Dendam Cinta Tuan Alvin

Dendam Cinta Tuan Alvin
Berterima kasih


__ADS_3

"Kamu yakin mau meminta itu?" tanya Alvino meyakinkan. 


"Aku yakin, Bang. Karena sekarang banyak sekali anak-anak yang terlantar di negeri ini. Aku merasa kasihan pada mereka yang harus berjuang untuk kehidupannya sendiri," jawab Syifana mantap. 


"Baiklah, kalau begitu saya akan mewujudkan impian mulai kamu secepatnya," ujar Alvino tanpa beban. 


"Terima kasih, Bang." 


"Istriku memang perempuan baik. Aku beruntung karena mendapatkan dia," batin Alvino mengucap rasa syukur. 


Setelah malam itu hubungan Alvino dan Syifana semakin baik. Mereka sudah tidak pernah lagi membahas tentang masa lalu. Hanya saling mengingatkan ketika salah satu berbuat kesalahan. 


Kini pernikahan mereka sudah memasuki usia 6 bulan, dan pada bulan ini juga janji Alvino kepada Syifana telah tertunaikan. Pria dewasa itu membawa sang istri kecil menuju sebuah tempat dimana dia telah membangun sebuah yayasan panti asuhan serta tempat belajar sekaligus untuk anak-anak yang terlantar. 


Syifana menatap penuh takjub tempat dimana saat ini kakinya berpijak. Tempat itu begitu luas dan besar. Apa lagi tempat itu bukan hanya menjadi tempat tinggal, tetapi juga sekaligus menjadi tempat belajar untuk mereka. 


"Bang, kamu …." 


"Dengan begini tidak hanya kehidupan mereka saja yang terjamin, tetapi juga masadepan mereka. Aku sudah mengatur segalanya agar mereka bisa menuntut ilmu hingga ke jenjang perkuliahan. Jika kelak mereka dewasa, mereka juga bisa bekerja di perusahaan kita, Fana." 

__ADS_1


Syifana menatap sang suami dengan mata berkaca-kaca. Perasaan haru dan bahagia memenuhi hatinya saat ini. Ternyata sang suami tidak hanya menuruti permintaannya saja, melainkan juga benar-benar mengurus segala sesuatu yang di luar dugaannya. 


"Bang, tapi apakah ini tidak berlebihan?" 


"Saya justru berniat mengadopsi mereka semua sebagai anak kita, Fana. Tapi lucu juga kalau kita memiliki anak sebanyak itu," ujarnya seraya mengelus bahu istrinya. "Tidak ada yang berlebihan dalam hidup ini, Fana. Asalkan kita menjalaninya dengan bahagia, saya rasa cukup."


Mereka berdua menatap banyaknya anak-anak yang sedang belajar bersama guru yang dengan sabar mendidik mereka. Ketika pelajaran sudah selesai, beberapa anak yang baru keluar dari kelas berlarian ke arah Alvino dengan wajah bahagia mereka. 


"Abang!" panggil mereka kompak seraya berebut memeluk pria dewasa itu. 


"Kalian sudah belajarnya? Abang bawa princess, nih! Ayo kenalan dulu." 


"Kenalin, dia istri Abang. Namanya Kak Syifana. Kalian boleh panggil Kak Syifa. Kakak inilah yang meminta Abang untuk membangun tempat tinggal dan tempat belajar untuk kalian. Ayo ucapkan terima kasih," jelas Alvino seraya merangkul mesra sang istri. 


"Hai, Kak Syifa," sapa anak-anak itu dengan ramah. 


"Hallo, apa kabar?" sapa balik Syifana pada semua anak. 


"Sehat, Kak. Semua berkat Abang yang selalu memperhatikan keadaan kami semua. Terima kasih karena sudah menyayangi kami, Kak." 

__ADS_1


Syifana tersenyum lebar. "Sama-sama, kalian yang semangat belajarnya, yah! Kakak senang melihat kalian bahagia," ujar Syifana dengan lembut, perempuan muda itu bahkan berjongkok dan mengelus seorang anak perempuan berusia 6 tahun yang ada di dekatnya. 


"Ayo, Kak. Kita main bersama," ajak anak kecil itu kepada Syifana. 


"Boleh, ayo kita main. Tapi sebelum itu, kakak punya hadiah untuk kalian," ujar Syifana yang semakin membuat anak-anak itu semakin bahagia. 


Syifana menghabiskan waktu bersama anak-anak yang lahir dengan kurang beruntung itu. Mereka belajar bersama dan bermain dengan gembira. Alvino yang dulu merupakan pria dingin dan terkenal kasar kini berubah menjadi pria hangat yang sangat menyayangi anak-anak. 


Saat malam sudah larut, Alvino mengajak Syifana untuk pulang karena sebagian anak-anak juga sudah beristirahat. Mereka berdua kembali ke mansion membawa kebahagiaan mereka. Keduanya selalu bergandengan tangan hingga mereka sampai di mansion besar Maladeva. 


"Bang, Fana capek mau langsung istirahat, yah?" 


"Yakin mau tidur?" tanyanya seraya mengedipkan sebelah mata. 


Raut wajah Syifana langsung merona saat mendapat pertanyaan bernada nakal dari suaminya. Meskipun hubungan mereka sudah membaik, nyatanya kedua orang itu belum pernah menghabiskan malam panjang berdua. 


"Memangnya mau apa, Bang?" tanya Fana yang pura-pura tidak paham. 


Alvino berjalan mendekati istrinya lalu berbisik tepat di telinga sang istri. "Kamu tidak berniat berterima kasih padaku?" 

__ADS_1


__ADS_2