
"Arina mau berangkat diantar ayah boleh ya, Bu?" tanya gadis remaja itu dengan sorot mata penuh harap.
"Memangnya Arina sudah bilang sama ayah?" tanya balik Syifana seraya merapikan barang-barang milik David.
"Sudah! Ayah bilang boleh, kok!"
"Ya sudah kalau ayah tidak keberatan. Tapi Arina tidak boleh jajan sembarangan, yah! Makan bekal yang ibu bawakan."
"Siap, Bos!"
"David mau ikut antar Kak Arina, ya, Bu?"
Bocah laki-laki itu ikut menimpali ketika mendengar sang kakak akan diantar oleh ayahnya. David memang sangat dekat dengan Alvino, karena ayahnya itu selalu menyempatkan diri bermain dengannya. Jika keluar kota ataupun luar negeri bahkan David beberapa kali pernah ikut. Padahal, sang ayah pergi dengan tujuan bekerja, bukan jalan-jalan.
"Tapi setelah antar Kak Arina, ayah langsung berangkat ke kantor," jawab Syifana seraya mengusap kepala David.
"Tidak apa-apa, David suka main di kantor ayah," jawab David tanpa ragu.
Syifana tertawa kecil lalu dengan gemas mencubit pelan hidung putra angkatnya itu hingga David berteriak minta dilepaskan. Bocah kecil itu mencebikkan bibirnya saat sang ibu melepaskan cubitannya.
"Ibu selalu saja suka mencubit hidung David, kalau nanti patah bagaimana?"
"Tenang saja, kalau patah nanti ayah tambal pakai hidung ayah." Alvino yang baru saja datang langsung merangkul pundak David.
"Ayah!" rengek David tidak terima karena sang ayah justru berpihak pada ibunya.
"Baiklah-baik, David boleh ikut ayah, tapi ada syaratnya."
"Apa syaratnya, Yah?" tanya David antusias.
"Jangan menggoda tante-tante yang kerja di kantor ayah," goda Alvino sambil tertawa mengejek.
__ADS_1
David langsung bersedekap dada dengan mimik wajah kesal. Ayahnya itu sering kali menggodanya dengan kata-kata itu. Padahal yang terjadi sebenarnya adalah para karyawan ayahnya lah yang selalu menggoda dan selalu heboh saat dia datang.
"Kalau aku sudah besar, sudah aku pecat semua karyawan ayah yang kecentilan itu!"
Alvino dan Syifana langsung tertawa karena melihat tingkah David yang bertingkah seperti seorang bos itu. Namun, ada bahagia yang tidak dapat digantikan dengan apapun asalkan dapat melihat kedua anak-anak itu bersama mereka.
"Wah-wah-wah! Adikku ini sudah berlagak seperti seorang CEO saja," sindir Arina yang sejak tadi diam saja.
"Biarkan saja! Lagi pula perusahaan ayah nantinya juga akan menjadi milikku, ya kan, Yah?"
"Iya, Sayang." Alvino menyentil hidung mancung sang putra.
"Sudah, jangan berdebat terus. Sana berangkat! Nanti Arina kesiangan."
"Aku berangkat dulu, Sayang! Kamu baik-baik di rumah ya," pamit Alvino seraya mencuri kecupan di pipi istrinya.
"Bang, malu," tegur Syifana mendorong suaminya menjauh.
"Malu kenapa? Suami yang cium ini."
"Ayo, David!" ajak Arina yang tidak ingin melihat drama yang diperankan oleh kedua orangtuanya.
Keduanya memutuskan untuk menunggu sang ayah di mobil. Arina dan David sebenarnya juga senang dengan keromantisan sang ayah dan ibunya. Mereka sengaja pergi agar tidak mengganggu kesenangan orang tuanya saja.
Beberapa saat kemudian sang ayah muncul dari pintu. Laki-laki tampan dengan pakaian rapi itu berjalan cepat menuju mobil seraya melihat arloji yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.
"Tidak ada yang tertinggal, 'kan?" tanya Alvino setelah duduk di kursi kemudi.
"Tidak, Yah. Ayo berangkat!"
Mobil melaju kencang setelah keluar dari pintu gerbang. Alvino sepertinya sedang buru-buru. Terbukti wajahnya terlihat tegang dan beberapa kali melirik arloji di tangannya.
__ADS_1
"Ayah buru-buru, yah?" tanya Arina yang duduk di kursi belakang.
"Iya, Sayang. Gara-gara Om Andri cuti, ayah jadi banyak sekali pekerjaan," jawab Alvino semakin mempercepat laju mobilnya.
"Maaf, Yah. Arina jadi semakin membuat ayah kerepotan. Atau Arina turun di sini saja, nanti bisa naik taksi," ujar anak remaja itu merasa bersalah.
"Tidak, Arina. Ayah tetap akan mengantar kamu sampai di sekolah. Ini sudah kewajiban orang tua untuk meluangkan waktu memberi perhatian pada anak-anaknya," jelas Alvino lembut.
Arina tersenyum bangga pada laki-laki yang sedang mengendarai mobil yang mereka tumpangi itu. Masih jelas di ingatan gadis remaja itu bahwa laki-laki yang dia panggil ayah itu bukanlah ayah kandungnya. Namun, kasih sayang yang diberikan melebihi apapun di dunia ini. Ayah kandungnya sendiri bahkan dulu selalu menyia-nyiakan mereka.
"Terima kasih, Ayah," ujarnya dengan netra berkaca-kaca.
"Your welcome, Sayang! Kamu yang semangat les baletnya, yah! Nanti ayah pasti datang saat kamu lomba," pungkasnya memberi semangat kepada putri sulungnya.
"Baik, Ayah!"
"David, kamu dari tadi asyik main game saja. Memangnya kamu tidak ingin punya kegiatan lain?" tanya Alvino beralih pada sang putra yang duduk di sampingnya.
"Ada, Ayah! Tapi tidak perlu dipikirkan sejak sekarang. David masih terlalu kecil untuk hal itu," jawabnya tanpa melepas pandangan dari ponsel.
Alvino dan Arina mengerutkan kening saat mendengar jawaban David. Entah apa yang direncanakan oleh anak itu untuk masa depannya.
"Memangnya kamu ingin jadi apa, David?" tanya Arina penasaran.
"Jadi apa lagi? Ya jadi seperti ayah lah!"
"Apa?"
Terkejut, Alvino sampai reflek menginjak pedal rem hingga mobil berhenti mendadak. Beruntung tidak ada satupun kendaraan yang berada di belakangnya. Jika tidak, mungkin akan terjadi kecelakaan.
"Kenapa berhenti mendadak, sih, Yah?" tanya David dengan santai.
__ADS_1
"Maksud kamu jadi seperti ayah bagaimana?" tanya balik Alvino dengan raut wajah tegangnya.