Dendam Cinta Tuan Alvin

Dendam Cinta Tuan Alvin
Adopsi


__ADS_3

Seorang anak perempuan berusia dua belas tahun berlari menuruni tangga di sebuah mansion megah. Wajahnya ceria seakan baru saja mendapat hadiah besar yang begitu dia sukai. Anak itu terus berlari menuju seorang wanita yang sedang menemani seorang anak laki-laki berusia sepuluh tahun belajar di ruang tamu. 


"Arina, jangan lari-lari, Sayang. Nanti kamu jatuh!" tegur wanita cantik itu dengan lembut. 


"Tidak, Bu. Arina tidak berlari, kok!" elaknya langsung berjalan pelan. 


Wanita cantik dengan rambut panjang itu menggeleng pelan. Tidak terasa waktu berjalan begitu cepat. Anak kecil yang lima tahun lalu di adopsi secara sah olehnya bersama sang suami kini sudah beranjak remaja. Gadis cantik itu semakin lama semakin terlihat bersinar berkat kecerdasannya. 


Masih jelas di ingatan Syifana saat lima tahun yang lalu dia tiba-tiba mendapat dua anugerah sekaligus. Sintia, teman baik suaminya yang tengah kritis menyerahkan hak asuh kedua anak-anaknya yang masih kecil pada mereka. 


"De-v, tol-ong ja-ga putra dan putriku. A-aku mem-perca-yakan me-reka pada ka-lian," pinta Sintia terbata. 


"Kamu jangan bicara aneh-aneh, Sin. Kamu pasti sembuh demi anak-anak kamu!"


"Ak-u sud-ah tid-ak ku-at, Def. Ka-takan pada me-reka bahwa aku sa-ngat meny-ayangi me-reka."


Ucapan itu terhenti bersamaan dengan suara bunyi yang begitu nyaring dari mesin monitor di samping ranjang pasien. Kedua mata wanita itu terpejam sempurna menandakan tiada kehidupan lagi di dalam raga tersebut. 

__ADS_1


Alvino yang panik segera memanggil dokter. Namun, beberapa saat sang dokter menangani pasien ternyata tidak dapat diselamatkan. Syifana yang berada di samping suaminya hanya bisa menenangkan sang suami dengan mengelus lembut punggung sang suami. 


"Kita turuti saja permintaan dia, Bang. Fana tidak keberatan untuk mengadopsi kedua anak wanita itu," ujar Syifana tenang. 


Alvino menatap sang istri tidak percaya. Wanita yang pernah dia sia-siakan itu memiliki hati yang begitu baik dan peduli pada orang lain. Terbukti istrinya itu yang mengambil keputusan untuk mengadopsi kedua anak yang bahkan belum pernah mereka lihat. 


Keduanya keluar dari kamar perawatan Sintia dengan lemas. Apa yang harus mereka katakan kepada kedua anak kecil yang malang itu. 


Saat mereka sedang menunggu jenazah Sintia di urus oleh pihak rumah sakit, Andri datang bersama dua anak kecil. Satu perempuan dan satunya lagi laki-laki. 


Syifana yang lebih dulu menoleh, wanita cantik itu terkesima dengan kedatangan kedua makhluk hidup yang begitu terlihat lucu dan menggemaskan. Namun, sedikit rasa iba tiba-tiba merasuki Syifana. 


Tanpa aba-aba Syifana mendekap erat tubuh mungil kedua anak tersebut. Setetes air mata jatuh saat merasa takdir yang harus dijalani oleh anak-anak ini lebih tragis darinya. Dia saja yang kehilangan seorang ibu di usia yang sudah dewasa merasa sangat terpukul. Bagaimana dengan kedua anak yang kini dia dekap erat ini.


Beberapa saat kemudian Syifana melepaskan pelukannya dari kedua tubuh mungil kedua anak itu. Syifana juga tidak ingin jika kedua anak itu merasa ketakutan akibat dia terlalu agresif.  


"Tante siapa?" tanya si anak perempuan. Sementara itu, si anak laki-laki justru masih terlihat ketakutan. 

__ADS_1


"Kenalin, nama Tante Syifana. Nama kalian siapa?" 


Syifana mengajak kedua anak itu untuk berkenalan. Wanita yang merupakan anak bungsu itu terlihat sangat mudah mengambil hati anak-anak di depannya. 


"Namaku Arina, ini adikku, David." Gadis mungil itu menunjuk sang adik dengan jemarinya. 


"Baiklah, Arina dan David. Mulai saat ini, kalian akan tinggal bersama Tante Syifa dan Uncle Vino," ucapnya yang langsung membuat kedua anak itu terkejut. 


Niat mereka datang ke rumah sakit adalah untuk bertemu mamanya. Namun, saat ini justru orang lain yang menemuinya dan tiba-tiba mengatakan mereka akan tinggal bersama. 


"Ibu, kenapa malah bengong! Arina sudah rapi belum?" 


Rengekan Arina menarik kesadaran Syifana dari lamunannya di masa lalu. Wanita yang kini sudah resmi menjadi orang tua angkat kedua anak itu tiba-tiba terkenang dengan saat-saat pertemuan pertamanya dengan kedua anak-anak yang saat ini menjadi tanggung jawabnya. 


"Iya, Sayang. Kamu sudah rapi, kok!" 


"Ibu melamun, yah!" tuduh Arina yang mulai peka di usianya sekarang. 

__ADS_1


__ADS_2