
Saat suasana semakin tegang dari luar kamar Syifana datang. Perempuan itu sedikit merasa bingung karena sang mertua berada di ambang pintu kamarnya. Penasaran, Syifana melangkah mendekat. Perempuan itu semakin merasa bingung saat melihat suaminya berada di dalam kamar miliknya.
"Mah, Bang Vino, kalian sedang apa?" tanya Syifana polos.
Mama Seren menoleh ke samping dimana tempat Syifana berdiri lalu kembali menghadiahkan tatapan tajam ke arah sang putra yang masih setia menundukkan kepala.
"Dia mau mencuri waktu untuk menemui kamu, Syifa," ujar Mama Seren tanpa menutupi apapun.
Syifana merasa terkejut, perempuan itu sampai berpikir jika saja tadi dia di kamar pasti dia benar-benar akan terjebak berdua dengan pria kejam yang tengah kehilangan kekuasaannya itu.
Kini Alvino mengangkat kepalanya, memandang sang istri dengan tatapan memohon. Kedua netra yang biasanya terlihat tajam dan bengis itu sekarang berkaca-kaca.
"Fana, beri saya kesempatan untuk berubah. Saya menyesal sudah menyakiti kamu," ujarnya dengan serius.
"Bang, Fana juga sedang berusaha untuk menata hati Fana kembali. Fana masih takut dengan semua yang pernah Abang lakuin ke Fana, tolong beri Fana waktu," jelas perempuan itu.
"Syifana juga sedang dalam masa pemulihan, Al. Kamu tahu, dia mengalami trauma karena kekerasan yang kamu lakukan!" bentak Mama Seren yang sudah kehilangan batas kesabaran.
__ADS_1
"Baiklah, saya akan mencoba mengerti dan bersabar, Fana. Sampai kapanpun saya akan berjuang untuk kembali mendapatkan kamu," ujar Alvino tulus.
Pria itu kini keluar dari kamar sang istri saat Mama Seren mundur untuk memberinya jalan. Bukan menyerah, akan tetapi dia ingin memberikan waktu untuk sang istri agar tidak terlalu merasa takut padanya lagi.
Saat sang suami menjauh darinya, Syifana sedikit merasa bersalah pada pria tersebut. Mungkin memang benar bahwa suaminya itu sudah menyesal dengan apa yang pernah dia lakukan pada dirinya. Namun, Syifana benar-benar belum bisa melupakan semua kejadian yang terjadi.
'Maaf, Bang, tapi Fana akan belajar menjadi istri yang baik, walaupun Fana belum bisa menjadi yang terbaik,' batinnya bertekad.
"Fana, kamu dari mana, Sayang?" tanya Mama Seren seraya menyentuh bahu menantunya.
Masih sibuk dengan lamunannya, Syifana sampai terlonjak kaget dengan teguran sang mertua. Perempuan itu mengerjapkan matanya berkali-kali untuk menguasai dirinya.
"Kamu dari mana?" tany Mama Seren mengulangi pertanyaannya.
"Em, Fana dari taman samping mansion, Mah."
"Oh, ya sudah, sekarang kamu istirahat. Nanti sore psikolog akan datang untuk memeriksa keadaan kamu," ujar Mama Seren mengelus lembut Surai hitam sang menantu.
__ADS_1
"Mah, boleh Syifa meminta sesuatu?"
"Minta apa, Sayang?" tanya wanita paruh baya itu.
"Syifana ingin berkunjung ke makan Ibu," ujar Syifana jujur.
Mama Seren tersenyum lembut lalu kembali memberikan elusan di punggung menantunya. "Boleh, besok Mama antarkan ke pemakaman ibu kamu, yah!"
Perempuan muda itu mengangguk lalu masuk ke kamar. Setelah Syifana masuk, Mama Seren menutup pintu kamar menantunya. Wanita itu kembali ke kamar pribadinya yang terletak tidak jauh dari kamar sang menantu.
Begitu sampai di kamarnya, Mama Seren mengambil ponsel yang terletak di atas nakas. Mencari nomor seseorang di sana.
"Kamu jaga kamar menantuku, jangan biarkan siapapun masuk ke sana, terutama Alvino!" perintahnya dengan tegas lalu mengakhiri panggilan.
Seorang yang di berikan perintah oleh wanita paruh baya itu merinding, kini dia berada di antara kedua pilihan antara Tuan Muda dan Nyonya besar.
"Mati saya aku." Menepuk keningnya frustasi.
__ADS_1
Bersambung...