Dendam Cinta Tuan Alvin

Dendam Cinta Tuan Alvin
Berhenti


__ADS_3

"Maaf, Fana. Saya tidak bisa selalu ada di dekat kamu. Tapi, saya pastikan saya akan terus menjaga kamu selamanya." Alvino menatap sendu wajah pucat perempuan tercinta sebelum keluar dari ruangan itu. 


Setelah berhasil keluar dari kamar rawat Syifana, Alvino melangkah dengan tergesa-gesa. Pria itu tidak mau jika perbuatannya saat ini diketahui oleh orang lain, bahkan oleh Syifana sekalipun. Jantungnya sempat terasa berhenti berdetak saat namanya di panggil oleh si perempuan tercinta. Beruntungnya ternyata si perempuan tidak bangun melainkan sedang mengigau menyebut namanya. 


Meski merasa sedih dengan keadaan perempuan yang masih terbaring lemah di ranjang pesakitan, kepalanya bahkan terlilit perban akibat luka yang di dapat saat tertabrak mobil. Rela tidak rela, Alvino memang harus melakukan ini. Dia tidak mau jika perempuan itu terus menderita dengan tetap bersamanya. 


"Saya akan datang saat saya merasa sudah pantas menjadi pendamping kamu, Fana. Semoga kamu juga mau menungguku hingga hari itu tiba," harap Alvino kepada sang pemilik kehidupan. 


Pria itu memutuskan kembali ke mansionnya, misinya untuk berubah bukan semata-mata karena cintanya pada Syifana. Melainkan juga ingin berubah agar diapun tidak merasa menjadi pasangan yang buruk untuk perempuan tercintanya. 


Saat sudah menaiki mobil mewahnya, Alvino mengeluarkan ponsel untuk menghubungi seseorang. Dia membutuhkan bantuan seseorang untuk menyingkirkan segala hal buruk tentang masa lalunya. 


"Andri, datanglah ke mansion. Saya tunggu secepatnya!" Setelah memerintahkan si sekretaris, Alvino mengakhiri panggilan teleponnya. 


Tanpa membuang waktu lagi Alvino segera mengendarai mobilnya menuju mansion. Pria itu memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi hingga kendaraan roda empat itu melesat membelah jalanan bagaikan angin lewat. 

__ADS_1


Begitu sampai di mansion ternyata Andri benar-benar sudah menunggunya di teras. Pria yang merupakan tangan kanan Alvino itu segera beranjak saat melihat mobil milik tuannya berhenti di halaman depan mansion. 


"Bagus, kau memang selalu dapat ku andalkan, Andri." Alvino menepuk pelan bahu si sekretaris. 


Andri menatap sang bos yang terlihat baik-baik saja, padahal dia sudah sangat khawatir jika terjadi apa-apa pada pemimpinnya itu. Namun, meski tuannya tidak terlihat terpuruk, Andri begitu paham bahwa hati sang tuan tengah hancur berkeping-keping. 


"Miris sekali jalan takdir Tuan Alvin. Dalam keluarga tidak beruntung, dan kisah cintanya juga selalu berakhir tragis." Kata-kata itu hanya terucap di hati Andri. 


Merasa di tatap dengan tatapan berbeda oleh tangan kanannya, Alvino mengibaskan tangannya di depan wajah Andri. "Kau kenapa menatapku seperti itu?" 


"Aku baik-baik saja, Ndri. Tenanglah. Tidak perlu terlalu mencemaskanku," jawabnya dengan senyum tipis. 


"Tapi …." 


"Aku baik-baik saja, Andri. Lihatlah, apa ada yang aneh padaku? Aku masih sama seperti biasanya," sela Alvino dengan cepat. 

__ADS_1


"Anda salah, Tuan. Anda tidak seperti biasanya, sekarang anda lebih bisa mengendalikan diri dengan baik. Memendam semuanya seorang diri, dan itu justru yang membuat saya khawatir." Lagi-lagi Andri hanya membatin di dalam hatinya. 


"Sekarang bantu aku, jangan terlalu banyak bertanya. Cukup lakukan saja perintahku," tutur Alvino yang tidak mau jika si sekretaris terlalu banyak bertanya. 


"Baik, Tuan." 


Alvino tidak masuk ke mansion, pria itu justru melangkah menuju gudang penyimpanan. Hal itu membuat Andri yang mengikuti di belakang, semakin kebingungan. Apakah yang akan di lakukan oleh pemimpinnya itu di tempat penyimpanan. 


Pria itu membuka pintu gudang menggunakan tangannya sendiri. Tempat yang biasanya gelap tanpa cahaya itu seketika terang ketika sinar matahari di biarkan masuk tanpa di halangi oleh apapun. 


"Tuan, mau apa kita ke tempat ini? Apakah anda memerlukan sesuatu? Biasanya anda akan menyuruh saya untuk mengambilnya," Belum apa-apa, Andri sudah banyak bertanya. 


Alvino membalikkan tubuhnya menghadap pada si sekretaris. "Aku tidak memerlukan apapun, sekarang kita singkirkan semua yang ada di tempat ini. Kubur semua tubuh manusia itu dengan benar!" 


Andri tercengang dengan perintah yang diberikan oleh sang bos. "Maksud anda? Bukankah semua ini adalah pesanan seseorang?" tanya Andri tidak percaya. 

__ADS_1


"Aku tidak peduli, Andri. Mulai saat ini, aku akan berhenti dari bisnis gelap ini." 


__ADS_2