Dendam Cinta Tuan Alvin

Dendam Cinta Tuan Alvin
Tengah Hutan


__ADS_3

Alvino buru-buru keluar dari mansion begitu mendapat kabar buruk dari Sintia. Walaupun tidak memiliki perasaan apapun kepada wanita itu, nyatanya Alvino merasa tidak tega kepada kedua anak dari teman masa lalunya itu. 


Mobil Alvino keluar dari gerbang mansion, tidak lama berselang mobil Ali justru sampai di tempat tinggal adiknya itu. Syifana yang duduk di samping kemudi menatap bingung mobil suaminya yang berjalan dengan kecepatan diatas rata-rata. Si pengemudi seperti tidak sabar untuk sampai di tempat tujuan. 


"Suamimu mau kemana, Syif?" tanya Ali saat menghentikan mobilnya di depan gerbang. 


"Enggak tahu, Bang. Bang Vino enggak kasih kabar apa-apa ke Syifa," jawab Syifana polos. 


"Mau kejar mobil dia atau kamu mau pulang saja?" tanya Ali menawarkan. 


"Pulang aja lah. Paling Bang Vino ada urusan kantor atau markas. Bang Ali juga kan harus cepat-cepat pulang. Kasihan si twins," jawab Syifana tanpa ragu. 


Akhirnya mereka membiarkan Alvino pergi tanpa ingin tahu laki-laki itu pergi kemana dan untuk tujuan apa. Syifana memang tidak menaruh curiga apapun kepada suaminya. Dia percaya bahwa laki-laki dewasa itu begitu mencintainya. 


Ali langsung pulang setelah memastikan sang adik masuk ke mansion. Syifana pun memilih untuk membersihkan diri sebelum beristirahat setelah seharian lelah bermain dengan kedua ponakakannya. 


Begitu selesai membersihkan diri Syifana benar-benar langsung tertidur. Rasa lelah yang mendera tubuhnya itu langsung ampuh menjadi obat tidur untuk perempuan muda itu. 


Sementara itu, Alvino kini telah sampai di sebuah rumah yang sudah diberitahukan oleh Sintia. Laki-laki itu tanpa ragu masuk ke dalam rumah berukuran sedang itu sendirian. 


"Sin," panggil Alvino ketika masuk ke rumah tersebut. 


Rumah itu dalam keadaan sepi tetapi masih terlihat rapi. Laki-laki itu mengedarkan pandangan untuk mencari si pemilik rumah. Namun, tidak menemukan apapun di sana. 


Fokusnya terpecah saat ponselnya berdering. Sebuah pesan singkat masuk ke benda pipih di tangannya. 


Jangan ikut campur urusanku!


Ketika sedang membaca pesan itu tiba-tiba seseorang menepuk bahunya dari belakang. Alvino membalik tubuhnya dan mendapati Sintia berdiri dengan wajah sembab. 

__ADS_1


"Dev, tolong anak-anakku. Aku tidak bisa hidup tanpa mereka," mohon Sintia dengan suara serak. 


Alvino tahu, wanita itu sudah lama menangis. Terbukti dari wajahnya yang sembab dan suara serak yang hampir menghilang itu. Dia ingin menenangkan, tetapi bingung dengan cara apa. Dia sudah berjanji pada diri sendiri bahwa dia tidak akan menyentuh wanita lain selain Syifana, istri kecilnya. 


"Kamu sabar, Sintia. Aku akan berusaha mencari keberadaan anak-anak kamu. Jangan menangis," ucap Alvino yang akhirnya terpaksa menepuk pelan bahu Sintia. 


"Terima kasih, Dev. Tapi … aku takut." 


"Tidak perlu takut, Sin. Semua pasti baik-baik saja. Lagi pula mereka bersama ayah kandungnya, mereka tidak mungkin dalam bahaya," ujar Alvino yang berpikir positif. 


Sintia menggeleng cepat. "Kamu tidak tahu seperti apa Vincent, dia kerap kali menyiksa kami," jelas Sintia yang kembali meneteskan air mata. 


Tangan Alvino terkepal dengan kedua mata membelalak. Dia merasa geram dan tidak menyangka bahwa masih ada saja laki-laki seperti itu. Persis seperti dia ketika masih dibutakan oleh obsesinya kepada Ara.


"Kalau begitu, kita cari mereka sekarang." 


