
Sudah hampir satu bulan Syfana hanya mengurung diri di kamar. David dan Arina yang dengan sabar menemani ibu angkatnya pun sudah hampir frustasi. Sebab, Syfana seperti enggan menghiraukan siapapun yang ada di sekitarnya.
Arina yang merasa kasihan dengan kondisi sang ibu pun memutuskan untuk meminta bantuan dari tantenya, Ara. Remaja cantik itu menghubungi sang Tante saat ibunya tidak mau makan selama dua hari.
"Sebentar lagi tante ke sana, Arin. Kamu coba bujuk ibu dulu, ya," ucap Ara ketika sang keponakan menghubunginya.
"Baik, Tante."
Usai menghubungi sang tante untuk meminta bantuan, Arina kembali mendekati ibunya yang masih saja duduk di ranjang dengan tatapan mata kosong. Anak remaja cantik itu merasa tidak becus menjaga ibunya, padahal sebelum pergi sang ayah sudah berpesan padanya untuk selalu menjaga sang ibu.
"Maaf, Yah. Arina belum bisa menjaga amanat dari ayah," gumam Arina, sambil menatap sedih kondisi ibunya.
Wanita hamil itu semakin kurus saja. Wajah yang dulu segar bugar, kini berganti pucat tak bertenaga. Setiap harinya wanita itu selalu rutin menanyakan keberadaan sang suami yang sampai saat ini tidak kunjung kembali.
Arina berjalan pelan mendekati sang ibu. Dia mendudukkan dirinya di samping ibunya yang sama sekali tidak menyadari keberadaanya. Dibelainya punggung tangan wanita hamil itu dengan penuh kasih.
"Ibu," panggil Arina lirih.
Syfana menoleh, lalu tersenyum kecil ketika melihat putrinya menatap ke arahnya. "Arina tidak sekolah?" tanya Syfana pelan.
Arina menggeleng. "Arina mau jagain Ibu saja," jawabnya singkat.
__ADS_1
Usai mendengar jawaban sang putri, Syfana mengangguk kecil. Setelah itu dia kembali melamun seperti semula. Tidak lama berselang, pintu kamar utama terbuka. Arina tersenyum lega ketika melihat sang Tante datang.
"Tante Ara!" Arina menghambur ke pelukan Aracelia.
Ara memeluk keponakannya itu, memberikan elusan lembut di bahu anak remaja yang kini terlihat sangat sedih. "Arina sudah makan belum?" tanya Ara setelah memastikan Arina sudah lebih baik.
Gelengan kepala dari anak remaja itu direspon dengan senyum tipis oleh Ara. "Sekarang Arina makan dulu, ya. Ibu biar tante yang urus," perintah Ara dengan lembut.
Arina sempat menoleh ke arah Syfana, kemudian kembali menatap Ara yang mengedipkan mata sebagai tanda bahwa ibunya akan baik-baik saja. "Arina percaya sama tante, ya," ucap Ara meyakinkan.
Kini Arina menurut, remaja perempuan itu keluar dari kamar utama mansion mewah yanh menjadi tempat tinggalnya selama lima tahun terakhir. Gadis remaja itu yakin bahwa tantenya akan bisa membuat sang ibu menjadi lebih baik.
"Kak Ara datang, masa dicuekin, sih." Ara memulai obrolan dengan menyindir adik iparnya itu.
Lagi, Syfana menoleh, kemudian tersenyum lembut. "Kakak apa kabar?" tanya Syfana pelan.
"Kakak baik. Twins juga baik. Mereka kangen tantenya," ujar Ara yang sengaja memancing Syfana dengan obrolan mengenai si kembar.
"Ammar dan Ammera," kata Syfana lirih.
"Iya, mereka rindu kamu, Syfa."
__ADS_1
Syfana mulai tertarik dengan obrolan kali ini. Untuk pertama kalinya, Syfana begitu antusias saat ada yang mengajaknya berbicara.
"Mereka sudah besar, ya, Kak. Syfa juga rindu," ucap Syfana dengan notasi yang sedikit lebih bersemangat.
"Kamu mau ketemu mereka?" Ara menawarkan.
"Mau," jawabnya singkat, tetapi dengan mata berbinar.
"Kalau begitu kamu harus makan dulu. Nanti, Kakak suruh orang buat anterin mereka ke sini," kata Ara berusaha membujuk Syfana.
*****
Di belahan bumi yang sama, hanya berbeda negara saja. Seorang pria tengah duduk di sofa tunggal. Di pangkuannya terdapat selembar foto seorang wanita tercintanya. Dibelainya penuh kasih potret tersebut. Setetes cairan bening jatuh di atas punggung tangannya.
"Aku rindu kamu, Sayang," ucap pria itu.
Bersambung...
Ada yang setuju kalau cerita ini aku lanjutkan? kalau iya, jangan lupa tinggalkan jejak, ya. Oh, iya, sambil nunggu up Novel Dendam Cinta Tuan Alvin, boleh mampir ke karya terbaru aku dengan judul *Dikira Mandul Ternyata Subur. Mohon dukungannya, Gays. I love you.
__ADS_1