
Hari telah berganti hari, Minggu juga sudah berlalu, setiap hari selama satu bulan ini Alvino terus saja menconteng setiap tanggal kegagalannya dalam mencari sang istri. Penyesalannya kian dalam saat setiap malam dia masuk ke dalam kamar sederhana yang di tempati istrinya selama ini. Di sana, dia menemukan sebuah buku kecil yang ternyata adalah catatan diary Syifana.
Lembar demi lembar di bacanya tanpa terlewat satupun kata. Banyak sekali rangkaian kata yang tertulis dengan rapi dengan tinta hitam. Satu bulir cairan bening lolos begitu saja saat dia membaca lembar yang berisi catatan pada saat pernikahan sederhana mereka yang terjadi di IGD rumah sakit. Hari dimana kebahagiaan serta duka terjadi sekaligus di kehidupan gadis muda itu.
"Tuhan, hari ini adalah hari pernikahanku, sekaligus hari kematian Ibuku. Hari bahagia yang aku rasakan, seketika berubah menjadi duka yang mendalam untukku. Aku Syifana Mahendra, seorang gadis yang hanya tau bermanja pada ibuku. Saat ini jangankan untuk bermanja, hanya untuk melihat wajahnya saja aku sudah tidak bisa. Namun, ada satu yang aku syukuri. Aku memiliki Bang Vino yang mampu menenangkan aku dari kesedihan ini. Semoga pernikahan ini menjadi yang terakhir untukku, dan semoga Bang Vino bisa menjadi imam yang baik untukku dan keluarga kecilku nanti."
__ADS_1
Satu lembar berisikan tentang curahan hati Syifana saat itu membuat Alvino meneteskan air mata. Pria itu bahkan terisak ketika meratapi kegagalannya untuk menyelamatkan sang istri, yang entah dimana keberadaannya saat ini. Tidak ada tanda-tanda apapun untuknya mengetahui kemana dan siapa yang sudah berani menculik Syifana.
"Fana, maafin saya. Pulanglah, Fana! Saya janji, saya akan berusaha belajar menjadi seperti yang kamu mau." Alvino mengelap bagian kertas yang terkena tetesan air matanya.
Pria gagah yang penampilannya kini terlihat seperti orang yang tidak terurus itu menutup catatan diary sang istri ke dalam laci nakas yang terletak di sana. Dengan tekat yang besar Alvino berjanji pada dirinya sendiri bahwa sesulit apapun, dia pasti akan menemukan istri kecilnya yang kini hilang tanpa kabar. Pria itu mengayunkan langkah keluar dari kamar sederhana itu, pria dengan kemeja lusuh itu sempat menatap kasur berukuran kecil yang selama ini menjadi tempat istirahat Syifana tanpa mengeluh sedikitpun.
__ADS_1
Dengan langkah tergesa Alvino menuruni anak tangga, langkahnya yang besar membuatnya bisa melewati 3 anak tangga sekaligus dalam satu langkah saja. Pria itu sama sekali tidak memperdulikan rasa lelahnya sendiri. Pikiran dan hatinya masih saja tertuju pada Syifana. Gadis bar-bar yang berhasil dia taklukan, yang pada akhirnya justru tersakiti oleh perlakuannya yang kejam.
Tidak tanggung-tanggung, Alvino bukan hanya menyiksa psikis sang istri. Pria itu juga dengan tega menyiksa tubuh ringkih istrinya tanpa belas kasih. Padahal gadis itu sama sekali tidak melakukan kesalahan apapun terhadapnya. Sungguh, jika saja Alvino berhasil menemukan keberadaan istrinya, dia sudah berjanji pada dirinya sendiri akan menjaga pasangannya dengan sepenuh jiwa, bahkan nyawa sekalipun akan rela dia korbankan demi kebahagiaan gadis yang telah rela di persunting olehnya tanpa berpacaran sekalipun.
Ketika Alvino sampai di ambang pintu mansion besarnya, tiba-tiba Andri datang dengan langkah tergesa. Wajahnya bahkan terlihat pucat pasi saat bertemu dengan sang bos. Kedua alis Alvino bertaut ketika memperhatikan keanehan sang tangan kanan.
__ADS_1
"Tuan, kita harus secepatnya ke rumah sakit."