Dendam Cinta Tuan Alvin

Dendam Cinta Tuan Alvin
Sadarkan Suamiku


__ADS_3

"Kau bunuh tembak mati mereka?" pekik Alvino dengan suara besarnya.


"Iya, Tuan, saya terpaksa karena hampir saja ular-ular itu mematuk Nona."


Alvino beralih menatap sang istri yang sekarang dalam keadaan tidak sadarkan diri. "Kau berani sekali, melakukan sesuatu tanpa seijinku."


Andri menundukkan pandangan. Dia tahu kalau dirinya memang bersalah karena membunuh ular peliharaan tuan mudanya, yang sudah sejak lama menjadi hal kegemaran pria tampan dengan tubuh atletis itu.


"Maaf, Tuan. Saya benar-benar tidak sengaja melakukan itu. Saya terdesak dan terpaksa mengorbankan ular itu demi keselamatan istri anda," ujar Andri penuh penyesalan.


Alvino langsung mendelik tajam ke arah tangan kanannya itu. "Siapa yang membahas ular itu, Bod*h!"


Andri terkejut dengan ucapan tuan mudanya barusan. Dia mengira kesalahan yang telah dia buat adalah membunuh peliharaan miliknya. Namun, Andri juga kebingungan, jika bukan karena ular itu, lalu karena apa? Karena masih sibuk bergelut dengan pikirannya sendiri, Andri diam mematung tanpa menjawab Alvino sama sekali.


Hal itu membuat Alvino mendengus kesal. "Berani sekali kau menyentuh istriku, Bedeb*h!"


Pria yang merupakan orang kepercayaan Alvino sejak lama itu terlonjak kaget hingga mundur beberapa langkah. Mendengar tuan mudanya marah adalah hal biasa, tetapi jika marah karena seorang perempuan dan itu bukan Nona Ara, sepertinya itu adalah mustahil terjadi.


"Maaf, Tuan."


Hanya kata itu yang mampu di ucapkan oleh Andri. Tampaknya tuan mudanya itu sudah mulai menyukai sang istri. Namun, jika itu benar kenapa pria itu tega mengurung istrinya di gudang penyimpanan barang-barang ilegal miliknya.


Alvino menyentuh kening sang istri, merasakan suhu tubuh sang istri yang terasa sangat panas. "Ambilkan aku air hangat untuk mengompres istriku,"


Andri mengangguk dan segera melangkah untuk keluar dari kamar tuan mudanya. Namun, langkahnya kembali terhenti karena mendengar ucapan dari tuan mudanya.

__ADS_1


"Kejadian ini, jangan sampai ada yang mengetahuinya!" seru Alvino seraya memberi isyarat pada Andri untuk keluar menggunakan tangannya.


"Baik, Tuan. Saya permisi dulu," pamit Andri sebelum keluar dari kamar utama mansion besar itu.


Sepeninggal Andri dari sana, kini hanya ada Alvino dan Syifana yang tengah pingsan. Alvino menatap sang istri dengan raut wajah sedih. Sebenarnya dia tidak tega untuk menyakiti perempuan yang sudah rela menjadi pendampingnya itu, tetapi saat mengingat bahwa kakak dari istrinya lah yang merebut pujaan hatinya, rasanya dia ingin melampiaskan semua rasa kesal, emosi dan rasa bencinya pada perempuan itu.


"Maaf, Fana. Maafkan Abang yang tidak bisa menjadi suami yang baik untuk kamu, tetapi saat melihat wajah polosmu itu, aku selalu teringat dengan kakakmu yang sudah merebut Ara dariku."


Cairan bening tiba-tiba lolos dari sudut mata tajam Alvino. Pria itu segera menghapus dengan tangannya, tidak ingin siapapun tahu bahwa dirinya tengah menangis. Dia tidak mau siapapun mengetahui bahwa dirinya sekarang sudah lemah.


"Ini air hangatnya, Tuan." Andri menyodorkan sebuah wadah berisi air hangat dan handuk untuk mengompres perempuan yang terbaring di atas ranjang.


Alvino menerima barang pemberian Andri, pria itu langsung menyuruh tangan kanannya itu untuk meninggalkan dirinya dengan sang istri. Andri menurut, pria itu langsung pergi dari tempat itu. Memberikan ruang untuk tuan mudanya untuk mengobati istrinya sendiri.


