
"Kenapa menangis?" tanya Alvino melerai pelukan erat Syifana setelah cukup lama pria itu membiarkan sang istri mendekap tubuhnya.
"Abang jahat bsnget! Fana udah ketakutan tadi." Syifana memukul pelan dada bidang Alvino sambil sesegukan.
Si pria membiarkan sang istri memukulinya tanpa menghalang-halangi. Saat pukulan Syifana sudah berhenti, Alvino menangkup wajah sang istri yang kini basah oleh air mata.
"Kamu nangis, sih! Jadi luntur make-upnya." Alvino menyeka air mata yang masih membasahi pipi sang istri.
"Jangan kaya gini lagi, Bang. Aku takut," mohonnya kepada sang suami.
"Iya, saya janji enggak akan kaya gini lagi. Sekarang kita duduk, yah!" Pria itu menggenggam tangan sang istri lalu menggandengnya menuju meja yang sudah di hias dengan begitu indah.
Tempat itu penuh dengan bunga dan lampu lampion yang tersusun rapi dan cantik membuat suasana semakin romantis jika saja tidak ada insiden Syifana yang menangis lebih dulu.
Alvino membantu Syifana untuk duduk di kursi, lalu dirinya ikut mendudukan diri di kursi berhadapan dengan sang istri. Tetapannya terus tertuju pada wajah cantik istrinya meski sempat menangis tadi.
"Kamu cantik, Fana." Alvino memuji kecantikan istrinya.
Rona merah muncul di kedua pipi Syifana setelah mendapat pujian sang suami. Dia tidaj menjawab pujian itu hanya tersipu malu yang akhirnya membuat Alvino tersenyum hangat.
Beberapa pelayan datang membawa menu makanan yang disukai oleh Syifana lalu menyajikan makanan itu di meja.
"Bang, ada ren-,"
"Itu masakan kesukaan kamu, 'kan?" tebak Alvino yang paham bahwa istrinya akan membahas tentang rendang daging yang ada di meja.
__ADS_1
"Abang tahu?" tanyanya menatap dalam-dalam wajah sang suami.
"Masak makanan itu untuk kamu saja saya sudah pernah, Fana."
"Jadi benar? Yang kirim rendang saat di rumah sakit itu adalah Abang?" tebak Syifana yang ingat dengan makanan tanpa ada yang mengakui sebagai pengirim tersebut.
"Sudah, kita makan dulu saja." Alvino sengaja tidak menjawab.
Mereka makan dengan ditemani oleh alunan musik yang dibawakan oleh seorang musisi profesional. Suasananya semakin terasa romantis. Beberapa kali Syifana menatap penuh cinta pada pria yang berhasil memberikan dia pengalaman bercampur aduk dalam kehidupan.
"Bang, makasih, yah!"
Alvino mengangguk dengan senyum mengembang di bibirnya. "Kamu bahagia, Fana?"
"Sangat, Bang."
"Bang, cobain, deh!" Syifana mengulurkan tangan untuk menyuapi sang suami.
Alvino menurut, pria itu membuka mulutnya dan menerima suapan dari istrinya lalu melakukan hal yang sama dengan yang di lakukan sang istri.
Setelah selesai menyantap hidangan kesukaan Syifana, mereka sedikit berbincang agar semakin merekatkan hubungan mereka berdua yang sempat buruk di awal pernikahan.
Di tengah-tengah obrolan mereka, Alvino tiba-tiba bangkit lalu melangkah mendekat dan berjongkok di samping sang istri. Sebelum itu dia sempat mengambil sesuatu dari balik saku celananya.
"Fana, maukah kamu menjadi pendamping hidup saya untuk selamanya?" tanya Alvino sambil membuka sebuah kotak yang ternyata isinya cincin berlian.
__ADS_1
Syifana menarik tangan Alvino agar mau berdiri. Meski tempat itu hanya ada mereka, akan tetapi dia merasa tidak pantas diperlakukan sepesial seperti itu.
"Bangun, Bang. Malu," perintah Syifana kepada pria yang sedang berlutut di sampingnya.
"Tidak ada siapapun disini, Fana. Hanya ada kita berdua," jawab Alvino.
"Lalu dia apa?" Syifana melirik si musisi yang masih sibuk membawakan lagu.
"Anggap saja orang ngontrak," jawabnya asal.
"Dia orang, Bang!" gerutu Syifana dengan nada lirih.
"Abaikan saja. Terus gimana? Kamu bersedia?" tanyanya memastikan.
"Aku kan sudah jadi istri kamu, Bang!"
"Aku mau melamar kamu sekali lagi dengan perasaan tulus, Fana. Tidak seperti dulu yang hanya karena …."
"Bang, jangan bahas hal itu lagi!" sahut Syifana yang tidak mau lagi mengingat masa lalu.
"Tapi hati saya belum lega, Fana. Saya masih merasa bersalah pada kamu," tutur Alvino jujur.
Selama ini memang dia masih di kejar-kejar rasa bersalah. Pikiran dan hatinya belum bisa tenang sebelum dapat benar-benar mendapatkan kepercayaan serta ampunan dari Syifana, seorang perempuan yang pernah dia jadikan sebagai alat balas dendam.
"Kalau begitu, ada sesuatu yang lebih baik Abang lakukan sebagai penebus rasa bersalah itu."
__ADS_1
"Apa, Fana? Saya akan lakukan apapun."
"Bangunkan Syifana panti asuhan untuk anak yatim piatu yang terlantar!"