
"Siapa kau berani mengancam tuan mudaku?" tanya Andri dengan nada tidak terima.
"Tidak penting siapa aku. Yang jelas urusan rumah tanggaku bukanlah ranah bosmu untuk ikut campur."
Andri tertawa terbahak-bahak saat mendengar ucapan laki-laki di depannya. Laki-laki itu mengatakan urusan rumah tangga, sedangkan rumah tangga yang dimaksud telah hancur.
"Berani sekali kau menertawakan aku!" bentak laki-laki itu tidak terima.
Masih dengan tawanya Andri menatap remeh laki-laki itu. Detik berikutnya tangan kanan Alvino itu meludah ke samping.
"Masih berhalusinasi menyebut rumah tangga yang sudah berakhir. Apa kau setidak malu itu?"
Laki-laki itu bangkit dengan mimik wajah emosi. Penuh amarah yang terlihat dari sorot matanya. Meski begitu Andri sama sekali tidak gentar. Pria kepercayaan Alvino itu masih terus mengeluarkan tawa riang dari bibirnya yang sedikit tebal.
"Kurang ajar! Hadapi aku sekarang." Laki-laki itu melepaskan jas yang dikenakan lalu membuangnya ke segala arah.
Andri benar-benar santai menghadapi laki-laki yang sudah sangat emosi itu. Pria blasteran Indonesia - Belanda itu hanya menggulung lengan kemejanya hingga sebatas siku seraya perlahan melangkah maju.
Laki-laki yang merupakan mantan suami Sintia itu berlari menerjang perut Andri dengan eratan tangannya dan mendorong paksa tubuh lawannya hingga menabrak tembok.
Tidak hanya disitu saja, laki-laki itu bahkan menghajar wajah tampan Andri dengan kepalan tangannya. Meski sedang diserang oleh lawannya, Andri sama sekali tidak tampak kesakitan. Wajah tampan itu seperti sudah kebal oleh pukulan yang di layangkan oleh si lawan.
Laki-laki itu melangkah mundur dengan napas terengah-engah saat melihat lawannya hanya diam saja. Seperti tidak ada niatan untuk membalas ataupun menghindar.
"Sudah?" tanya Andri disertai seringai di salah satu sudut bibirnya.
"Gila, wajahnya sekeras batu. Tanganku sampai sakit karena memukulinya," batin si laki-laki pengecut itu.
"Kalau belum puas, aku akan memberikanmu waktu menyerangku selama 10 menit."
Masih dengan napas tersengal laki-laki yang merasa si lawan semakin meremehkannya itu kembali maju. Karena merasa kepalan tangannya tidak mempan untuk menumbangkan lawannya, kini dia beralih menggunakan kaki yang dia tenangkan ke arah perut si lawan.
Bukannya menumbangkan Andri, laki-laki itu justru terpental ke belakang hingga jatuh ke lantai kotor.
__ADS_1
"Dasar lemah! Kau memintaku untuk melawanmu, sedangkan belum sempat aku memberikan perlawanan kau sudah tumbang duluan."
Andri melangkah mendekati si laki-laki itu lalu berjongkok untuk menyamaratakan tinggi mereka. Tangan kirinya terulur menggapai kerah kemeja laki-laki yang berani mencari masalah dengan tuan mudanya itu dan mencengkram kuat-kuat.
"Jika kau ingin mencari lawan. Lebih baik cari tahu dulu asal usul lawanmu sebelum kau menyesal."
Beberapa anak buah yang dibawa oleh Andri ikut masuk ke dalam ruangan itu setelah berhasil menumbangkan lawan-lawan mereka. Andri yang melihat anggotanya sudah berada di tempat yang sama dengannya langsung memberikan perintah kepada mereka.
"Cari dua anak yang disembunyikan di tempat ini. Pastikan mereka berdua dalam keadaan selamat!"
Para anggota langsung membubarkan diri untuk mencari keberadaan dua anak tersebut. Sementara itu, Andri masih setia memberikan ultimatum kepada laki-laki yang sepertinya sedang merasa terintimidasi. Tanpa mengotori tangannya sendiri, Andri berhasil membuat lawannya tidak berkutik.
Wajah angkuh laki-laki itu kini berubah ketakutan. Dia benar-benar tidak menyangka bahwa sekretaris dari orang yang menjadi musuhnya kali ini saja memiliki tubuh seperti batu. Setiap dia melayangkan pukulan hanya akan meninggalkan rasa sakit pada dirinya sendiri.
"Kau beruntung karena bertemu kami di masa sekarang. Aku tidak tahu lagi jika kau bertemu dengan kami di masa dulu. Mungkin sekarang kau hanya tinggal nama tanpa raga," ujar Andri dengan nada lembut tetapi begitu mengerikan di telinga laki-laki pengecut itu.
