Dendam Cinta Tuan Alvin

Dendam Cinta Tuan Alvin
Kakak Ipar Cerewet


__ADS_3

"Oh, jadi kehadiranku tidak di terima disini. Baiklah, aku pergi," ucap seseorang itu seraya membalikkan tubuhnya. 


"Ada urusan apa kau kemari?" tanya Alvino penasaran, akan tetapi gengsi untuk mengakui. 


Ali menghentikan langkahnya saat mendapat pertanyaan itu dari si adik ipar. Suami Aracelia itu kembali membalikkan tubuhnya menghadap ke arah si adik ipar yang masih setia berdiri di depan cermin besar. 


"Aku ingin membicarakan tentang Syifa," jawabnya to the poin. 


"Ada apa dengannya?" tanyanya masih pura-pura tidak peduli. 


"Ah, sepertinya aku salah datang kemari. Kau sama sekali tidak peduli pada adikku," ucapnya saat melihat respon Alvino seperti antara mau tidak mau mendengarkan pembicaraannya.


"Tidak usah berbelit-belit. Bicarakan saja apa yang menurutmu penting!" 


Ali mendengus kesal saat mendapat perlakuan kurang baik dari suami sang adik. "Dasar kau adik ipar tidak tahu sopan santun," makinya kepada Alvino.


Meski kesal, akan tetapi Ali tetap melangkah masuk ke kamar adik iparnya. Sedangkan Alvino kini duduk di sofa. Mata tajam itu mengisyaratkan pada Ali bahwa pria itu bisa duduk di sofa kosong di sampingnya. 


"Ada apa sampai kau datang kemari?" tanya Alvino dingin. 


"Aku hanya ingin memastikan dan menegaskan sesuatu padamu," jawab Ali sejenak melirik pria di sampingnya. 


"Memastikan tentang apa?" 


"Apakah kau mencintai adikku?" tanya Ali dengan cepat. 


"Bukankah semua sudah jelas? Aku sudah melepaskan adikmu. Lalu apa lagi yang kalian inginkan?" Alvino menatap Ali dengan wajah datar. 


"Bukan itu jawaban yang ingin aku dengar darimu. Aku ingin tahu, apakah kau mencintai adikku?" jelas Ali dengan tegas. 


"Menurutmu apakah aku mencintai dia?" Alvino justru membalik pertanyaan itu. 


"Kau pikir aku cenayang, bisa menebak perasaan orang lain?" spontan Ali berkata dengan suara keras. 


"Aku tidak menyuruhmu berteriak!" Alvino mengusap telinganya yang terasa berdengung. "Suaramu bahkan bisa mengalahkan suara pistol," makinya kepada sang kakak ipar. 

__ADS_1


Ali menggaruk tengkuknya sebagai pelampiasan rasa malunya. Suaranya barusan memang sangat mengganggu. Telinganya sendiri bahkan juga ikut menjadi korban. 


"Cepatlah, jawab saja pertanyaanku!" Ali mengalihkan kejadian barusan pada poin penting yang membuat dirinya datang ke mansion besar Alvino. 


"Aku tidak mencintainya," elak Alvino seraya memalingkan wajahnya, berusaha menghindari kontak mata dengan pria cerewet di samping. 


Pengakuan barusan terasa menyesakkan dadanya. Nyatanya dia begitu mencintai perempuan yang usianya terpaut jauh darinya itu. Perempuan yang berhasil membuatnya menyadari bahwa cinta itu telah tumbuh subur di hatinya. 


Ali justru menertawakan kebohongan yang dilakukan oleh sang adik ipar. Hal itu sedikit membuat Alvino tersinggung karena selama ini tidak ada yang berani menertawakan dirinya. 


"Kenapa, kau tidak percaya?" tanyanya dengan mata memicing. 


"Burung Pipit pun tidak akan percaya dengan kebohonganmu itu, Vin. Aku peringatkan padamu, jangan sampai kau menyesal suatu saat nanti." 


Alvino tidak menjawab, dia hanya membuang pandangan ke samping. Ya dia sadar bahwa kebohongan itu yang akan membuat dirinya menyesal, akan tetapi untuk saat ini dia masih merasa bersalah pada istri dan mertuanya, terlebih pada sosok ibu mertua yang pernah menitipkan putri kesayangan padanya. 


"Vin, aku tidak pernah tahu bagaimana kau menyiksa adikku selama ini. Dia tidak pernah mau mengakui kejahatanmu padanya, lebih parahnya lagi dia selalu mengatakan kamu adalah orang baik. Padahal kita semua tahu, sepak terjang kehidupanmu selama ini seperti apa," ujar Ali tanpa rasa takut. 


