
Mendengar suara tawa dari arah belakang, Alvino pun membalikkan tubuhnya. Di sana berdiri seorang pria yang tidak asing di ingatannya. Meski dia tidak begitu mengenal pria itu, akan tetapi Alvino masih ingat jelas siapa pria yang sedang tertawa sinis padanya tersebut.
Dialah Gevano, pria yang pernah menyukai Syifana dulu. Sekian lama pria itu menghilang, sekarang dia datang lagi dengan niat jahat. Alvino tidak bodoh, sebagai seorang mantan penjahat, dia pun paham jika semua ini adalah ulah pria yang saat ini sedang mentertawakan dirinya.
"Kau … Gevano," ucap Alvino geram.
Tawa itu terhenti ketika Alvino menyebutkan namanya. Gevano kini melangkahkan kakinya perlahan ke arah Alvino menatapnya dengan tajam.
"Ya, aku Gevano."
"Apa maksudmu melakukan ini pada istri dan anakku?"
"Kau ingin tahu apa maksudku melakukan ini semua?" Gevano menatap nyalang ke arah Alvino.
Alvino tidak menjawab pertanyaan basa-basi yang diucapkan oleh Gevano. Laki-laki dewasa itu masih memperhatikan pria yang usianya terpaut jauh darinya sedang berjalan mendekatinya.
Ketika jarak keduanya hanya tersisa beberapa jengkal saja, Gevano berhenti. Pria muda itu merogoh sakunya kemudian mengeluarkan sebuah benda pipih yang dia otak-atik sejenak sebelum akhirnya melemparkan benda tersebut kepada Alvino.
Dengan sigap Alvino menangkap lemparan ponsel dari Gevano. Meski masih merasa bingung dengan maksud pria muda di depannya, Alvino paham jika Gevano menyuruhnya untuk melihat sesuatu yang ada di ponsel tersebut.
Sedikit rasa penasaran tentang apa isi di dalam ponsel itu, Alvino pun menyalakan benda canggih yang sempat mati di tangannya. Saat kedua netranya menangkap sebuah foto di dalam ponsel tersebut, Alvino pun terkejut.
"Firman," gumamnya lirih.
Suara itu dapat didengar oleh Gevano, pria muda itu tersenyum kecut saat nama sang sepupu disebut oleh si pembunuh. Sudah sekian lama Gevano mencari tahu tentang keberadaan sang sepupu yang tiba-tiba menghilang, dan baru beberapa bulan ini akhirnya dia mengetahui kebenarannya bahwa firman telah tewas di tangan Alvino, suami dari Syifana.
__ADS_1
"Ya, dia Firman, sepupuku yang kau bunuh dengan keji. Padahal, dia selalu menurut apapun perintah darimu selama ini."
Alvino tentu saja terkejut mendengar ucapan Gevano bahwa Firman, mantan anak buahnya dulu merupakan sepupu Gevano.
"Lalu kau ingin balas dendam?" tanya Alvino yang kini sudah mulai paham dengan situasi yang sedang terjadi.
"Tentu saja. Nyawa dibayar nyawa," ujarnya tanpa ragu.
Alvino hanya menyunggingkan senyum saat Gevano seakan-akan sedang menginginkan kematiannya. Jika benar pria muda itu sangat percaya diri dapat membunuhnya, lalu untuk apa melakukan drama penculikan kepada Syifana dan Arina.
"Kau masih bisa tersenyum Tuan Aldev!"
"Kau tahu nama panggilanku dulu rupanya," ujar Alvino remeh.
"Tentu saja! Sudah lama aku mencari tahu tentang pembunuh sepupuku."
"Karena aku tahu, mereka adalah kelemahanmu."
Suara lain menjawab pertanyaan Alvino barusan di susul dengan tepukan tangan keras. Alvino memperhatikan seseorang yang baru muncul dari balik pepohonan itu dengan seksama. Namun, Alvino sama sekali tidak mengenali seseorang yang wajahnya tertutup topeng tersebut.
"Kau siapa?" tanya Alvino datar.
"Tidak penting aku siapa. Yang jelas, kau harus mati saat ini juga." Seseorang itu mengarahkan sebuah pistol pada Alvino.
David yang melihat seseorang menodongkan pistol pada sang ayah pun segera turun. Bocah kecil itu melupakan perintah Alvino yang menyuruhnya tetap berada di dalam mobil.
__ADS_1
"Ayah." David berlari sambil berteriak memanggil Alvino.
Seseorang yang sedang menodongkan senjata api pada Alvino seketika membalik tubuhnya saat mendengar suara anak laki-laki yang berteriak memanggil sebutan ayah. Dengan langkah cepat, laki-laki itu segera mencegat David yang hendak berlari ke arah Alvino. Melihat itu, Alvino pun geram.
"Lepaskan putraku!" murka Alvino.
"Putramu? Kau benar-benar tidak tahu malu," hardik laki-laki yang kini memegang David dengan erat.
David berontak, berusaha melepaskan diri dari laki-laki bertopeng yang memegangnya. Otak cerdasnya tiba-tiba menemukan cara untuk melepaskan diri tanpa membuang banyak tenaga. Bocah laki-laki cilik itu menginjak kaki laki-laki yang memegangnya dengan keras hingga laki-laki itu melepaskan pegangannya.
Begitu pegangan laki-laki bertopeng itu terlepas, David segera melarikan diri mendekati sang ayah. Alvino langsung menyambut sang putra ke dalam pelukannya.
"David ngapain turun, Nak? Seharusnya kamu tetap berada di mobil."
"Aku tidak ingin ayah menghadapi mereka seorang diri," jawabnya sambil menunjuk dua orang di depannya.
"David, Kembali ke sini!" Laki-laki bertopeng itu semakin murka saat David justru kabur darinya.
"Jangan pernah berani membentak putraku!" sungut Alvino tidak terima.
Laki-laki bertopeng itu tiba-tiba membuka topengnya yang seketika membuat David terkejut. Bocah cilik itu pun menyembunyikan diri di belakang punggung sang ayah.
"Ayah, tolong, jangan biarkan papa membawa kami."
"Dia papa kamu, David?"
__ADS_1
"Iya, Yah. Dia papa jahat," jawabnya ketakutan.
"Anak kurang ajar! Beraninya kau menyebut papamu sendiri jahat."