
Isak tangis terdengar pilu dari seorang wanita yang berada di dekapan wanita lainnya. Beberapa orang yang juga berada di tempat itu menatap sendu pada si wanita yang sedang menangis.
Seorang bocah laki-laki berjalan mendekat ke arah si wanita yang sedang menangis itu kemudian membelai lembut punggung bergetar wanita tersayangnya.
"Ibu, jangan menangis lagi. Ada David yang akan menjaga ibu mulai saat ini," ujar bocah polos itu.
Syifana, wanita yang masih menangisi kepergian sang suami yang entah saat ini bagaimana kabarnya. Jika memang suaminya itu meninggal, kenapa jasadnya tidak bisa ditemukan bahkan oleh pasukan khusus yang dibawa oleh Reiner.
"Apa yang dikatakan David benar, Syifa. Jangan menangis terus! Kasihan anak-anak kamu," timpal Ara, kakak ipar Syifana yang masih memeluk erat sang adik ipar.
"Syifa harus bagaimana, Kak? Bang Vino dimana? Jika memang dia sudah tiada, dimana jasadnya, Kak?"
"Kamu sabar, yah! Pasukan Deadly Scorpion sedang menyusuri hutan itu. Kak Ara yakin, Kak Al tidak mungkin kalah secepat ini."
"Ara, jangan membuat harapan untuk Syifa. Kita tidak tahu seperti apa musuh Aldev tadi," tegur Reiner dengan cepat.
"Kak!"
"Lebih baik Syifa terluka sekarang dari pada dia hancur setelah memiliki harapan yang tinggi atas keselamatan aldev."
Bulir bening itu semakin deras keluar dari kedua sudut mata Syifana. Ucapan Reiner memang benar, tetapi Syifana tentu saja belum siap jika harus menerima kenyataan terburuknya.
Ali yang baru saja datang langsung memeluk sang adik. Sebagai seorang kakak, Ali sangat paham bagaimana sang adik begitu mencintai suaminya. Kejadian yang menimpa Alvino tentu saja menghancurkan kehidupan Syifana.
__ADS_1
"Sabar, Syifa. Bang Ali akan ikut mencari suamimu," tutur Ali berusaha menenangkan sang adik.
*****
Malam harinya, Syifana sedang duduk termenung di kamar yang biasanya menjadi saksi bisu percintaan Syifana bersama Alvino. Di tangannya memegang sebuah benda berukuran kecil yang seharusnya pagi tadi dia tunjukkan kepada suami tercinta. Namun, karena permintaan David yang tiba-tiba meminta ditemani belajar membuat Syifana menunda niatnya.
"Bang, seharusnya sekarang kita sedang bahagia. Setelah sekian lama kita bersabar, Allah memberikan kita keturunan. Tapi, kenapa sekarang kamu justru menghilang?"
Ya, Syifana hamil setelah bertahun-tahun menunggu kehadiran buah hati yang akan lahir dari rahimnya. Meskipun telah memiliki Arina dan David, nyatanya dalam lubuk hati Syifana tetap menginginkan buah hati yang terlahir sebagai bukti cintanya dengan sang suami.
Saat Syifana sedang menatap sendu sebuah tespeck yang berada di tangan kanannya, tiba-tiba ponselnya bergetar, sebuah pesan masuk ke benda pipih miliknya. Syifana masih belum menghiraukan ponselnya itu. Hingga beberapa pesan ikut menyusul membuatnya terpaksa mengambil benda canggih pemberian sang suami.
"Siapa, sih? Tidak tahu orang sedang sedih!" gerutu Syifana kesal.
Penasaran dengan isi voice note yang dikirim oleh nomor asing itu, akhirnya Syifana membukanya. Suara yang begitu dirindukan oleh wanita itu menyapa pendengarannya.
"Sayang, maafkan aku jika harus meninggalkan kamu. Aku memang bisa saja melawan mereka, tetapi rasa bersalahku pada Firman, akan aku bayar saat ini juga. Maafkan aku karena harus mengalah, jaga anak-anak kita dengan baik, yah! Aku mencintaimu, Syifana Mahendra."
Begitulah isi voice note yang didengar oleh Syifana. Ponsel yang semula digenggam erat kini terjatuh ke lantai setelah Syifana melepaskan benda tersebut.
"Bang Vino!" teriak Syifana.
Ara yang kebetulan sedang berjalan menuju kamar adik iparnya itu terkejut mendengar teriakan sang adik ipar. Takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, Ara pun berlari dengan cepat dan segera membuka pintu kamar.
__ADS_1
Begitu pintu terbuka, Ara kembali berlari saat melihat Syifana menangis histeris. Wanita beranak dua itu langsung mendekap erat sang adik ipar.
"Kamu kenapa, Syifa?" tanya Ara khawatir.
Syifana menatap Ara dengan ekspresi sedihnya. Air mata masih deras mengalir dari kedua sudut mata indahnya.
"Bang Vino, Kak. Bang Vino tega!"
"Tega gimana, Syifa? Tenanglah! Reiner, Ali, dan semua anggota Deadly Scorpion sedang mencari keberadaan Kak Al."
Syifana menggeleng lemah, "Percuma, Kak. Bang Vino sendiri yang dengan senang hati menyerahkan diri kepada mereka. Sekarang, mungkin Bang Vino sudah meninggal," ucap Syifana frustasi.
"Hei! Kamu jangan sembarang ngomong, Syifa. Kak Al bukan orang bodoh! Dia tidak mungkin meninggalkan kamu hanya untuk mengalah kepada musuh-musuhnya!" tegur Ara.
Syifana memejamkan matanya seraya menarik napas dalam-dalam. Pasokan udara dalam rongga dadanya terasa semakin menipis. Kenyataan yang terjadi saat ini benar-benar menghancurkan kehidupannya.
"Apa yang harus aku lakukan, Kak? Apakah aku bisa mengurus tiga anakku sendirian tanpa Bang Vino?"
"Tiga? Maksud kamu?"
"Kakak lihat ini." Syifana menunjukkan tespeck dengan dua garis merah sebagai hasilnya.
"Kamu hamil?" tanya Ara dengan ekspresi terkejut.
__ADS_1
"Ya, dan aku hamil saat ayah dari anak yang aku kandung tega meninggalkan kami untuk bertanggung jawab atas kesalahan di masa lalu."