
"Kita pulang ke mansion Mama sekarang!" ajak wanita paruh baya kepada sang menantu yang sedang menyembunyikan diri di belakang tubuhnya.
Mama Seren menggandeng tangan kiri Syifana untuk membawa perempuan itu pergi dari tempat itu, akan tetapi dari balakang seseorang menahan langkah kedua wanita itu.
Alvino bersimpuh di kaki Syifana. "Saya mohon, Fana, jangan pergi dari sini!" mohonnya kepada sang istri.
Perempuan yang tangannya di gandeng sang mertua, sedangkan kakinya di tahan oleh sang suami itu kini dalam dilema yang besar. Dia takut berada di tempat ini karena takut jika sang suami kembali melakukan perbuatan buruk padanya, akan tetapi dia juga tidak tega jika harus meninggalkan pria yang terlihat sangat frustasi itu.
"Mah," lirih Syifana seraya menatap sang mertua.
Lewat tatapan itu, Syifana berusaha menyampaikan rasa dilemanya kepada mertuanya. Antara pergi atau tetap tinggal di tempat yang mengerikan itu.
"Tidak, Syifa! Mama tidak akan mengizinkan kamu tinggal disini hanya bersama Al. Mama tidak percaya kepada suamimu itu," tolak Mama Seren dengan tegas.
"Tapi, Mah, gimana dengan keadaan Bang Vano? Syifa tidak mungkin meninggalkan suami dalam keadaan seperti ini," ujar Syifana memohon kepada mertuanya.
Walau dalam keadaan ketakutan, Syifana tetap memikirkan keadaan sang suami yang terlihat sangat memprihatinkan. Sekejam apapun sang suami, dia masih merasa pria itu adalah tanggung jawabnya sebagai seorang istri.
"Tidak Syifa! Mama bilang tidak, berarti tidak!" seru Mama Seren tegas.
"Al, lepaskan kaki menantuku!" bentak Mama Seren menyentak kasar tangan sang putra.
Alvino terjatuh di lantai, sementara Mama Seren menarik Syifa untuk keluar dari kamar itu. Pria yang kini terlihat sangat lemah itu hanya bisa menatap sang istri yang semakin menjauh di bawa oleh Mama Seren.
Derai air mata mengalir di pipi pria itu dengan deras. Alvino benar-benar hancur saat ini. Sang ibu justru menjauhkannya dari sang istri. Walaupun dia sadar, semua ini karena kesalahannya sendiri.
Pandangan mata pria itu kini buyar, Alvino berusaha mengerjapkan matanya berulang kali agar mempertahankan kesadarannya. Namun, detik berikutnya dia benar-benar jatuh tergeletak di lantai dengan mata yang tertutup rapat.
__ADS_1
Syifana yang tetap di gandeng keluar dari mansion sang suami oleh mertuanya sendiri, hanya bisa pasrah. Dia mengikuti saat sang mertua memaksanya masuk ke dalam mobil.
Setelah memastikan sang menantu duduk dengan aman, Mama Seren mengitari mobil untuk masuk ke dalam mobil sisi lain.
Tatapan mata perempuan itu tidak terlepas dari pintu mansion. Berharap sang suami akan menyusul dan melarangnya untuk pergi. Namun, pria itu tidak kunjung datang. Perasaan Syifana semakin tidak enak, dia memutuskan untuk keluar dari mobil dan berlari masuk ke mansion suaminya.
Melihat menantunya berlari masuk ke mansion kembali, Mama Seren mengejar perempuan itu.
Syifana berlari menaiki tangga, tidak memperdulikan keadaannya sendiri yang juga dalam keadaan tidak sehat. Langkah perempuan itu terhenti sebentar untuk mengatur napasnya yang terengah-engah. Setelah itu kembali lari lagi menaiki lantai 3.
Sebagai seorang istri yang tidak di hargai oleh sang suami, Syifana bisa di katakan terlalu sabar dan baik hati. Mungkin jika itu orang lain yang mengalaminya akan pergi melarikan diri dari suami yang kejam seperti Alvino.
