
Seperti permintaan Syifana, Alvino benar-benar mengantarkan istrinya itu untuk mengunjungi rumah sang ayah. Awalnya pria itu menolak saat sang istri mengajaknya untuk masuk. Dia sadar bahwa kehadirannya hanya akan membuat pria paruh baya itu tersulut emosi. Namun, Syifana tetap memaksanya untuk ikut masuk. Perempuan muda itu bahkan sampai melingkarkan tangannya di lengan sang suami.
"Fana, saya tunggu di mobil saja, yah!"
"Bang Vino itu suami Syifana, Bang. Buat apa nunggu di luar? Lebih baik temani istri kamu di dalam," jawab Syifana yang semakin mengeratkan pegangannya.
Alvino berdecak. "Saya hanya tidak mau kalau ayah kembali emosi saat bertemu saya, Fana. Itu tidak baik untuk kesehatannya," ujarnya dengan ekspresi cemas.
Syifana yang hampir membuka pintu mengurungkan niatnya. Perempuan muda berparas cantik itu menatap dalam-dalam bola mata suaminya. "Fana yang akan berusaha memberikan ayah pengertian, Bang. Fana janji tidak akan melawan ayah lagi, kok!"
Keduanya masih berdiri di depan pintu rumah. Mereka terlalu sibuk mengobrol hingga tidak sadar bahwa pintu itu sekarang sudah terbuka.
"Kalian ngapain di depan pintu?"
Suara itu berhasil mengejutkan mereka yang seketika menoleh secara bersamaan. "Kak Ara," gumam Syifana yang langsung kembali memandang suaminya, memastikan bahwa sang suami tidak akan terpengaruh dengan ada atau tidaknya sang kakak ipar.
"Bang Vino sepertinya memang sudah bisa mengikhlaskan Kak Ara. Semoga penilaianku tidak meleset," batin Syifana sambil tersenyum lega.
Sementara itu, wajah Ara justru terlihat panik saat melihat adiknya itu berada di rumah milik sang ayah. Perempuan dengan perut besarnya itu menarik tangan sang adik untuk menjauh dari pintu, Alvino yang juga di gandeng oleh Syifana otomatis ikut tertarik juga.
"Kamu ngapain ke sini lagi? Kakak udah susah payah bantu kamu keluar, loh!" Ara terlihat menatap sekelilingnya yang masih sepi. "Kalian pergi saja. Nanti biar ayah kakak yang urus," perintahnya seraya mendorong pelan tubuh adiknya.
"Kak, Fana sengaja kesini untuk menemui ayah," sahut Syifana mengutarakan niat kedatangannya.
Ara sedikit terkejut dengan pengakuan Syifana. Perempuan itu menggeleng tidak percaya. "Jangan mencari masalah, Syifa! Lebih baik kalian pergi. Ayah sedang uring-uringan," usir Ara kepada adik iparnya itu.
"Ace, biarkan kami menemui ayah. Aku akan mencoba memohon ampun padanya," timpal Alvino dengan suara datarnya.
Ara memperhatikan ekspresi wajah dari kedua orang di depannya. Tidak ada sedikitpun raut kebohongan di wajah mereka. "Kalian serius?" tanyanya dengan ekspresi ragu.
"Kakak tidak perlu khawatir. Syifana sudah bisa mengendalikan diri, kok!"
__ADS_1
"Kamu yakin?" tanya Ara sekali lagi mencoba memastikan.
"Kakak tenang saja. Sekarang ayah di mana?"
"Ayah ada di kamarnya. Sejak pulang tadi dia mengurung diri di kamar terus menerus," ungkap Ara tanpa menyembunyikan apapun lagi.
Mereka semua masuk ke rumah bersama, akan tetapi Ara berkata tidak bisa menemani menemui sang ayah dengan alasan bahwa dia harus segera mengerjakan pekerjaan kantornya yang semakin banyak.
"Kakak ini, anak dari direktur perusahaan ternama tapi masih saja hobi kerja. Padahal perut kakak itu sudah sangat membesar," ledek sang adik saat kakaknya itu terus saja giat bekerja.
Ara mendengus kesal. "Masih mending cuma mau urus pekerjaan. Sebenarnya kakak malah sudah sangat merindukan kebiasaan kakak di markas Deadly Scorpion, loh!"
Syifana membelalak tidak percaya. "Awas saja, akan aku adukan pada abang," ancam Syifana yang menganggap gurauan Ara itu adalah sebuah kebenaran.
