Dendam Cinta Tuan Alvin

Dendam Cinta Tuan Alvin
Berkunjung ke kantor


__ADS_3

Seorang pria tengah ragu untuk meneruskan niatnya untuk mengetuk pintu atau justru mengurungkan niatnya untuk bertamu di rumah seseorang yang pasti akan menolak mentah-mentah kedatangannya. 


Pria itu menghentikan tangannya yang sudah hampir mengetuk pintu rumah tersebut lalu menurunkan tangannya yang tengah melayang di udara. Dia memejamkan matanya sejenak lalu kembali membuka mata saat sudah memiliki keputusan. 


Tangan itu kembali melayang lalu mengetuk pintu rumah tujuannya. Keputusannya sudah bulat untuk menemui wanita yang berhasil menempati tahta tertinggi di hatinya itu. 


Tidak lama pintu terbuka seseorang yang berada di dalam segera keluar dan mendorong tubuh si pria. Tatapan matanya begitu tajam, seakan-akan mampu ******* habis targetnya. Tatapan itu menyiratkan adanya rasa dendam kepada pria yang berani datang ke rumahnya. 


"Mau apa kamu datang kemari?" tanyanya seraya mendorong kuat-kuat tubuh si menantu. 


"Yah, saya ingin bertemu istriku," jawab Alvino tanpa berani menatap mata tajam itu. 


"Istri? Kau bilang istrimu?" Si pemilik rumah itu meludah ke samping saat mendengar ucapan sang menantu. "Pergi dari sini!" bentaknya dengan suara menggelegar. 


"Tidak, Yah. Saya tidak akan pernah pergi sebelum bertemu dengan Fana," jawabnya gigih. 


Kedua tangan pria paruh baya itu mengepal ketika mendapat penolakan dari mantan calon menantu tersebut. Tanpa aba-aba dia yang memang hanya berjarak sejengkal kaki saja dari Alvino langsung melayangkan pukulan di rahang tegas pria yang sudah menyakiti putrinya itu. 


Tubuh Alvino yang belum siap, sampai mundur saat mendapat pukulan tiba-tiba dari ayah mertuanya itu. Dia menyentuh bibirnya yang sedikit mengeluarkan darah. Namun, dia sama sekali tidak berniat membela diri ataupun melawan pukulan dari Hendra. 


"Pergi kau dari rumahku! Aku tidak Sudi ada seseorang yang sudah menyakiti putriku menginjakkan kakinya di rumahku!" usir Hendra kepada Alvino. 


Alvino menggelengkan kepalanya. "Lakukan apapun sepuas ayah, tapi jangan pisahkan saya sama Fana, Yah!" Alvino memohon hingga berlutut dihadapan sang mertua. 


"Aku tidak akan pernah mengizinkan putriku bersama pria seperti kamu, Alvino Maladeva!" Bentaknya dengan kasar lalu pergi meninggalkan pria yang masih dalam keadaan berlutut itu. 


"Ayah! Tolong jangan pisahkan saya dengan Fana!" teriak Alvino yang hanya bisa menatap kepergian sang mertua. 


Suara pintu yang dibanting dengan keras membuat Alvino memejamkan matanya. Air mata yang sejak tadi ditahan kini meluncur begitu saja tanpa permisi. 


Sementara itu, di sisi lain Syifana di antar oleh Ara dan seorang supir sedang dalam perjalan menuju kantor Alvino, seperti janji Ara kemarin. Pandangan Ara tertuju pada sebuah goodybag di samping adik iparnya. 

__ADS_1


"Kamu bawa apa, Fana?" tanya Ara masih belum mengalihkan pandangan. 


"Ini, sarapan untuk Bang Vino, Kak." Syifana menjawab dengan sedikit malu-malu. 


"Wah, perhatian sekali kamu. Kak Al pasti senang, deh!" puji Ara dengan wajah gembira. 


"Em, semoga Bang Vino suka, Kak. Dia belum pernah makan masakan Fana sejak kami menikah," ungkap Syifana tanpa sengaja. 


Ara mengulas senyum tipis, serta meletakkan tangannya di atas punggung tangan sang adik ipar. "Kak Al pasti suka, percaya sama kakak, Syifa." 


Syifana yang awalnya sedikit merasa kurang percaya diri dengan masakannya, kini jauh lebih percaya atas kemampuannya memasak walaupun hanya masakan sederhana. 


Beberapa saat kemudian mereka sampai di parkiran kantor Alvino. Ara lebih dulu keluar di susul oleh sang adik ipar. Syifana menatap gedung pencakar langit di depannya. Nampak begitu besar dan megah. Ini pertama kalinya dia datang ke perusahaan sang suami. 