Mendengar ocehan pria di sampingnya, Alvino hanya menanggapi dengan tawa lirih. Ya diapun sadar bagaimana kehidupannya selama ini. Namun pengakuan istrinya itu juga berlaku pada siapapun. Perempuan muda itu selalu menilai dirinya sebagai orang baik. 


"Ya karena kau tidak bisa apa-apa. Mana bisa kau menyiksa seorang Queen Mafia sepertinya," sela Alvino yang kini menemukan kelemahan pria cerewet itu. 


"Si*lan! Jangan memotong dulu." Ali mendelik tajam pada Alvino, meski sebenarnya itu sama sekali tidak membuat sang lawan bicaranya merasa takut. "Adikku mencintaimu, Vin. Jangan patahkan hatinya yang masih mengharapkanmu," ujarnya dengan sorot mata penuh harap. 


"Tapi, ayah?" 


"Biarkan saja dia, yang terpenting jangan menyerah. Nanti juga dia lelah sendiri kalau kau dan Syifa mau berjuang bersama-sama," jawabnya santai seraya bangkit dari duduknya. "Aku pulang dulu, pikirkan baik-baik ucapanku, Vin." Ali menepuk pelan bahu tegap Alvino. 


Keesokan harinya Syifana sudah rapi dengan pakaian feminimnya. Sebuah blouse coklat yang dipadukan dengan rok panjang berwarna putih, sepasang sepatu cats putih serta tas kecil yang tersampir di bahu juga membuat penampilannya terlihat trendy.  


Perempuan muda itu mengetuk pintu kamar sang kakak dengan tidak sabaran, beberapa kali juga berteriak memanggil nama kakak iparnya. Ali yang masih bersama dengan sang istri bahkan sampai keheranan. Pagi-pagi buta sekali adiknya itu sudah mengganggu rutinitasnya menjenguk si bayi kembar. 


"Syifa ngapain, sih, gedor-gedor pintu pagi-pagi begini?" tanya ali dengan kesal, pria itu akhirnya terpaksa menghentikan aktivitas yang sedang di ujung cakrawala tersebut. 


Ara terkikik geli. "Kita bisa lanjutkan nanti, Sun. Sekarang kita lihat dulu, Syifana kenapa." 

__ADS_1


Setelah Ali turun dari ranjang dan langsung melenggang masuk ke kamar mandi, Ara segera memakai lingerie miliknya yang sempat tercecer di lantai. Perempuan yang sedang hamil itu bergegas membukakan pintu untuk sang adik ipar. 


"Lah, Kak Ara kok masih pakai lingerie? Kita jadi pergi, enggak?" tanya Syifana begitu pintu terbuka dan melihat sang kakak masih menggunakan pakaian tugas malam. 


"Hah! Pergi kemana?" tanya Ara kebingungan. 


Syifana menghela napas panjang. Pantas saja di tunggu lama, sepertinya perempuan di depannya ini melupakan janjinya kemarin. 


"Kakak enggak jadi antar Syifa ke kan–," 


"Heh, Syifa! Ngapain pagi-pagi gedor-gedor kamar orang?" tanya Ali yang tiba-tiba muncul di belakang. 


"Em, kemarin kak Ara janji mau ajak Syifa belanja, Kak. Boleh, 'kan?" elak Syifana dengan cepat, beruntung tadi dia sempat melihat ketika sang kakak berjalan mendekat. 


"Mau belanja apa, Moon? Kenapa tidak mengajakku?" tanya Ali beralih pada istrinya. 


Ara tersenyum canggung, dia malu pada sang Adik ipar karena melupakan janjinya kemarin. Padahal di lihatnya sang adik sudah sangat bersemangat. 


"Aku mau belanja perlengkapan bayi, Sun. Lupa, kemarin sudah janji sama Syifa," jawabnya disertai tawa kecil. 


Ali mengangguk mengerti. "Mau aku antar?" tawarnya.


"Tidak perlu!" Kedua perempuan itu menjawab dengan kompak serta dengan nada yang hampir sama. 


"Hm, kalian kenapa aneh, sih!" tutur Ali yang sedikit curiga. 


 "Tidak ada yang aneh! Kamu kan harus bekerja, Sun. Nanti jadi apa perusahaan kalau punya Dirut enggak bisa kasih contoh baik buat pekerjanya," jawab Ara gamblang. 


"Kalian menyembunyikan sesuatu dariku, yah!" tuduh Ali yang justru semakin curiga. 


Bersambung...


Hay, Gays. Author kembali bawa rekomendasi novel kece, nih! Mampir, yah! ke karya ChaCha Shyla dengan judul Chasing My Wife,s Lost Love.


__ADS_1


__ADS_2