
"Kamu kenal Ara, Sayang?" tanya Mama Seren kepada menantunya itu.
"Kak Ara adalah istri dari kakak, Mah," jawab Syifana jujur.
Mama Seren terlonjak kaget, terkejut dengan pengakuan dari menantunya. Namun, kini wanita paruh baya itu memiliki poin penting tentang alasan sang putra akhirnya menikahi perempuan yang ada di hadapannya hanya untuk menyiksa perempuan itu karena dendam, dan dia yakin bahwa penyebab dendam itu adalah Aracelia.
"Ya sudah, kamu istirahat dulu, Sayang!" perintah Mama Seren pada menantu yang masih sedang dalam kondisi yang buruk itu.
Setelah Syifana berbaring di ranjang besar, Mama Seren memakaikan selimut untuk menghangatkan tubuh sang menantu. Dia sudah seperti ibu yang sangat menyayangi putrinya sendiri, bukan mertua pada menantunya.
Begitu memastikan menantunya itu menuruti perintahnya, Mama Seren keluar dari kamar menantunya. Wanita paruh baya itu kembali ke kamarnya sendiri, lalu mengambil ponsel miliknya.
Wanita itu mengirimkan pesan menggunakan aplikasi berlogo gagang telfon dengan warna hijau.
'Al, jangan katakan pada Mama bahwa kamu menyiksa istrimu karena dendam tentang Ara.'
Ponsel milik Alvino berdenting, pria itu langsung merogoh benda canggih yang berada di saku celananya. Ketika membaca pesan yang berasal dari sang ibu, Alvino membulatkan matanya. Dia tidak menyangka bahwa ibunya akan dapat mengetahui hal itu secepat itu.
Ponsel itu kembali berdenting, sebuah pesan kembali masuk ke aplikasi berwarna hijau miliknya. Pria itu kini membuang napas kasar, memejamkan kedua matanya sebentar lalu kembali melangkah menuju kamarnya.
Setelah sampai di kamar, Alvino menatap nanar ranjang king size miliknya. Di sanalah dia begitu tega merampas kesucian sang istri dengan paksa. Kini penyesalannya tidak dapat mengembalikan apapun, terlebih lagi sang ibu justru menghalangi usahanya untuk berbicara empat mata dengan sang istri.
"Ah, aku harus menelpon Fana!" seru Alvino menemukan ide yang mungkin bisa membantunya berkomunikasi dengan istrinya.
Namun, setelah dia mengotak-atik ponselnya, dia justru menepuk keningnya sendiri dengan keras. Begitu bodohnya sampai nomor ponsel sang istri saja dia tidak memilikinya. Jika ada award dengan nominasi tentang suami terburuk, dia pasti memenangkan.
"Ah!" teriaknya seraya membanting ponselnya hingga pecah.
__ADS_1
Andri yang baru saja masuk ke kamar tuan mudanya terkejut saat melihat pria itu membanting ponsel yang baru di belinya Minggu ini. Tangan kanan Alvino itu langsung mendekat.
"Ada apa, Tuan?" tanya Andri dengan tatapan sedih melihat ponsel yang baru di belinya bernasib sama dengan ponsel-ponsel lainnya.
"Aku memang suami buruk, Ndri! Kau bun*h saja aku." Alvino luruh di lantai.
Frustasi dengan apa yang terjadi padanya saat ini, membuat depresinya kembali kambuh. Pria itu memegang kepalanya yang terasa berdenyut hebat. Tidak kuat menahan rasa sakit itu, Alvino tumbang di lantai. Pria itu kehilangan kesadarannya akibat terlalu banyak tekanan yang hadir dalam dirinya.
Sang tangan kanan dengan susah payah memindahkan tubuh tuan mudanya ke ranjang. Pria kepercayaan Alvino itu segera menghubungi dokter pribadi sang tuan muda selama ini.
_
"Bagaimana, Dok?" tanya Andri dengan raut wajah cemas.
"Apakah Tuan Alvin banyak memiliki masalah akhir-akhir ini?" dokter itu membalikkan pertanyaan.
Mau tidak mau memang dia harus mengungkapkan semuanya kepada dokter yang biasa menangani tuan mudanya, agar tidak salah mendiagnosis maupun salah memberikan obat.