"Kak, Syifa kok jadi gerogi, sih!" keluh Syifana saat melihat kantor itu sudah ramai. 


"Tidak apa-apa. Ada kakak disini," ujarnya seraya menarik Syifa untuk masuk ke kantor besar bertuliskan Maladeva Group tersebut. 


Banyak pegawai di kantor itu yang masih mengenali perempuan berperut besar yang berjalan masuk ke kantor. Resepsionis yang juga begitu hafal pada Ara langsung berdiri dan menyambut kedatangan perempuan terhormat itu. 


"Saya baik. Iya kebetulan banyak sekali urusan akhir-akhir ini," jawab Ara dengan ramah. 


"Syukurlah. Eh, Nona pasti mencari tuan muda, yah!" tebak si resepsionis. 


"Iya, apa Kak Al ada di dalam?" 


"Em, Tuan Muda belum datang, Nona. Silahkan menunggu di dalam saja," ujarnya masih memperlakukan perempuan itu seperti yang di perintahkan sang tuan muda dulu. 


"Mereka mengenali Kak Ara, tapi tidak ada satupun yang tahu bahwa aku istri dari bos mereka," batin Syifana tanpa sadar sedikit merasa cemburu. 


"Ya sudah. Kami ke dalam dulu," jawab Ara yang kembali menarik tangan adik iparnya. 

__ADS_1


Mereka naik ke lantai teratas gedung tersebut menggunakan lift khusus petinggi perusahaan. Sudah biasa jika Ara datang memang itulah yang di lakukan. Alvino sendiri yang menyuruh perempuan itu agar tidak sungkan berada di perusahaannya. 


Ara segera membawa sang adik ipar menuju ruangan Alvino. Mereka duduk di sofa menunggu kedatangan si pemilik kantor. Namun, sudah hampir 2 jam lamanya mereka menunggu, orang yang di tunggu tidak kunjung datang. 


"Kak, kenapa Bang Vino belum sampai juga?" tanya Syifana yang khawatir. 


"Tenanglah, paling masih di jalan." Ara berusaha menenangkan. 


"Tapi bagaimana acara belanja kita jika kita terlalu lama disini? Ayah pasti akan curiga," ujar Syifana yang kini semakin cemas. 


"Tidak apa-apa. Kita tunggu satu jam lagi, kalau belum datang juga kita pulang." 


Pada akhirnya sampai 3 jam lamanya mereka menunggu, akan tetapi Alvino sama sekali tidak menampakkan batang hidungnya. 


"Kak, sudah sangat siang. Kenapa Bang Vino belum datang juga?" tanya Syifana gelisah. 


Ara sudah kebingungan untuk menjawab pertanyaan dari Syifana. Perempuan itu juga mengkhawatirkan keadaan sang adik yang belum sembuh total. Belum lagi jika nanti suami serta ayah mertuanya bertanya tentang kepergian mereka. 


"Kalau kita pulang dulu, gimana, Syifa?" tanya Ara pada akhirnya.


"Tidak masalah, Kak. Mungkin Bang Vino memang sengaja tidak mau menemuiku," jawab Syifana yang sudah putus asa. 


Perempuan muda itu menaruh goodybag bawaannya di atas meja kerja Alvino, lalu mengajak sang kakak ipar untuk pulang. Meski sangat ingin bertemu dengan suaminya, akan tetapi dia tidak mau egois. Kakak iparnya tengah mengandung dua janin sekaligus dalam rahimnya. Jika terjadi apa-apa pada mereka, dia pasti tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri. 


Ketika mereka memutuskan untuk kembali Ara menyuruh adiknya itu untuk masuk mobil lebih dulu. Dia beralasan akan pergi ke toilet sebentar. Namun, sebenarnya Ara justru kembali menemui si resepsionis. 


"Nana, tolong sampaikan pada Kak Al bahwa aku tadi datang bersama istrinya. Bilang juga bahwa bekal itu masakan istri yang sangat mencintainya," jelas Ara berpesan pada si resepsionis. 


Resepsionis bernama Nana itu jelas terkejut dengan pesan yang di sampaikan oleh Ara. Dia tadi tidak sempat menyapa perempuan yang datang bersama Ara. Perempuan yang ternyata adalah istri sah dari bos besar perusahaan. 


Bersambung… 

__ADS_1


Hay, Gays. Author kembali bawa rekomendasi nih. Novel keren karya author Desy Puspita dengan judul Istri Rahasia Sang Presdir. Jangan lupa mampir!



__ADS_2