
Kepergian Alvino menyisakan duka yang mendalam di hati Syifana. Perempuan itu benar-benar tidak menyangka pernikahannya hanya bertahan seumur jagung saja. Dia bahkan belum mencicipi kebahagiaan dalam pernikahannya, akan tetapi hubungan itu justru kandas dengan sekejap mata.
Syifana masih menangis tersendu-sendu di dekapan hangat kakak iparnya. Dia memang hanya mau bersama dengan Ara setelah sang ayah mengatakan tentang kecelakaan yang dialami olehnya ternyata berhasil merenggut janin yang baru saja tumbuh di rahimnya.
"Kak, apakah karena ini suamiku tega meninggalkan aku. Dia pasti marah karena aku gagal menjaga buah hati kami," ucap Syifa dengan suara sengau.
Terlalu lama menangis membuat suara perempuan itu berubah. Hidungnya juga terlihat merah bak kepiting rebus. Berkali-kali Ara memberikan tissue untuk menyeka air mata adik iparnya.
"Sabar, Syifa. Ujian ini akan mendewasakan kamu, sekarang yang perlu kamu lakukan adalah pasrahkan semuanya pada takdir. Jika memang Kak Al adalah jodoh kamu, sejauh apapun dia pergi, dia akan tetap kembali padamu. Jangan terus-terusan bersedih," saran Ara kepada Syifana.
"Tapi, Kak. Aku gagal menjadi orang tua yang baik. Dia pergi meninggalkan aku bahkan sebelum ayahnya mengetahui kehadirannya. Jika saja aku tidak kabur dari rumah Kak Rei, ini semua tidak akan terjadi," sesal Syifana.
Ara menangkup wajah adik iparnya, menatap dalam-dalam bola mata berwarna biru itu. "Kamu percaya dengan takdir Tuhan, Syifa? Anak kamu sudah berada di tempat yang indah, menunggu kedua orang tuanya untuk berkumpul bersama. Jika kamu menyayanginya, kamu harus bangkit! Tunjukan pada dunia bahwa kamu perempuan hebat."
Kesediaan yang dirasakan oleh Syifana sedikit sirna setelah mendapatkan nasihat dari Ara. Perempuan itu segera menghapus jejak air mata yang masih saja menerobos secara paksa dari kedua sudut matanya.
__ADS_1
"Aku pasti bisa, Kak. Aku wanita hebat," tekad Syifa disertai senyuman yang Ara tahu itu masih di paksakan oleh sang pemilik.
Ara mengangguk dan tersenyum bangga kepada adik iparnya. Dia sendiri belum tentu akan setegar Syifa jika mendapatkan ujian seberat itu.
"Kamu adalah satu-satunya kesayangan kami, Syifa. Jangan tunjukan kesedihan kamu di depan ayah," ujarnya seraya mengelus Surai hitam sang adik ipar.
Sementara itu, Alvino baru saja sampai di mansion miliknya. Pria itu segera melangkahkan kakinya untuk masuk ke kamar utama. Ketika masuk ke kamar itu, lagi-lagi pria itu teringat dengan kelakuan bejatnya yang merudapaksa sang istri.
"Saya memang jahat, Fana. Saya tidak pantas menjadi suami seorang perempuan sebaik kamu." Alvino menjatuhkan tubuhnya di ranjang besar miliknya.
Terlalu lelah membuat pria itu terlelap dengan posisi tertelungkup, tanpa mengganti pakaian ataupun melepaskan sepatunya. Pria itu melampiaskan rasa lelahnya dengan tidur, berharap ketika bangun nanti dia memiliki energi yang cukup untuk menjalankan rencananya.
Pagi-pagi buta sekali bahkan matahari saja belum menampakkan diri, seseorang pria sudah bangun dari tidurnya. Pria itu sudah rapi dengan pakaian serba hitam lengkap dengan topi dan masker yang menutupi wajahnya yang rupawan.
"Aku tidak boleh gagal dalam misi ini," ujarnya sebelum masuk ke mobilnya.
__ADS_1
Pria itu dengan cepat mengendarai mobil miliknya menuju sebuah rumah sakit ternama di kota itu. Beberapa kali pria itu menatap sebuah goodybag berukuran kecil yang dia taruh di sampingnya.
Begitu sampai di tempat tujuan, pria itu segera turun dari mobil. Instingnya sebagai seorang mafia memudahkan dia untuk menyelinap masuk ke rumah sakit itu tanpa di ketahui siapapun.
Tanpa membuang waktu, pria itu akhirnya sampai di depan sebuah ruangan. Dia menghentikan langkah sejenak saat mendengar suara langkah kaki yang mendekat. Buru-buru dia menyembunyikan diri di kamar yang berada tepat di samping kamar rawat istrinya.
Dia mengintip melalui celah pintu, saat memastikan seseorang itu hanya melewati kamar istrinya, dia segera keluar dan bergegas menyelinap ke tempat tujuannya, yaitu kamar Syifana.
Pria itu hanya menaruh goodybag yang dibawa di atas nakas. Langkahnya begitu pelan hingga tidak terdengar oleh siapapun yang tengah menjaga si pasien. Setelah berhasil menaruh sesuatu yang dia berikan kepada Syifana, pria itu menatap dalam-dalam wajah pucat sang istri yang masih terlelap.
"Semoga kamu suka, Sayang. Mulai sekarang, saya akan lebih memperhatikan kamu meski dari kejauhan." Pria itu menyempatkan diri untuk mencium kening Syifana.
Tidak mau kegiatannya di ketahui orang lain, pria itu bergegas meninggalkan tempat itu. Namun, ketika baru saja melangkahkan kaki sampai di pintu. Sebuah suara menghentikan langkahnya, pria itu mematung di tempat dengan tangan masih menyentuh handle pintu.
"Bang Vino, jangan pergi!"
__ADS_1