Perempuan itu langsung masuk ke kamar yang pintunya terbuka lebar, akan tetapi langkahnya terhenti di ambang pintu. Matanya membulat sempurna ketika melihat sang suami tergeletak tidak sadarkan diri di lantai.
"Bang Vino!" teriak Syifana terkejut.
Ternyata di balik keangkuhan dan kekejaman pria itu, dia adalah pria yang begitu rapuh dan lemah. Persis seperti yang di jelaskan oleh Andri ketika mengabari keadaan Alvino.
Mama Seren menghentikan langkah di ambang pintu ketika melihat pemandangan yang dia lihat di hadapannya. Wanita paruh baya itu menatap penuh syukur kepada sang menantu yang begitu sabar dan baik. Walaupun selalu di siksa oleh Alvino, akan tetapi Syifana masih saja terlihat menyayangi pria kejam itu.
"Kamu harusnya bersyukur, Vino, memiliki istri yang sangat baik sepertinya. Mama tidak akan membiarkan kamu menyia-nyiakan dia lagi," ujar Mama Seren sebelum dia ikut mendekat.
Wanita paruh baya yang terlihat masih sangat cantik itu merogoh ponsel miliknya, lalu menghubungi seseorang untuk membantu memindahkan sang putra.
"Andri, kau dimana? Alvino pingsan di lantai," ujarnya tanpa basa-basi.
Tidak butuh waktu lama, Andri yang sebenarnya masih mengurus beberapa pekerjaan di ruang kerja Alvino langsung datang. Pria yang merupakan orang kepercayaan Alvino itu segera membantu memindahkan tubuh tidak berdaya sang bos ke ranjang.
__ADS_1
"Nyonya, tolong berbaik hatilah sedikit. Walau bagaimanapun Tuan Alvino adalah putra anda," pinta Andri yang paham bahwa semua ini karena wanita paruh baya yang tetap menggenggam erat tangan Syifana.
Saat mendengar ucapan itu keluar dari mulut orang kepercayaan Alvino, Mama Seren mendelik. "Aku tahu dan aku sadar bahwa Al adalah anakku, tapi apa yang dia lakukan pada menantuku sudah tidak bisa di tolerir, Andri! Tidak bisakah kamu menghargai perempuan sedikit saja."
"Sudah, Mah. Syifana mohon jangan berdebat, kasihan Bang Vino," lerai perempuan muda yang merupakan istri sah Alvino.
"Kau dengar, Andri? Setelah semua yang di lakukan Al kepada menantuku, dia tetap memikirkan keadaan suaminya! Apa kau sebagai tangan kanan tidak bisa memberikan atau mengontrol sedikit saja tingkah tuan mudamu itu?"
Mama Seren berucap dengan nada tidak bersahabat. Cukup dia saja yang di perlakukan buruk oleh suaminya, jangan ada perempuan lain yang menjadi korban atas keegoisan laki-laki di dunia ini.
"Jika kau tidak bisa melakukan itu, aku bisa saja memecatmu sekarang juga!" ancam wanita paruh baya itu kepada sekretaris putranya.
"Nona, sekarang keputusan ada di tangan anda. Jika anda benar-benar ingin pergi, silahkan pergi. Jika ingin tinggal, saya yang akan bertanggung jawab atas apapun yang nantinya terjadi pada anda."
Andri tidak memperdulikan ancaman dari wanit paruh baya itu, karena baginya itu tidak terlalu penting. Lagi pula yang bisa menghentikannya hanyalah tuan mudanya.
"Bagaimana, Syifa?" tanya wanita paruh baya itu memint keputusan sang menantu.
Perempuan muda itu bimbang antara menetap atau pergi. Dia memang takut jika harus tinggal bersama pria tempramental seperti Alvino, akan tetapi pria itu adalah suaminya. Suami yang dia nikahi dengan keadaan sadar dan rasa cinta yang ada di hatinya.
Syifana masih terdiam, gadis itu menatap pria yang terbaring di tempat tidur dengan sedih.
"Mah, Syifana ... mau mengurus suami Syifa," ujar Syifana dengan yakin.
"Syifa!"
Bersambung...
__ADS_1