Dia memutuskan untuk diam tidak menjawab. Tangan, kaki, serta bok*ngnya saja masih merasakan sakit dan nyeri. Dia tidak ingin menambah kesakitan lagi dengan menjawab ucapan pria itu dan berakhir dirinya lagi yang terkapar.
Andri menoleh kearah anggotanya yang membawa seorang anak perempuan yang kira-kira berusia 7 tahun. Pria kepercayaan Alvino itu mengalihkan pandangan ke arah si laki-laki mantan suami Sintia.
"Dimana anak Nona Sintia yang laki-laki?" tanyanya dengan mengintimidasi.
"Biarkan dia tetap bersamaku. Dia yang akan menjadi penerusku."
Andri meniupkan udara dari mulutnya ke atas sebagai pelampiasan rasa kesalnya. Dia masih berbaik hati dengan tidak menghajar laki-laki itu, tetapi ternyata pria itu malah melunjak.
"Kau berikan anak-anak Nona Sintia atau kau tidak akan pernah menghirup udara segar lagi?"
Andri memberikan tawaran dengan nada sedikit membentak. Kesabaran sudah semakin terkikis. Jika bukan karena peringatan dari Nyonya mudanya, mungkin Andri tidak segan untuk menghabisi laki-laki tidak tahu diri ini.
"Tolong lepaskan aku, bawa saja Arina. Tapi David tetap bersamaku," mohonnya dengan wajah memelas.
"Pa tolong jangan pisahkan Arin dengan David. Arin takut papa akan memukulinya," timpal Arina yang terlihat ketakutan.
__ADS_1
Darah dalam diri Andri mendidih saat mendengar permohonan gadis kecil itu. Ternyata benar, laki-laki pengecut ini hanya mampu bersikap semena-mena dan menindas keluarganya sendiri.
"Kau dengar? Putrimu saja tidak menginginkan adiknya diasuh olehmu. Cepat berikan sekarang, atau kau akan berkenalan dengan benda kesayanganku."
Andri melepas cengkraman di leher laki-laki itu dengan sedikit mendorongnya. Dia berdiri lalu merogoh sesuatu dari saku pinggang belakangnya.
Mata laki-laki itu membulat sempurna saat melihat sebuah pistol ada di genggaman pria yang dia yakini adalah keturunan batu tersebut. Jika tanpa menyentuh saja pria itu dapat menumbangkan dirinya, lalu bagaimana jika pistol itu ikut berbicara.
"Baik, saya akan berikan David pada kalian. Tetapi lepaskan saya dulu," ujarnya dengan tubuh bergetar.
"Kau pikir aku bodoh!" bentak Andri seraya menyiapkan pistolnya dengan posisi siap tembak.
"Oke-oke. David ada di ruang bawah tanah. Aku menyembunyikan dia disana," ujarnya dengan mimik wajah ketakutan.
"Cepat cari anak itu. Aku tidak ingin terjadi apapun padanya!"
Para anggota kembali menyusuri tempat itu untuk mencari ruang bawah tanah yang di maksud. Setelah beberapa menit mereka menemukan tempat itu dan bergegas masuk ke dalamnya.
Suara tangisan anak kecil terdengar. Mereka dengan cepat menemukan anak tersebut dan menggendongnya untuk segera melapor pada atasan mereka.
"Tuan Andri, sepertinya anak ini mengalami traumatik. Terbukti dia seperti ketakutan saat kami berusaha menggendongnya tadi."
Anak laki-laki berusia 5 tahun itu baru mau berhenti menangis ketika diturunkan dan bertemu dengan kakaknya. Mereka berdua berpelukan dengan begitu erat seperti takut jika kembali terpisah.
"Ka-kak, Da-vid takut," rengeknya dengan suara terputus-putus.
"Tidak apa-apa, David. Kita akan selamat dari kekejaman papa," ujar anak perempuan itu.
Andri semakin emosi saat mendengar perkataan dari kedua anak tersebut. Di usia mereka yang masih kecil, mereka harus menjadi korban kekejaman ayahnya sendiri. Orang yang seharusnya melindungi mereka justru menjadi monster menakutkan untuk mereka.
"Kau benar-benar tidak berguna, Felix. Kau tega menyakiti darah dagingmu sendiri. Aku benar-benar sangat ingin melenyapkan mu!" bentak Andri dengan suara tinggi. Pria kepercayaan Alvino Maladeva itu mengarahkan pistolnya ke kepala laki-laki bernama Felix tersebut.
__ADS_1