Ekspresi wajah Alvino masih datar meskipun menjadi saksi perdebatan kedua perempuan cantik yang sama-sama pernah menghuni relung jiwanya. Pria itu sama sekali tidak berniat ikut menimpali obrolan mereka.
"Ha-ha, aku hanya bercanda, Syifa."
"Kak Al, bahkan untuk menyapaku saja sudah tidak bisa," batin Ara tersenyum kecut.
Meski sadar tidak bisa membalas perasaan dari pria di depan yang dulu begitu memiliki obsesi besar terhadapnya, akan tetapi Ara berharap hubungan mereka akan membaik dengan status baru mereka sebagai keluarga. Namun, nyatanya pria itu bersikap seolah-olah tidak saling mengenal.
"Em, ya sudah, Kak. Kami mau menemui ayah dulu," tukas Syifana menghentikan obrolan mereka.
"Em, baiklah!"
Syifana dan Alvino berjalan masuk ke rumah, sedangkan Ara hanya mampu menatap punggung pria yang pernah mati-matian melindunginya bahkan dari ayahnya yang jahat itu, dengan senyum kecutnya.
"Yah, setidaknya kamu sudah berhasil melupakanku, Kak. Semoga kamu selalu bahagia bersama Syifana," gumam Ara dengan sorot mata berkaca-kaca.
Sementara itu, Syifana dan Alvino mengetuk pintu kamar Hendra. Tidak ada jawaban dari dalam membuat perempuan muda itu sedikit merasa sedih. Hanya karena dia, sang ayah sampai mendiamkan seluruh keluarga, bahkan Bude Nur juga ikut terlibat dan akhirnya memutuskan kembali ke kampung.
__ADS_1
"Ayah. Boleh Syifa masuk?" tanya Syifana sambil terus mengetuk pintu.
"Fana, sepertinya ayah tidak mau menemui kamu karena ada saya. Lebih baik saya keluar dulu, ya?"
Syifana menggeleng cepat, perempuan itu buru-buru mengunci tangan Alvino dengan menggenggam erat jari-jari suaminya yang dia satukan dengan jemarinya.
"Kita sudah sampai disini, Bang. Katanya mau berjuang bersamaku, 'kan?"
Alvino mengangguk meski keraguan masih menyelimutinya, akan tetapi sorot penuh harap yang terpancar dari mata indah istrinya itu membuatnya tidak tega.
"Ayah itu sebenarnya pria yang lembut, Bang. Dia bersikap keras seperti ini hanya karena berusaha melindungiku, dan …."
"Dan?" tanya Alvino dengan mata memicing ketika sang istri menghentikan ucapannya.
"Ayah kecewa pada Bang Vino. Apa lagi abang juga sempat mengingkari janji pada almarhumah ibu," lanjutnya dengan suara sendu.
"Bagus jika kau sadar akan hal itu, Syifa. Ayah hanya kecewa karena suamimu itu mengkhianati permintaan terakhir ibumu," sahut seseorang dari belakang.
Syifana dan Alvino langsung membalikkan tubuhnya. Buru-buru Alvino menundukkan kepala sebagai tanda permintaan maaf darinya. Dia juga malu karena dia sendiri yang mengucapkan janji itu kepada seseorang yang sudah sekarat, akan tetapi dengan sadar dia mengingkari janji tersebut.
"Ayah." Syifana melepaskan eratan tangannya dari sang suami dan langsung lari memeluk sang ayah.
Hendra sama sekali tidak membalas pelukan putri bungsunya itu. "Kembalilah, Fana. Kau sudah memutuskan untuk hidup bersamanya, 'kan?"
Ucapan itu membuat Syifana tersentak. Ternyata ucapannya tadi benar-benar melukai hati sang ayah. Pria yang biasanya dengan senang hati memeluknya itu, kini seakan tidak ingin membalas dekapan hangatnya.
"Maafin Syifa, Ayah." Perempuan itu memohon ampunan sang ayah, tubuhnya bahkan merosot ke lantai karena menyesali perbuatannya. "Syifa enggak mau kehilangan orang tua lagi," lanjutnya dengan mata yang tergenang cairan bening.
"Pergilah, Syifa. Ayah sudah tidak akan mengekang kamu lagi," ujarnya seraya mundur ke belakang, seakan berniat menghindar dari putri bungsunya itu.
__ADS_1