Alvino sempat kebingungan saat mendapati jalan yang mereka lalui untuk mencari kedua anak tersebut melewati hutan-hutan yang cukup luas. Untuk apa laki-laki itu menyembunyikan anak mereka di tempat yang jauh dari kota. Sinyal di ponselnya bahkan timbul dan hilang saat memasuki hutan belantara. 


Hari yang sudah gelap membuat suasana semakin terasa sunyi. Mereka hanya mengandalkan penerangan dari mobil yang dikendarai oleh Alvino. 


"Sial, sinyalnya sudah benar-benar menghilang. Kita tidak mungkin semakin masuk ke dalam hutan tanpa jejak apapun. Belum lagi aku tidak membawa satupun anak buah. Kita tidak mungkin nekat, Sin. Bukannya aku tidak berani, tetapi aku juga mengkhawatirkan keselamatanmu," ujar Alvino seraya menatap Sintia yang masih berderai air mata. 


"Tapi, bagaimana jika … anak-anakku dalam bahaya," timpal Sintia yang sepertinya tidak ingin menghentikan pencarian mereka. 


"Kamu yakin tidak keberatan jika mereka menyiapkan jebakan untuk kita?" tanya Alvino sedikit ragu. 


Sebenarnya yang ada di pikiran Alvino bukan hanya tentang Sintia dan anak-anaknya. Dia justru lebih mengkhawatirkan sang istri yang entah sekarang sedang apa. 


"Aku tidak peduli, apapun yang terjadi aku harus menemukan mereka," jawab Sintia tanpa ragu. 

__ADS_1


Mereka tetap melanjutkan perjalanan mereka untuk mencari kedua anak Sintia. Meskipun pikirannya kini terpecah karena selalu saja teringat kepada istrinya, tetapi Alvino merasa tidak mungkin juga membiarkan Sintia nekat mencarinya sendiri. 


Jalan gelap dan sepi itu semakin terasa mencekam ketika terdengar suara gemuruh petir yang menyambar di langit gelap itu. Tidak lama kemudian hujan turun dengan sangat lebat. Jarak pandang yang buruk membuat Alvino mengurangi kecepatan kendaraannya. 


Sayangnya halangan demi halangan sepertinya tidak henti-hentinya menghalangi perjalanan mereka. Setelah sudah masuk semakin jauh ke hutan lindung itu tiba-tiba mobil mengalami pecah ban. 


"Sial, ban mobilku pecah, Sin. Kita terpaksa berhenti di tempat ini." 


"Lalu bagaimana dengan kedua anakku, Dev?" tanya Sintia yang masih saja egois. 


"Kita tidak mungkin mencarinya tanpa penerangan ataupun dengan jalan kaki. Hutan ini luas, dan kita tidak tahu apa saja yang menghuni hutan ini."


Sintia diam tidak menjawab, tetapi tangisannya tidak juga berhenti. Hal itu membuat Alvino merasa kasihan. Laki-laki itu menghela napas berat. 


"Ya sudah. Kamu tunggu di sini, biar aku ganti dulu ban mobilnya." 


"Aku ikut," timpal Sintia yang berniat membuka pintu mobil. 


"Tidak perlu. Kamu tetap di dalam saja," perintah Alvino yang tidak ingin semakin repot jika terjadi apa-apa pada wanita itu. 


Alvino turun dan mengambil peralatan untuk mengganti ban mobilnya yang berada di bagasi. Tanpa bantuan siapapun laki-laki itu mengganti ban mobil. Jika biasanya dia hanya perlu duduk manis menunggu, kali ini dia harus bekerja keras seorang diri. 


Ditengah guyuran hujan yang lebat dan kegelapan malam di dalam hutan itu, Alvino melakukan pekerjaan yang jarang sekali dia lakukan. Meskipun sedang fokus mengganti ban mobilnya yang pecah, tetapi insting Alvino masih sangat tajam.


Laki-laki itu merasa ada yang mengawasinya dari jarak yang lumayan dekat. Dia tahu, yang mengawasinya adalah orang, bukan binatang buas yang hidup di hutan lindung tersebut. 


"Jangan jadi pengecut. Keluar dan hadapi aku!" seru Alvino yang kini berdiri di samping mobilnya. 


Mendengar seruan Alvino, tiba-tiba beberapa orang muncul dari balik pepohonan. Mereka memegang senjata di tangannya masing-masing. 

__ADS_1


__ADS_2