
Seminggu setelah pernikahan sekaligus hari meninggalnya Ibu Salma, kini kedua pasangan suami istri yang selama 7 hari menginap di rumah Ayah Hendra, akhirnya pulang ke rumah masing-masing. Syifana yang mau tidak mau memang berkewajiban untuk ikut kemanapun suaminya pergi, terpaksa meninggalkan sang ayah seorang diri. Namun sebelum itu, Ara sudah menempatkan sepasang orang yang bertugas menjadi pelayan dan juga penjaga untuk ayah mertuanya.
Di dalam sebuah mobil yang di kemudikan oleh Alvino sendiri, Syifana menatap sang suami yang hanya diam sejak keluar dari rumah orang tuanya. Pria yang biasa bersikap manis itu, kini terlihat dingin seperti awal perkenalan mereka. Akan tetapi gadis itu masih berusaha berpikir positi. Mungkin suaminya itu sedang kelelahan karena bolak-balik ke rumahnya dan juga rumah duka, pria itu juga tetap mengurus perusahaan miliknya yang memang sudah memiliki nama besar.
Melihat suaminya hanya diam, Syifana menatap ke luar cendela. Gadis itu memperhatikan setiap aktifitas yang ada di pinggiran jalan raya itu. Di sana, banyak terdapat warung pinggir jalan yang menyajikan makanan dengan harga merakyat, tetapi tidak kalah rasanya dari masakan restoran bintang lima menurutnya.
Sebenarnya gadis itu ingin singgah sebentar untuk membeli dan menyantap makanan yang berderet di pinggiran itu, akan tetapi melihat suaminya yang sama sekali tidak mengeluarkan suara ataupun meliriknya, membuat Syifana mengurungkan niatnya. Gadis itu menahan rasa lapar di perutnya yang sejak tadi sudah berdemo.
Suara cacing yang berdemo itu kini sampai terdengar begitu kencang. Alvino hanya menoleh sebentar, lalu kembali fokus pada jalan di depannya saat mendapat cengiran kuda dari istri kecilnya itu. Pria bertubuh proposional dengan rahang tegas itu sama sekali tidak berniat menawarkan ataupun bertanya tentang apa yang di rasakan istrinya.
Syifana kembali menatap jalan di depannya dengan raut wajah datar. Sikap cuek sang suami membuatnya merasa badmood. Pria yang biasanya peka dengan keadaan dirinya itu, kini terlihat seperti manekin hidup yang tidak memiliki hati.
Gadis itu memutuskan untuk ikut mendiamkan sang suami. Mereka duduk berdampingan, tetapi sibuk dengan pikiran masing-masing. Alvino yang ingin segera sampai di rumahnya, dan Syifana yang menahan rasa laparnya seorang diri.
Menempuh perjalanan hampir satu jam, mereka akhirnya sampai di sebuah rumah mewah di kawasan elit. Beberapa gedung tinggi nan megah berjejer disana. Alvino segera membelokkan mobilnya memasuki gerbang tinggi berwarna putih. Pria itu menghentikan laju mobilnya di depan rumah besar dengan warna putih dan gold yang mendominasi.
Pria itu keluar dari mobil dan langsung masuk ke dalam rumahnya, tanpa mengajak masuk ataupun membantu sang istri untuk membawa koper milik istrinya itu.
__ADS_1
Syifana membuka sendiri pintu mobil, lalu mengeluarkan koper miliknya dari bagasi. Wanita itu membawa sendiri kopernya masuk ke dalam rumah besar milik suaminya.
Pandangan gadis itu berkeliling, di setiap sudut terdapat beberapa orang yang menjaga tempat itu. Namun dari sekian banyak penjaga, tidak ada satupun yang membantunya untuk membawa barang bawaannya.
Gadis remaja yang sudah berstatus seorang istri itu mengedikkan bahunya, acuh dengan semua orang di sekitar yang seakan-akan tidak melihat kehadirannya. Jika dalam setiap film-film yang di tonton olehnya, para penjaga yang di tugaskan oleh sang suami pasti akan ikut menjaga dan menghormati istri dari atasannya. Namun, dia tidak mendapatkan perlakuan itu di tempat ini. Istana besar suaminya itu merupakan tempat yang kini akan menjadi tempatnya untuk bersosialisasi dengan lingkungan baru.
