Dendam Cinta Tuan Alvin

Dendam Cinta Tuan Alvin
Tulisan Tangan Al


__ADS_3

Raut wajah bingung Syifana mendadak berubah datar kembali saat mengetahui bahwa bunga itu adalah pemberian dari Gevano. "Kalau begitu bunganya buat kakak saja, aku tidak tertarik untuk bercocok tanam." Syifana memberikan kertas yang datang bersamaan dengan bunga itu kepada Ara lalu kembali melangkahkan kakinya pergi. 


Ara dan Ali saling pandang dengan tatapan bingung. Bagaimana ayah mereka dengan mudah menyimpulkan bahwa bunga itu pemberian Gevano. Apa lagi saat Ara melihat tulisan di dalam kertas itu, dia merasa sangat mengenali karakter tulisan tersebut. Namun, tidak mau membuat masalah ini berbuntut panjang. Ara memilih untuk diam, perempuan berperut buncit itu bahkan mencegah suaminya yang terlihat akan mengeluarkan suara. 


"Ayo kita taruh saja dulu bunga ini di taman, hari sudah sore, Sun." Ara menarik Ali yang kesusahan membawa tiga pot bunga sekaligus. 


Setelah meletakkan bunga-bunga cantik itu di taman, Ara memutuskan untuk membersihkan diri lebih dulu. Begitu juga dengan Ali, apa lagi tadi dia sempat tertidur di atas pusara sang ibu. 


"Kamu mau kemana, Moon?" tanya Ali ketika melihat sang istri hendak keluar dari kamar. 


"Tengok Syifa sebentar, Sun. Ada hal yang perlu aku sampaikan padanya," jawab Ara. 


Ali mengangguk paham dan tidak berniat melarang istrinya untuk menemui Syifa. Adiknya itu memang sedang membutuhkan seseorang untuk menemani. 


Ketika Ara sedang berjalan menuju kamar Syifana, perempuan hamil itu bertemu dengan bude dari suaminya. Wanita paruh baya yang merupakan kakak kandung dari almarhumah ibu mertuanya itu tiba-tiba menghentikan langkahnya. 


"Kenapa, Bude?" tanya Syifana sedikit kebingungan karena sepertinya si bude akan menyampaikan sesuatu, akan tetapi terlihat ada keraguan di wajah keriput itu. 


Cukup lama si bude terdiam dengan bola matanya yang berputar-putar ke arah atas seperti sedang berpikir sesuatu. Namun, pada akhirnya hanya gelengan kepala yang menjadi jawaban. 


"Bude ada masalah?" tebak Ara masih menatap wajah bingung sang bude. 


"Tidak, Ara. Bude cuma mau minta tolong sama kamu untuk selalu memberi perhatian lebih pada Syifa. Kasihan dia sudah kehilangan salma," ucapnya dengan nada lirih, sepertinya wanita baya itu sedang teringat si adik yang sudah lebih dulu meninggal. 

__ADS_1


Ara tersenyum hangat seraya mengelus lengan budenya. "Ara akan usahakan yang terbaik, Bude tidak perlu khawatir." 


Berhasil menenangkan si bude dari rasa cemas, Ara kembali mengayunkan langkahnya menuju kamar Syifana. Saat akan masuk, ternyata pintu terkunci dari dalam. Ara mengetuk pelan pintu kamar adik iparnya. 


"Siapa?" teriak Syifa dari dalam.


"Boleh kakak masuk, Syifa?" tanya Ara sedikit mengeraskan suaranya. 


"Kak Ara, yah?" tanya balik Syifana memastikan. 


"Iya, Syifa. Buka pintunya, Sayang!" 


Tidak lama pintu terbuka menampakkan Syifana yang masih menggunakan pakaian tadi. Itu artinya sang adik belum membersihkan diri meski malam sudah menyapa. 


Dia bahkan masih berdiri di depan pintu, belum mempersilahkan kakak iparnya untuk masuk. Seperti sedang berusaha memberi jarak pada setiap orang yang ingin menemani dirinya. 


"Boleh kakak masuk? Ada sesuatu yang ingin kakak sampaikan pada kamu," ujar Ara setengah sungkan. 


"Boleh, Kak. Silahkan masuk," ujarnya mempersilahkan, dia berjalan lebih dulu dan duduk di atas ranjangnya. 


Ara yang berada di belakang lebih dulu memastikan bahwa tidak ada seorangpun yang akan mendengar obrolannya dengan sang adik ipar. Begitu yakin sudah aman, Ara menutup pintu serta menguncinya. 


Ara ikut duduk di samping sang adik. Menatap wajah pucat itu rasanya Ara benar-benar tidak tega. Syifa harus merasakan pahitnya kehidupan rumah tangga di usianya yang masih sangat muda. 

__ADS_1


"Syifa, boleh kakak tanya?" 


Syifana yang awalnya masih sibuk memainkan jari-jarinya seketika menoleh. "Tanya apa, Kak?" 


"Kamu suka bunga itu tidak?" tanya Ara to the poin. 


Syifana menggelengkan kepalanya, meskipun terlihat seperti terpaksa. Ara dapat membaca perasaan Syifana saat ini dari raut wajah adiknya itu. 


"Kamu bohong, Syifa. Kakak tahu, kamu suka dengan bunga-bunga cantik itu," ujar Ara disertai senyum tipis. 


Kali ini Syifana memalingkan wajah untuk menyembunyikan perasaan sedihnya. Ketika membaca surat pendek itu, dia sempat berharap bahwa itu adalah kiriman sang suami. Namun, hatinya terpatahkan oleh kenyataan yang berbanding terbalik. 


"Syifa sudah bilang, bunga itu untuk kakak. Syifa tidak berminat untuk menanam bunga," jawabnya dengan suara sangat lirih, bahkan hampir tidak terdengar. 


"Kamu bukan tidak suka pada bunga itu, Kakak tahu. Kamu hanya kecewa karena ayah bilang bunga itu pemberian Gevano. Kamu berharap bunga itu dari Alvino, 'kan?" tebak Ara dengan yakin. 


Setetes cairan bening menetes dari kedua sudut mata Syifana yang sejak tadi terasa memanas. Dia hanya berusaha menahan air matanya agar tidak jatuh di depan sang Kakak. 


"Kakak mau bilang sama kamu, tulisan dalam surat pendek itu … tulisan tangan Kak Al. Kakak sangat yakin dengan hal itu," tutur Ara mengungkapkan. 


"Kak Ara yakin?" tanya Syifana antusias, dia bahkan menyeka air matanya dengan kasar. 


"Kakak dan Kak Al tumbuh bersama, Syifa. Semua yang berkaitan dengannya, Kakak sangat hapal. Tapi, kamu jangan berpikir yang tidak-tidak," ujar Ara menggoda Syifana. 

__ADS_1


"Aku tidak berpikir yang tidak-tidak, Kak. Tapi memang itu kenyataannya," 


__ADS_2