Dendam Cinta Tuan Alvin

Dendam Cinta Tuan Alvin
Datangnya Twins A


__ADS_3

Ketika mereka hampir melakukan sesuatu yang lebih intim tiba-tiba ponsel Syifana berdering. Perempuan muda itu meminta izin suaminya untuk menerima panggilan itu lebih dulu yang tentunya hanya di iyakan oleh Alvino meski karena terpaksa. 


"Hallo, Bang." 


"Susul kami di rumah sakit, sepertinya kakakmu akan melahirkan, Syifa." 


"Oke, Syifa kesana sekarang!" 


Setelah menerima panggilan itu, Syifana meminta Alvino untuk mengantarnya ke rumah sakit. Walau bagaimanapun mereka juga merupakan keluarga Mahendra, jadi Syifana juga merasa memiliki kewajiban untuk menyambut kelahiran dua anggota keluarga barunya. 


"Ace mau melahirkan, Fana?" tanya Alvino sambil menyetir mobil. 


"Iya, Bang. Twins A akan lahir hari ini." 


Ada perasaan sedih di hati Alvino ketika mendengar keluarga mereka akan bertambah, akan tetapi bukanlah anak mereka melainkan keponakan. Jika saja pada saat itu dia bisa menjaga sang istri, pasti saat ini mereka sedang menikmati indahnya momen kehamilan sang istri. 


"Maaf, Fana." Lagi-lagi Alvino mengucap kata maaf. 

__ADS_1


Syifana menoleh dengan ekspresi bingung. "Maaf kenapa?" 


"Jika saya bisa menjaga kamu, pasti anak kita masih ada dalam perut kamu," ujarnya penuh sesal. 


Tangan Syifana terulur lalu menggenggam erat tangan suaminya. "Bang, percayalah pada takdir. Dia sudah bahagia di surga. Kelak dialah yang akan menunggu kita bersama-sama berkumpul di surga nanti," ujarnya dengan sangat lembut. 


Alvino akhirnya mengangguk pasrah. Mungkin apa yang di katakan oleh sang istri adalah benar. Perempuan muda itu justru lebih bijaksana darinya. Padahal usia mereka terpaut cukup jauh. Dia yang saat ini berusia 28 tahun, sementara sang istri baru akan memasuki usia 18 tahun. 


Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang mereka akhirnya sampai di rumah sakit. Namun, ketika mereka sampai ternyata kedua bayi itu sudah lahir. 


"Iya, Syifa. Jadi sudah tidak perlu lagi memikirkan ingin punya anak lagi. Mereka saja sudah cukup buat kakak," jawab Ara seraya tersenyum lembut. 


"Ah, sekarang saja bilang mereka sudah cukup. Nanti tiga tahun lagi ya mau lah punya anak lagi," sindir Syifana yang tiba-tiba timbul keusilan. 


"Jangan, deh, Dek. Abang lebih baik melawan sepuluh orang sekaligus dari pada melihat kakakmu itu melahirkan lagi. Astaga, Abang jadi Samsak tinju dadakan," keluh Ali disertai gelak tawa. 


"Ah, pasti seru. Sayang tadi Syifa belum sampai. Harusnya tadi aku rekam, yah! Buat kenang-kenangan kalau Kak Ara pernah menghajar Abang," timpal Syifana meladeni gurauan sang kakak. 

__ADS_1


Alvino yang awalnya berada di jarak yang cukup jauh akhirnya mendekat dan menyapa seorang wanita yang kini sudah menyandang gelar ibu itu. 


"Selamat ya, Ace. Aku turut senang untukmu," ujar Alvino tulus. 


"Terima kasih, Kak Al. Semoga kalian juga secepatnya menjadi orang tua seperti kita, yah!" 


"Nama mereka siapa, Kak?" tanya Syifana menyela, dia sengaja tidak ingin membahas perkara anak di antara dia dan Alvino. 


"Ammar Danish Gunawan dan Ameera Daneen Mahendra," jawab Ara sambil menatap kedua anaknya. 


"Wah, nama kombinasi keluarga kita. Kalian ini malas mencari nama lain atau memang terlalu sayang keluarga, sih!" sindir Syifana tertawa lepas. 


"Kau seperti tidak tahu saja. Mereka ini cucu pertama tiga keluarga sekaligus, Syifa." 


"Oh iya, mereka akan jadi penerus Nona Ace, yah!"


"Tidak! Abang ga akan biarkan mereka jadi seperti mamanya. Bisa m*ti muda aku jika menghadapi tiga orang sepertinya," timpal Ali dengan cepat. 

__ADS_1


__ADS_2