Syifana akhirnya masuk ke dalam rumah. Begitu memasuki rumah yang sudah seperti istana itu, langkah Syifana terhenti di depan pintu. Tempat itu begitu rapi dengan ornamen-ornamen antik yang pastinya berharga sangat mahal.
Namun, pandangannya berhenti pada sebuah lukisan yang terpajang di sudut lain di dalam ruang tamu itu. Sebuah gambar yang gadis itu tidak asing dengan sang wanita. Dia seperti pernah melihat gambar wanita itu di suatu tempat. Saat dia berusaha mengingat kira-kira dimana dia melihat gambar itu, tiba-tiba seorang wanita yang menggunakan pakaian pelayan menghampirinya.
Syifana merasa aneh dengan panggilan itu, dia yang tidak pernah menggunakan jasa pelayan merasa tidak cocok saat di panggil dengan sebutan Nona. Seperti orang-orang kaya yang mempunyai jabatan tinggi, seperti kakak iparnya juga contohnya.
Ketika teringat dengan panggilan itu sering dia dengar saat semua anak buah kakak iparnya itu memanggilnya, Syifana jadi teringat dengan gambar yang juga berada di sudut ruang tamu yang saat ini kembali dia perhatikan.
'Itu seperti gambar Kak Ara yang masih berusia 12 tahun, tetapi kenapa Bang Vino berada di samping wanita yang mirip dengan Kak Ara? Eh, benarkah itu adalah Kak Ara?' batin gadis itu.
"Mari, Nona!" ajak pelayan itu saat Nona mudanya hanya terdiam.
__ADS_1
Syifana terkesiap dengan ajakan sang pelayan, gadis itu berusaha menguasai dirinya yang masih dalam keadaan kebingungan. Dia mengikuti langkah sang pelayan yang menaiki tangga, hingga mereka sampai di depan sebuah kamar. Pelayan itu membuka kamar yang sudah dia siapkan untuk istri dari Tuan Mudanya itu.
Mereka masuk bersamaan, Syifana mengedarkan pandangannya. Mengamati kamar yang lebih kecil dari kamar miliknya di rumah. Gadis itu berpikir bahwa mana mungkin di rumah sebesar istana seperti ini, memiliki kamar utama yang bahkan ukurannya lebih kecil dari kamar miliknya di rumah Ayah Hendra. Setelah meletakkan koper, pelayan yang mengantarkan Syifana berpamitan untuk keluar dari tempat itu.
Syifana mencegah langkah sang pelayan yang sudah akan keluar dari kamar minimalis itu. "Bi, maaf, apakah suamiku tinggal di kamar ini?" tanya Syifana dengan sopan.
Pelayan itu menggelengkan kepalanya. "Tidak, Nona. Tuan Alvin berada di kamar di lantai tiga, kamar utama di mansion ini." Setelah memberi tahu gadis itu, pelayan segera melanjutkan langkahnya keluar dari kamar itu.
Gadis itu semakin terkejut dengan apa yang dia dengar dari pelayan yang mengantarkannya. Dia dan suaminya tidak tinggal di kamar yang sama, bahkan mereka berada di lantai yang berbeda. Maksudnya apa? Gadis itu masih berusaha memahami apa yang terjadi saat ini.
Namun, sama sekali tidak bisa memahami apapun yang terjadi. Suami yang selama seminggu ini selalu bersikap baik padanya, tiba-tiba berubah dingin. Apa lagi saat ini dia tahu bahwa suaminya justru memberinya kamar yang berbeda darinya. Bukankah seharusnya suami istri tinggal di satu kamar yang sama. Banyak pikiran negatif yang sekarang berputar di kepala gadis itu.
Ketika masih sibuk dengan pikirannya sendiri, Syifana di kejutkan dengan dering ponsel miliknya. Gadis itu merogoh ponsel yang berada di saku jaket miliknya untuk melihat siapa yang menghubunginya malam-malam seperti ini.
"Bang Ali!" gumam Syifana dengan mata mendelik.
Bersambung...
__ADS_1