Dendam Cinta Tuan Alvin

Dendam Cinta Tuan Alvin
Bujukan Ali


__ADS_3

Saat ini Syifana sedang duduk di taman sendirian. Dia terpaksa mengizinkan sang suami pergi dengan alasan ada pekerjaan penting yang tidak dapat di tinggal. 


Ara menatap sang adik dari kejauhan dengan sedikit rasa bersalah. Semua hal buruk yang kini menimpa perempuan muda itu berawal darinya. Jika saja tidak ada dendam di hati Alvino, tentunya saja kehidupan Syifana masih baik-baik saja. 


"Maafin kesalahan kakak, Syifa. Gara-gara kakak kamu harus merasakan pahitnya kehidupan di usia kamu yang masih remaja," gumam Ara penuh sesal. 


Seseorang menyentuh pundak Ara membuat perempuan hamil itu terkejut. Ketika dia menoleh, sang suami sedang tersenyum lembut ke arahnya. 


"Moon, kamu masih memikirkan Syifa?" tebak Ali yang mendapat jawaban berupa anggukan kepala sang istri. 


Ali merangkul pundak Ara seraya memberikan elusan lembut disana. Tatapan Ali kini beralih pada sosok perempuan muda yang duduk di taman sendirian. 


"Kamu jangan terlalu menyalahkan diri, Moon. Ini bukan kesalahan kamu, aku, ayah, bahkan Aldev, apa lagi Syifana. Ini semua sudah takdir. Semoga dengan adanya kejadian ini, bisa mendewasakan kita sebagai manusia. Bukankah cinta memang harus di uji dan memerlukan perjuangan? Biarkan mereka berjuang dengan caranya sendiri," tutur Ali menasehati istrinya. 


"Tapi … aku–," 


"Syifana itu anak yang kuat, Moon. Kamu lihat sendiri, dia masih baik-baik saja meski sempat di siksa oleh Aldev. Menurut kamu apakah dia wanita yang lemah?" Ali menyela dan meminta pendapat Ara terhadap adiknya. 


Ara memperhatikan Syifana yang kini mulai beranjak dari tempatnya. Perempuan muda itu terlihat akan berjalan ke arah mereka, wajah itu sekilas tersenyum tipis ketika melihat keberadaan kedua kakaknya. 


"Kamu benar, Sun. Dia wanita kuat yang bahkan sampai detik ini tidak pernah membongkar tentang penyiksaan suaminya. Mungkin jika tidak ada kejadian kecelakaan itu, ayah tidak akan pernah tahu." Ara menerbitkan senyum lega. 


Ali mengangguk setuju. "Yang perlu kita lakukan adalah selalu mendukung langkahnya. Bantu dia sewajarnya saja dan selebihnya pasrahkan pada garis takdir yang sudah di tetapkan oleh sang pemilik kehidupan," ujarnya dengan senyum lebar saat melihat sang adik melambaikan tangan. 


Langkah Syifana kini semakin dekat pada kedua kakaknya. Perempuan itu bergegas menghampiri sang kakak yang sejak tadi hanya diam berdiri di tempat, padahal dia mengira mereka akan masuk ke taman. Namun, ternyata hanya berdiri di luar taman saja. 


"Kak, Bang. Kalian ngapain berdiri disana?" tanya Syifana saat sudah berada di depan Ali dan Ara. 


"Em, kita mau ajak kamu makan malam, Syifa." 

__ADS_1


"Loh, ngapain nunggu Syifa. Harusnya kakak makan aja dulu, Syifa bisa makan sendiri nanti," ujar Syifana yang merasa tidak enak. 


"Em. Kakak juga maunya gitu, tapi si Twins A pengen makan bareng aunty katanya." Ara beralasan itu karena ngidam. 


Syifana terkekeh pelan. "Si Twins A pasti sekarang lagi kesel, deh! Mamoy tega banget jadiin mereka alasan," ujar Syifana yang paham bahwa sang kakak sedang berbual. 


Ara menggaruk tengkuknya serta memasang ekspresi wajah malu. "Sepertinya gara-gara lama fakum, keahlian mafia kakak jadi hilang, deh! Masa cuma ngeboongin aunty si Twins A aja gagal," keluhnya kepada sang adik. 


"Sudah-sudah! Ayo makan. Aku sudah kelaparan sejak tadi," lerai Ali sambil menggandeng tangan sang adik. 


Sulung dari dua bersaudara itu mengajak kedua wanita tersayang untuk masuk ke rumah. Masih dengan merangkul mesra sang istri serta menggandeng tangan adiknya. 