"Sudah saya duga, Tuan Alvin merasa tertekan. Batinnya selalu berperang dengan isi kepalanya sendiri, hal itu membuat dia selalu kehilangan kendali. Sekarang saya resepkan obat, nanti kamu tebus obat itu di apotek khusus." Dokter itu menyodorkan sebuah kertas bertuliskan resep obat-obatan untuk Alvino.
Ketika dokter itu berniat pergi dari kamar utama Alvino, pria yang masih dalam keadaan tidak sadar itu meracau. Hal itu membuat sang dokter mengurungkan niatnya. Pria itu mendengarkan apa saja yang keluar dari mulut pasien VVIPnya itu.
"Fana, tolong maafkan saya. Saya janji tidak akan melakukan itu lagi pada kamu, asal kamu mau memaafkan dan menerima saya kembali. Fana, saya mohon. Maafkan saya," racauan itu terus saja di ucapkan Alvino berulang kali.
Dokter dan Andri saling pandang, lalu tatapan mereka fokus pada Alvino yang terlihat tidur dengan gelisah. Keringat keluar dari kening pria tampan itu.
"Siapa Fana, Andri?" tanya dokter itu penasaran.
__ADS_1
"Dia istri yang di nikahi Tuan Muda beberapa waktu yang lalu," jawab Andri tanpa menutup-nutupi tentang identitas Syifana.
"Lalu dimana dia?" tanya dokter itu lebih krisis.
"Nona di bawa oleh Nyonya besar, Dok, dan Tuan Muda di larang menemui istrinya."
"Aku sarankan agar membawa perempuan itu kesini, dia pasti akan membuat keadaan Tuan Alvino lebih baik," saran dari dokter itu membuat Andri mengalami dilema.
"Ya sudah, aku pergi dulu. Kau jaga selalu Tuan Muda," pamit dokter itu pergi dari sana.
Andri menatap kasihan pada tuan mudanya, walau bagaimanapun pria itu hanyalah korban dari sebuah cinta yang tidak terbalas. Tuan mudanya itu sama sekali tidak memiliki niat jahat jika saja tidak termakan dendam atas kekalahannya mendapatkan wanita pujaan.
Cukup lama Andri berpikir, otak dan hatinya bekerja dengan berlawanan. Secara hati, Andri merasa kasihan jika harus membawa perempuan malang itu kembali ke neraka buatan sang tuan muda. Namun, jika mengikuti otaknya, kesembuhan sang tuan muda lebih penting dari segalanya di dunia ini.
Akhirnya Andri merogoh ponselnya yang berada di saku jas yang dia gunakan. Pria itu mencari nomor ponsel Nyonya besar untuk memberi kabar tentang tuan mudanya. Beberapa kali mencoba menghubungi wanita paruh baya itu, akan tetapi selalu di tolak. Andri tidak pernah menyerah, pria itu tetap melakukan panggilan berulang kali hingga akhirnya Nyonya besarnya menerima panggilan darinya.
"Ada apa?" tanya wanita paruh baya itu dengan nada membentak.
"Nyonya, saya mohon jangan siksa Tuan Muda. Saya yakin anda akan menyesal jika terjadi apa-apa dengan putra anda," jelas Andri tanpa basa-basi.
Pria itu sangat paham bahwa ibu kandung Alvino itu tidak suka pada orang yang suka membuang-buang waktu dengan basa-basi tidak penting. Untuk itu, Andri segera menyampaikan apa yang seharusnya di ketahui olehnya.
"Aku tidak peduli lagi dengan anak Kep*rat itu! Kau urus saja Tuan Muda psikopatmu itu!" bentak wanita paruh baya itu tanpa ragu.
Harapan Andri pupus sudah, Tuan Mudanya itu sungguh mengalami nasib sial karena memiliki ibu yang berhati keras seperti Nyonya Seren. Walaupun sebenarnya memang kesalahannya terletak pada Alvino yang sudah kehilangan kendali, begitupun dengan dirinya yang tidak dapat mencegah niat buruk dari tuan mudanya.
Bersambung...
__ADS_1