
"Ngapain kamu ke sini, Ra?" tanya Alvino, wajah lelaki itu terus saja menunduk.
"Aku mau menjemput kamu agar pulang, Kak," jawab Ara seadanya.
"Aku tidak akan pernah kembali, Ra. Percuma saja kamu ke sini," balas Alvino datar.
"Kenapa, Kak? Apa kamu sama sekali sudah tidak mencintai Syfa?" tanya Ara lagi.
Hening, tidak ada jawaban yang keluar dari bibir si lelaki. Ara masih memandang lelaki yang duduk di kursi roda, tepat di hadapannya. Wanita itu menanti jawaban apa yang akan keluar dari lelaki yang pernah mencintainya itu.
"Kak," tegur Ara ketika hampir lima menit mereka saling diam.
"Kamu sudah lama mengenalku, 'kan? Seharusnya kamu tahu bagaimana aku, Ra," jawab Alvino, dia berusaha menahan sesak yang menyeruak di dada.
"Aku memang sudah lama mengenal Kak Al, tapi laki-laki yang saat ini berada di hadapanku ini bukanlah Kak Al yang dulu," kata Ara, wanita itu sengaja ingin melihat reaksi si lelaki.
Alvino tersenyum miris. "Ya, kamu benar. Aku sudah bukan Alvino yang dulu," balas si lelaki.
"Kenapa, Kak?" tanya Ara lagi.
Dahi Alvino mengernyit heran. Lelaki itu tidak mengerti apa maksud dari pertanyaan Ara saat ini. "Kenapa apanya, Ra?"
"Kenapa kamu berubah, Kak? Kak Al yang aku kenal dulu, tidak semudah ini menyerah dengan keadaan."
Kini Alvino sedikit mengangkat wajahnya agar Ara dapat dengan jelas melihat rupanya yang saat ini sudah buruk rupa. Jika sejak tadi lelaki itu tidak percaya diri untuk menunjukkan wajah, kini justru dengan sengaja memperlihatkan kekurangannya sekarang.
"Kamu lihat aku, Ra. Aku sudah buruk rupa seperti ini," ucapnya miris.
__ADS_1
Ara menatap Alvino lekat, untuk beberapa saat wanita itu tidak memberikan reaksi. Namun, detik selanjutnya bibir itu tersungging. "Kak Al memang ... tidak setampan dulu, sih. Tapi," balas Ara sengaja menggantungkan ucapannya yang belum selesai.
"Tapi apa, Ra?"
"Sifat Kak Al yang sekarang malah lebih baik dari pada Kak Al yang dulu. Kakak sekarang lebih mementingkan keamanan orang lain dari pada kebahagiaan Kak Al sendiri," sambung Ara.
Lelaki itu kembali menunduk, menyembunyikan wajahnya yang terdapat luka bakar yang sedikit lebar. Meskipun ada dua wanita yang membujuknya agar kembali, tetapi sepertinya keputusan Alvino belum goyah sedikitpun.
"Kak, mau pulang, 'kan?"
Alvino hanya menggelengkan kepalanya. Hal itu tentu saja membuat Ara mendengkus. Ternyata memang benar, tidak mudah membujuk Alvino Maladeva yang sekarang.
"Kakak tidak khawatir dengan kondisi calon anak kakak? Syfa benar-benar terpukul atas hilangnya kakak. Dia jarang sekali mau makan. Tubuhnya pun semakin kurus, Kak," jelas Ara menyampaikan kondisi sang adik ipar.
"Tolong jaga dia untukku," pinta Alvino tanpa menatap si wanita cantik.
Di mansion Maladeva, Syfana sedang bermain petak umpet bersama kedua anak serta keponakannya. Wanita hamil itu tengah berjaga, sedangkan keempat bocah tampan dan cantik itu sedang bersembunyi.
"Sudah belum?" tanya Syfana lantang.
"Sudah!" seru keempatnya kompak.
Syfana yang awalnya menghadap ke tembok, kini membalikkan tubuhnya. Wanita itu menatap sekeliling untuk mencari keberadaan keempat bocah yang bermain bersamanya.
"Di mana, ya?" Syfana berjalan menuju sebuah lemari besar, mengira ada seseorang yang bersembunyi di sana. Namun, ketika dia sampai di tempat itu, tidak ada siapapun yang ditemukan.
"Tidak ada," keluh Syfana, kemudian melanjutkan langkahnya.
__ADS_1
Kini Syfana mencari ke arah yang berlawanan. Ketika sedang berjalan, wanita itu melihat ada pergerakan di balik pilar besar ruang tamu. Segera dia menuntun kakinya ke sana, dan ya, ada satu anak yang dia temukan.
"Hah, Ammera tertangkap," ucapnya dengan gembira, sambil mendekap si keponakan cantiknya.
"Yah! Aunty, cepet banget temuin Mera," rengek si bocah dan hal itu membuat Syfana tergelak.
"Ha-ha-ha, ayo bantu aunty cari Kak Ammar, Kak Arina, dan Kak David," ajaknya pada si keponakan.
"Ayo!"
Mereka berdua mencari keberadaan ketiga anak yang masih bersembunyi, keduanya berpencar agar lebih mudah menemukan yang mereka cari. Namun, sudah hampir sepuluh menit mencari, tidak ada tanda-tanda kehadiran ketiga makhluk cerdik itu.
"Mereka kemana, sih?" tanya Ammera kesal.
"Entah. Kita cari saja dulu," jawab Syfana, sambil tertawa kecil. Gemas sekali pada keponakan perempuannya itu.
Keduanya masih mencari, tidak ada rasa putus asa dalam mencari lawannya. Syfana terlalu fokus untuk mencari, hingga tidak memperhatikan jalannya. Kaki wanita itu tiba-tiba saja tersandung kaki meja, hingga tubuhnya limbung dan terdorong ke depan dengan keras. Syfana jatuh terduduk di lantai.
"Awh!" ringis syifana, sambil memegangi perutnya.
"Aunty!" pekik Ammera yang langsung berlari mendekati sang Tante, sedangkan ketiga anak yang masih bersembunyi juga ikut keluar dari tempat persembunyiannya ketika mendengar pekikan Ameera.
Keempat anak itu langsung berlari menghampiri Syfana yang masih terduduk di lantai. Tangan wanita hamil itu terus saja memegangi perutnya yang terasa sangat sakit. Dia pun menggigit bibir bawahnya untuk menahan rasa sakit.
"Ibu, apa yang sakit, Bu?" tanya arina cemas.
David yang posisinya berada tepat di hadapan sang ibu tanpa sengaja melihat ada noda merah yang mengalir di sela-sela paha ibunya. Anak lelaki itu tentu saja langsung panik begitu melihat sang ibu berdarah.
__ADS_1
"Kak Arin, ada darah di kaki ibu," ucap David dengan ekspresi tegang.