Pria itu duduk di samping sang istri yang belum sadarkan diri. Rasa menyesal dan bersalah kini merasuki relung hati terdalamnya. Sebagai seorang suami, dia sudah gagal. Dia yang seharusnya melindungi istrinya justru menjadi monster menakutkan yang tidak segan-segan menyakiti fisik dan batin perempuan muda itu.


"Semoga kamu kuat, Fana. Untuk menghadapi sifat dan kelakuan burukku ini," ujar Alvino penuh penyesalan.


Ketika sedang sibuk mengurus Syifana, ponsel miliknya berdering. Alvino dengan cepat menerima panggilan itu.


"Ya, Mam. Aldev kesana sekarang,"


Setelah mengakhir panggilan, Alvino menatap istrinya yang belum juga sadar. Pria itu kemudian bangkit dari sisi sang istri. Berjalan keluar dengan langkah tergesa-gesa.


Selepas kepergian Alvino, Syifana membuka matanya. Cairan yang berasal dari kedua matanya itu menetes. Sebenarnya Syifana sudah sadar sejak tadi, tetapi perempuan itu sengaja tetap pura-pura pingsan agar mengetahui apa yang di sembunyikan oleh suaminya itu.

__ADS_1


Perempuan itu mengambil handuk yang menjadi alat kompres untuknya, dan berusaha bangkit untuk duduk bersandarkan pada ranjang. Tatapannya lurus ke arah pintu yang menghilangkan suaminya dari pandangan. Air mata itu tidak mampu lagi di tahan oleh Syifana.


"Jadi benar, Bang. Kamu menikahiku hanya untuk balas dendam kepada kakakku atas pernikahannya dengan Kak Ara."


Syifana menatap sekeliling, tempat ini adalah tempat yang menjadi saksi bisu terenggutnya mahkota miliknya secara paksa oleh suaminya sendiri. Perempuan itu memutuskan untuk turun dari ranjang. Berjalan dengan tertatih keluar dari kamar utama.


Perempuan yang masih dengan keadaan lemah itu tetap memaksa diri untuk kembali ke kamarnya sendiri. Dia merasa tidak nyaman berada di kamar yang menjadi tempat mengerikan yang terjadi pada dirinya.


Syifana masuk ke dalam kamar sederhana, duduk di ranjang berukuran kecil. Setidaknya di tempat itu, dia tidak lagi mengingat kejadian yang membuatnya trauma dengan sentuhan pria.


Bayang-bayang ketika suaminya itu mengambil haknya dengan paksa. Padahal, dia sangat mendambakan akan menjalani kewajibannya itu dengan senang hati, tetapi kekasaran yang di lakukan oleh pria itu, membuat dirinya ketakutan jika harus kembali melakukan hal itu.


Syifana membaringkan tubuh lemahnya di ranjang, berusaha memejamkan mata untuk mengistirahatkan diri dari rasa lelah dan sakit yang mendera tubuhnya.


Namun, ketika dia kembali masuk ke dalam alam mimpi, ingatan Syifana justru terjebak pada kejadian di gudang tadi. Tentang beberapa anggota tub*h yang menggantung dan ular-ular yang mengejar dirinya.


Perempuan itu menjerit ketika tersadar dari mimpinya. Banyak keringat keluar dari pori-pori tubuhnya. Syifana berusaha mengatur nafasnya yang memburu. Memejamkan mata dan mengambil napas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan.


"Ya Tuhan, sebenarnya apa pekerjaan suami hamba? Jika dia adalah orang yang jahat, segera sadarkan dia dari jalan gelapnya. Tuntun dia ke jalan yang benar, Tuhan."


Syifana mendoakan sang suami dengan air mata ketulusan. Dia juga ingin suaminya itu bertaubat dan menjadi orang yang lebih baik.


Karena merasa gelisah, Syifana memutuskan untuk masuk ke kamar mandi. Perempuan itu mengambil air untuk mensucikan diri dari hadats kecil. Begitu selesai berwudhu, Syifana keluar dari kamar mandi dan berjalan menuju lemarinya. Mengambil mukenah miliknya yang dia bawa dari rumah orang tuanya.


Setelah memakai mukenah, Syifana menggelar sajadah dan melaksanakan sholat Dzuhur. Selain untuk menunaikan kewajibannya, sholat juga membuat dirinya merasa lebih tenang.

__ADS_1


Saat Syifana sedang menunaikan kewajibannya sebagai umat muslim. Di balik pintu kamar yang sedikit terbuka, seorang pria menatap kegiatan Syifana dengan mata sayunya.


Bersambung...


__ADS_2