
Seorang pria mengerjapkan kedua matanya, perlahan kedua mata itu terbuka sempurna. Pria itu terkejut ketika melihat ada rambut yang menumpuk di tangan kanannya. Pria itu berusaha untuk membuka rambut yang menutupi wajah seseorang itu dengan tangan kirinya. Ketika berhasil mengalihkan rambut yang menutupi wajah seseorang itu, dia semakin terkejut.
"Fana," gumamnya lirih.
"Enggak, ini pasti mimpi! Fana tidak mungkin berada disini," ujar pria itu tidak percaya.
Untuk memastikan apakah yang dia lihat nyata atau ilusi, pria itu mengelus pipi mulut perempuan tersebut. Sentuhan itu membangunkan sang perempuan dari tidurnya. Ketika sadar tangan pria itu berada di wajahnya, perempuan itu langsung bangkit dan menjauh.
"B-bang Vi-no sudah sadar?" tanya Syifana gugup.
"Kamu di sini, Fana,"
__ADS_1
Bukannya menjawab, Alvino justru mengalihkan pembicaraan. Pria itu masih tidak percaya dengan apa yang di lihatnya. Sang istri benar-benar ada di hadapannya.
Kini Alvino mencoba untuk bangkit dari posisi berbaringnya. Pria itu menatap sang istri begitu dalam. Rasa lega karena dapat melihat perempuan yang kini sudah sah menjadi pasangannya itu.
Syifana yang melihat sang suami bangkit justru merasa takut. Perempuan muda itu takut jika suaminya akan kembali melakukan penyiksaan pada dirinya. Padahal ketika pria itu tidak sadar, Syifana begitu telaten mengurus sang suami. Perempuan itu bahkan menangis ketika melihat kondisi sang suami yang memburuk.
Penjelasan dari Andri yang membuat dirinya akhirnya memutuskan untuk kembali ke mansion pribadi sang suami, walaupun sang mertua tidak mengizinkan. Syifana tetap bersikeras kembali ke tempat yang lebih pantas di katakan sebagai penjara itu.
Bayang-bayang penyiksaan pria itu kembali muncul, Syifana memejamkan kedua matanya. Pasrah dengan apapun yang akan terjadi kali ini, lagi pula ini sudah keputusannya untuk kembali ke mansion sang suami walaupun sudah di tentang oleh sang mertua.
Kedua tangan Syifana terkepal erat, kepalanya bersandar di dinding yang menghalangi jalannya untuk kabur. Perempuan itu sudah membayangkan bahwa sang suami di depannya sedang bersiap untuk menghajarnya. Namun, beberapa saat menunggu, perempuan itu sama sekali tidak merasakan tangan sang suami yang menyentuh sedikitpun kulitnya.
__ADS_1
Syifana berusaha membuka kedua mata untuk memeriksa apa yang terjadi, ketika mata indah itu terbuka, sang suami tengah mematung tepat berada di hadapannya. Takut sang suami akan melayangkan pukulan, mata Syifana kembali tertutup rapat. Akan tetapi, detik berikutnya dia merasakan sesesok manusia memeluk tubuhnya begitu erat. Ada kepala yang bersandar di ceruk lehernya.
Perempuan itu bahkan merasa ada air yang menetes di pundaknya. Syifana terdiam, matanya tetap terpejam erat. Entah kenapa rasa ketakutan yang sejak tadi menguasai dirinya, kini hilang secara tiba-tiba. Pelukan ini bahkan terasa seperti pelukan erat dari ibunya yang kini sudah meninggal dunia.
Saat tangan Syifana yang terkepal erat itu terbuka, perempuan itu berniat membalas pelukan yang terasa sangat nyaman itu. Ketika tangan Syifana hampir melingkar erat di punggung sosok yang memeluknya, sebuah suara menghentikan kegiatannya.
"Alvino Maladeva, lepaskan menantuku sekarang juga!"
Suara itu membuat Syifana terkejut, dia yang semula mengira bahwa dirinya tengah membayangkan pelukan dari ibunya. Kini membuka mata, seorang yang masih memeluknya sekarang bukanlah sang ibu. Melainkan sang suami yang bersikap kejam padanya.
Perempuan itu langsung mendorong tubuh itu menjauh darinya. Syifana langsung berlari ke arah wanita paruh baya yang menatap ke arahnya di ambang pintu kamar.
__ADS_1
Bersambung...