan berpisah dariku bisa membuatmu bahagia, aku akan mencoba mengiklaskan kamu." Lagi-lagi Alvino mengajak bicara sebuah bingkai yang berisi foto istrinya. 


Alvino tersenyum kecut seraya membelai wajah sang istri yang terlihat sangat cantik meski hanya dengan riasan sederhana. "Kamu tidak perlu mengkhawatirkanku, Fana. Aku akan hidup dengan baik meski tanpa kamu," ujarnya berusaha kuat. 


Tidak mau terlalu larut dalam kesedihan, Alvino akhirnya menaruh foto sang istri ke dalam laci nakas. Menutup serta mengunci laci tersebut agar dia tidak sering membukanya dan melihat wajah cantik sang istri tercinta. 


"Ternyata sesakit ini rasanya mencintai seseorang yang pernah kita sia-siakan. Rasanya lebih sakit dari pada saat aku kehilangan Ara dulu," gumamnya seraya menghela napas panjang. 

__ADS_1


Merasa letih karena aktifitasnya Alvino memutuskan untuk membersihkan diri lalu beristirahat. Tubuhnya juga membutuhkan jeda dari aktivitas melelahkan. 


Keesokan harinya Alvino baru saja bangun dari tidur nyenyaknya. Entah kenapa, setelah berusaha menerima takdir. Dia justru selalu bisa beristirahat dan tidur dengan tenang. Seperti efek meminum obat tidur, padahal sejak menikahi Syifana dia sudah tidak pernah lagi mengonsumsi obat-obatan apapun. 


Alvino benar-benar berusaha mengiklaskan takdirnya jika memang tidak dapat lagi bersatu dengan sang istri. Pria itu menghabiskan hari-harinya dengan bekerja di kantor. Mengembangkan bisnisnya yang bergerak di bidang properti. Namun, saat dia tengah fokus bekerja tiba-tiba dia kedatangan sang sekretaris. Tangan kanannya itu terlihat membawa sesuatu yang nampak seperti amplop berwarna coklat. 


"Ini ada surat untuk anda, Tuan." Andri memberikan amplop tersebut kepada Alvin. 


Alvino meraih amplop tersebut, dan seketika kedua matanya terbelalak kaget. Antara percaya dan tidak percaya bahwa dia akan secepat ini mendapatkan surat panggilan untuk sidang perceraian. 


"Tuan, apakah anda perlu saya panggilkan pengacara?" tanya Andri dengan cepat. 

__ADS_1


Alvino justru menggelengkan kepalanya. "Aku tidak akan datang, Ndri. Biarkan persidangan berlangsung dengan cepat tanpa kedatanganku," jawab Alvino datar. 


"Tapi, Tuan. Apakah anda sama sekali tidak ingin memperjuangkan nona?" tanya Andri yang kini tahu tentang perasaan pemimpinnya. 


"Aku ingin, Ndri. Sangat ingin! Tapi aku sadar, aku bukanlah pria yang pantas untuk Syifana. Ayah pasti tidak akan memberiku kesempatan apapun," ujarnya dengan suara lirih. 


Andri memperhatikan wajah sang bos yang terlihat sama sekali tidak memiliki semangat. Sepertinya pria yang biasanya arogant itu tengah berusaha mengendalikan diri. Sebenarnya Andri cukup merasa bersyukur atas perubahan sikap dan sifat sang bos yang kini menjadi lebih baik. Namun, dia merasa tidak tega jika bosnya itu selalu gagal dalam percintaan. 


"Saya tidak akan pernah membiarkan Nona lepas, Tuan. Terlepas anda mau berjuang atau tidak, saya tidak akan pernah membiarkan Anda kehilangan perempuan sebaik Nona Syifa." Andri pergi meninggalkan Alvino yang hanya menatap kepergian sekretarisnya itu. 


"Percuma, Ndri. Ayah pasti sudah menjodohkan dia dengan pria yang jauh lebih baik dariku. Aku tahu, ayah sendiri yang mengirimkan foto Fana bersama pria lain di taman." Alvino tersenyum miris. 

__ADS_1


Nasib memang begitu kejam padanya. Seakan tiada henti mempermainkan perasaannya. Jika dulu dia gagal karena si wanita yang menolaknya, berbeda dengan kali ini yang justru mendapatkan tentangan dari keluarga istrinya sendiri. 


"Aku memang pria pengecut, Fana. Aku pria pengecut!" seru Alvino seraya melemparkan ponsel miliknya hingga membentur dinding


__ADS_2