Di meja makan sudah tersedia beberapa hidangan yang sudah di sajikan oleh beberapa pelayan. Namun, sang ayah belum ada di tempat itu. 


"Syifa panggil ayah dulu, ya, Kak." 


Sebagai anak pertama, Ali akhirnya sadar bahwa dia yang harus mengalah dengan mengesampingkan egonya demi membuat keluarga agar kembali hangat seperti dulu. 


Ali mengetuk pelan pintu kamar ayahnya. "Yah, Ali masuk, ya?" 


Meski tidak mendapatkan jawaban, Ali tetap membuka pintu kamar sang ayah. Pria itu berusaha mengontrol diri untuk tidak lagi mendebat ucapan sang ayah. Dia hanya akan berusaha memberikan pengertian pada pria yang usianya sudah mencapai setengah abad itu. 


Saat masuk ke dalam kamar sang ayah sempat melirik ke arahnya, sebelum akhirnya kembali memalingkan wajah. Ali tetap memberanikan diri untuk melangkah mendekat pada ayahnya. 


"Mau apa kesini?" tanya Hendra tanpa menatap sang putra. 


Ali berdiri mematung di tempat dengan raut wajah sedih. "Ali mau ajak ayah makan," lirih Ali. 


"Ayah tidak lapar!" Hendra menjawab masih tetap tidak mau menatap putranya. 

__ADS_1


Rasa kecewa pada kedua anak yang kini berani membangkangnya membuat dia enggan melihat wajah kedua anak yang dulu selalu dibanggakan. Baginya kini mereka sudah dewasa dan tidak lagi membutuhkan dia sebagai orang tua. 


Penolakan yang dilakukan oleh Hendra tidak membuat Ali menyerah. Dia justru melanjutkan langkah hingga tepat berada di hadapan pria yang paling berjasa dalam kehidupannya. 


Ali menjatuhkan bok*ngnya di samping sang ayah. Mereka kini duduk berdampingan di ranjang. Ali memperhatikan raut wajah datar ayahnya. 


"Ayah, boleh Ali bertanya?" 


Sang ayah tetap diam tidak menjawab. Namun, Ali tahu bahwa pria di sampingnya itu tidak keberatan untuk mendengarkan pertanyaan dari putra satu-satunya. 


"Ayah mencintai ibu?" tanya Ali yang langsung membuat Hendra melirik tajam ke arahnya. 


Ali tersenyum lebar saat di hadiahi lirikan mematikan dari ayahnya sendiri. "Bodoh! Ali bodoh, Yah. Mana mungkin ayah tidak mencintai ibu. Sudah jelas, satu dunia tahu sebesar apa cinta ayah pada ibuku." Ali mengoceh tanpa peduli jika nanti pria di sampingnya itu akan menghajar mulut kurang ajarnya. 


Walaupun tidak mendapatkan jawaban ataupun respon apapun dari sang ayah, nampaknya Ali belum mau menyerah. Pantang pergi sebelum berhasil membawa ayahnya kembali, itulah tekad Ali saat ini. 


"Ayah tahu tidak?" Ali menatap sang ayah yang masih diam. "Ali sih yakin, Yah. Ibu pasti kecewa kalau tahu ayah sekarang mendiamkan anak-anak kesayangannya," oceh Ali yang menyengir kuda saat lagi-lagi mendapat lirikan dari sang ayah. 


"Kalau ibu masih disini juga pasti akan marah pada ayah, karena berusaha memisahkan Syifana dari suaminya. Bukankah ibu pernah bilang, kejahatan tidak perlu di balas dengan kejahatan. Justru kita harus membalas orang jahat itu dengan cinta dan kasih sayang kita yang berlimpah ruah. Itu akan membuat orang itu sadar bahwa kita tidak pantas mendapatkan kejahatan itu," tutur Ali yang bernostalgia pada masa-masa saat sang ibu masih hidup. 


Ali sedikit melirik sang ayah yang ternyata sedang menangis tanpa suara. Sepertinya pria paruh baya itu juga ikut mengenang masa-masa indah bersama istrinya yang memiliki hati seluas samudera. 


"Kita juga harusnya memperlakukan suami Syifana dengan cara itu, Yah. Bukan malah menyiksa Syifana yang sudah terlanjur jatuh cinta padanya. Berikan dia kesempatan untuk belajar menjadi suami yang baik," saran Ali kali ini dengan ekspresi serius. 


"Kalau dia tidak berubah juga?" tanya Hendra sambil menyeka jejak air mata yang mengalir di pipinya. 


"Ali sendiri yang akan memberikan perhitungan padanya! Bahkan jika harus memb*nuhnya sekalipun," jawab Ali tanpa ragu. 


__ADS_1


__ADS_2