Dendam Cinta Tuan Alvin

Dendam Cinta Tuan Alvin
Alasan


__ADS_3

Andri masih diam saja di belakang tubuh Alvino saat mendengar keputusan yang baru saja diumumkan oleh pemimpinnya tersebut. Sebagai sekretaris diapun merasa terkejut, akan tetapi kembali lagi pada tugasnya yang memang hanya sebagai tangan kanan dari pria di depan. 


"Tapi, kenapa harus di buburkan, Tuan?" Salah satu anggota memberanikan diri bertanya. 


"Ada pertanyaan lain, biar saya sekalian menjawabnya?" tanya balik Alvino pada seluruh anggota yang berjejer rapi di tempat itu. 


"Lalu kami harus kemana,Tuan. Jika Wild Wolf di bubarkan, kami harus bekerja dimana?" timpal salah satunya lagi. 


"Ada lagi?" tanya Alvin masih dengan raut wajah datar. 


"Apakah anda tidak merasa perjuangan kita selama ini akan sia-sia jika dibubarkan tanpa alasan yang jelas? Posisi kita sudah berada di puncak, Tuan. Menurut saya, coba anda pikirkan baik-baik." 


"Hei! Siapa kau berani memerintah Tu-an Alvin," teriak Andri semakin lirih saat melihat Alvin menyuruhnya berhenti dengan isyarat jari. 


Alvin terdiam sejenak mencoba mengolah kata agar tidak menimbulkan pro dan kontra antar anggota. Meskipun dia yakin tetap saja akan ada yang setuju dan akan ada pula yang menentang dirinya. 


Bisik-bisik dari para anggota terdengar oleh telinga tajam Alvin. Namun, dia sengaja membiarkan mereka melakukan itu. Jika biasanya saat dia memberikan pengumuman dan ada anggota yang berani mengeluarkan suara, apa lagi mengoceh tentang hal tidak penting, Alvino tidak segan memberi hadiah berupa timah panas yang berasal dari pistol miliknya. Berbeda dengan saat ini. 


Sebelum mulai menjawab pertanyaan yang berasal dari para anggota klan, Alvino menghela napas berat. Keputusan ini mungkin akan berdampak buruk pada setiap anggotanya. Mungkin juga diantara mereka akan terpecah belah setelah keputusan yang diambil. 

__ADS_1


"Ehm," deheman Alvino seketika membuat suasana senyap. 


"Baiklah, saya akan mulai menjawab pertanyaan pertama. Kenapa saya harus membubarkan klan ini? Karena klan ini didirikan ayah saya untuk kejahatan. Sementara saya, saya sudah tidak mau lagi hidup menjadi orang jahat. Saya ingin memantaskan diri saya untuk seseorang yang begitu saya sayangi. Apakah di antara kalian juga tidak ingin menjadi pantas untuk keluarga kalian di rumah?" Alvino bukan hanya menjawab, akan tetapi juga membalikkan pertanyaan untuk menyadarkan para anggota. 


Banyak dari para anggota yang diam menunduk, alasan yang diberikan oleh sang pemimpin bukan alasan yang main-main. Selama ini, mereka sering kali mendapatkan pertanyaan mengenai pekerjaan mereka dari para anak-anak. 


"Beralih pada pertanyaan kedua. Kalian akan bekerja dimana jika wild wolf dibubarkan? Apakah di antara kalian ada yang mendengar bahwa saya memecat kalian?" tanya Alvino menatap bergantian para anggota, mereka terlihat menggelengkan kepalanya. 


"Saya rasa cukup jelas. Saya tidak pernah memecat kalian, saya hanya bilang jika ada yang keberatan saya mempersilahkan kalian untuk keluar. Tapi untuk kalian yang masih tetap mau bertahan, kita akan ciptakan klan baru dengan mengubah visi dan misi kita. Namun, disini saya sama sekali tidak memaksa." 


"Pertanyaan ketiga sudah saya jelaskan pada pertanyaan pertama bukan? Saya rasa semua sudah jelas. Silahkan jika ada yang tidak bisa menerima keputusan saya, kalian boleh keluar. Andri akan mengurus pesangon kalian." Alvino menunjuk arah pintu keluar. 


"Andri, urus pesangon mereka. Untuk kalian yang masih ingin bertahan bersama saya, silahkan kembali ke tempat kalian masing-masing. Andri akan menjelaskan peraturan baru yang kubuat." 


Alvino melangkahkan kakinya untuk segera pulang ke mansion. Masih ada urusan lain yang juga perlu diperjuangkan olehnya. 


Hari ini Andri di sibukkan dengan urusan anggota wild wolf yang memutuskan untuk mundur. Setidaknya sepertiga dari keseluruhan anggota memilih berhenti dari pada berubah visi dan misi. Mereka adalah para anggota yang lebih mementingkan kekuasaan dalam dunia bawah. 


Sementara itu, Alvino sedang dalam perjalanan menuju mansion. Namun, rasa rindunya pada seseorang membuat dia memutuskan untuk memutar arah. 

__ADS_1


"Semoga kamu baik-baik saja, Fana. Maafkan saya karena terpaksa meninggalkan kamu dalam situasi ini. Saya hanya tidak mau menyakiti ayah kamu jika saya mementingkan keegoisan saya," gumam Alvino yang kini semakin menambah kecepatan laju mobilnya.


Beberapa saat kemudian Alvino melintas di sebuah toko bunga. Pria itu akhirnya menghentikan perjalanannya untuk mampir sejenak di toko bunga. 


Tanpa membuang-buang waktu, Alvino memutuskan untuk memilih tanaman bunga. Pilihannya jatuh pada bunga anyelir dengan beragam warna. 


"Boleh saya minta kertas dan pulpen, Mbak?" tanya Alvino setelah memilih beberapa tanaman. 


"Boleh, Tuan, silahkan." 


Alvino menuliskan kata singkat di dalam kertas tersebut. Dia memang bukan tipe orang yang romantis apa lagi untuk merangkai kata. Apa yang saat ini di tulis hanyalah sebuah harapan untuk sang penerima bunga tersebut. 


"Tolong kirimkan ke alamat ini, dan jangan sebut nama pengirim. Saya ingin di rahasiakan!"


Si pelayan mengangguk mengerti, lalu mengurus masalah pembayaran beberapa tanaman bunga yang di pesan oleh pria tampan di depan. 


Begitu selesai Alvino keluar dari toko itu, dia mengurungkan niatnya untuk melihat sang pemilik hati. Untuk hari ini, mungkin sudah cukup dengan memberikan perempuan itu hadiah. Rona ceria yang kini terpancar harus hilang seketika saat ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor asing. Penasaran, Alvino membuka pesan tersebut. 


"Berani dia mendekati istriku!" Alvino memukul stir mobilnya. 

__ADS_1


__ADS_2