
"Enggak, Yah. Kami tidak akan pernah bercerai, bahkan sampai akhir nafas Syifa. Syifa akan pertahankan rumah tangga ini. Lagi pula, Bang Vino menjatuhkan talak atas paksaan ayah, dan pada saat aku tidak suci, Yah. Kami masih sah suami isteri!"
Alvino sedikit terkejut saat mendengar penuturan Syifana barusan. Itu artinya dia dan Syifana masih memiliki ikatan yang kuat di mata hukum dan agama. Namun, dia belum mengeluarkan suara apapun saat ini.
"Lihatlah, Syifa. Karena pengaruh buruknya, kamu sekarang berani menentang dan menceramahi ayah. Dimana putri ayah yang penurut?"
"Syifa tidak akan pernah seperti ini, jika bukan karena ayah yang memaksa Syifa. Maaf, Yah. Tapi keputusan Syifana sudah bulat. Syifa akan mencabut gugatan itu," ujar Syifana yang sebenarnya merasa sedih.
"Baiklah, jika itu kemauanmu. Tinggallah bersama dia. Tapi ayah tidak akan memaafkan dia jika sampai menyakitimu lagi!"
Hendra akhirnya mengalah, dia pergi dari mansion sang menantu tanpa berhasil membawa sang putri untuk kembali. Hanya kekecewaan yang di dapatkan. Pada akhirnya dia menyadari, sekeras apapun dia berusaha maka sang putri akan semakin menentangnya.
Seren yang sejak tadi diam, tanpa berani ikut campur masalah antara Syifana dan ayahnya kini mendekati Syifana. Perempuan muda itu langsung menghambur ke pelukannya.
"Mah, Syifa sudah jadi anak durhaka. Apakah ayah akan memaafkan Syifa?" tanyanya penuh sesal.
Elusan lembut di punggung yang di berikan oleh sang mertua sangat membuat Syifana merasa tenang, seakan almarhumah ibunya juga berada di sana.
"Kita coba pelan-pelan, mama tahu ayahmu hanya sedang emosi. Mulai saat ini biarkan suamimu yang berjuang untuk mendapatkan hati ayah," saran dari Seren membuat Syifana mendongak.
"Maksud mama?"
"Biarkan Alvino yang memikirkan caranya, kamu cukup jaga kesehatan kamu. Mama akan ikut menjaga kamu disini," ujarnya dengan sangat lembut.
"Mah, Al keluar sebentar, yah! Tolong jaga istriku," pinta Alvin pada ibunya.
"Pasti mama jaga dengan baik. Kamu tenang saja," jawab Seren dengan senang hati.
Alvino pergi meninggalkan kedua perempuan berbeda generasi itu. Dia berniat untuk mengejar ayah mertuanya yang pergi membawa amarah.
Sesuai yang di minta oleh Alvino, Seren menjaga sang menantu dengan baik. Lagi pula sebelum Alvino menyadari rasa cintanya terhadap Syifa, Seren memang sudah baik pada perempuan muda itu. Perempuan yang datang ke mansion dan mengalami banyak sekali kemalangan yang di akibatkan oleh putranya itu.
"Mah, memangnya benar Bang Vino sudah tidak terlibat dalam kejahatan lagi?" Syifana hanya ingin memastikan apa yang di laporkan oleh mertuanya itu memang benar.
__ADS_1
"Kamu tidak percaya, yah? Sini, ikut mama." Seren menggandeng sang menantu untuk menuju suatu tempat.
Syifana sedikit menajamkan penglihatan serta memory otaknya. Jalan yang sedang di lalui oleh mereka, dia merasa tidak asing dengan jalan itu. Benar saja, mertuanya itu ternyata membawanya ke gudang penyimpanan. Salah satu saksi bisu atas kekejaman Alvino padanya.
"Kita kembali saja, Mah. Syifa takut," ajak Syifana sedikit menarik tangan sang mertua.
"Tidak apa-apa. Ada mama disini," jawabnya seraya mengelus pelan lengan sang menantu.
Perempuan paruh baya itu membuka gudang penyimpanan. Seketika Syifana tertegun dengan apa yang dia lihat saat ini. Tempat itu ternyata sudah berubah menjadi tempat penangkaran kucing. Banyak sekali jenis kucing yang berkeliaran di sana. Mereka terlihat cantik dan terawat.
"Mah, ini–,"
"Suamimu sengaja mengalihkan fungsi tempat ini sebagai tempat memelihara hewan kesukaan istrinya. Dia sendiri yang mendesign tempat ini hingga selesai."
Syifana menutup mulutnya setelah mendengar penuturan sang mertua. "Bang Vino tahu kalau aku suka kucing?"
Seren tersenyum hangat. "Tentu saja dia tahu. Banyak sekali hal yang dia lakukan selama perpisahan kalian. Tapi mama bersyukur, karena apa yang di lakukan oleh putra mama kali ini adalah hal-hal yang positif. Tidak seperti saat obsesinya kepada Ara terpatahkan," jelas Seren yang membandingkan Alvino yang dulu dan sekarang.
Syifana terdiam ketika sang mertua kembali membawa nama sang kakak ipar. Ya dari cerita yang dia dapatkan dari Reiner, obsesi suaminya itu terhadap Ara sudah membuatnya buta.
Mendengar cerita sang mertua, Syifa teringat dengan kejadian yang pernah terjadi di kampung halamannya waktu itu. Dia yang sama sekali tidak mengenal siapa orang yang dia tolong, dan berakhir justru membuat ulah dengan drama bunuh diri.
"Bang Vino memang gila saat itu, Mah. Tapi entah kenapa, syifa justru jatuh cinta padanya," ujar Syifana tanpa sadar.
Setelah kembali dari mansion Alvino, Hendra kini berniat pulang ke rumahnya. Namun, ketika di jalan, tiba-tiba ada sebuah mobil yang menghadangnya. Dengan terpaksa Hendra keluar untuk memeriksa siapa yang berani mengganggu perjalanannya.
Pria paruh baya itu berjalan mendekati mobil yang melintang menghalangi jalannya tanpa rasa takut. Beberapa kali dia mengetuk kaca pintu mobil itu, akan tetapi tidak ada respon apapun. Hendra akhirnya memutuskan untuk mengintip melalui kaca hitam itu.
"Enggak ada orang. Kira-kira siapa yang kurang kerjaan sampai membuat ulah seperti ini?"gumamnya heran.
Pantulan dari kaca pintu mobil itu menampakkan ada seseorang yang berdiri di belakangnya. Dengan cepat dia membalik badan, dan tiba-tiba merasakan sebuah besi dingin yang menembus perutnya.
Darah segar mengalir dari luka tusuk yang didapatkan oleh Hendra. Pria itu kini merosot ke aspal jalan ketika seseorang itu sengaja mencabut paksa pisau itu dari perutnya.
__ADS_1
"Musnahlah kau pria tua Bangka!"
Hanya kata-kata itu yang terakhir di dengar oleh Hendra sebelum kehilangan kesadarannya. Pria paruh baya itu tergeletak di jalan tanpa ada seorangpun yang menolongnya.
Syifana yang baru saja berniat untuk mengistirahatkan tubuhnya setelah lelah bermain dengan kucing terganggu oleh dering ponsel miliknya. Perempuan muda itu segera menerima panggilan yang berasal dari sang kakak.
"Ada apa, Bang?"
"Ayah mengalami kecelakaan. Seseorang menemukan ayah tergeletak bersimbah darah di tengah jalan! Sekarang sedang berada di rumah sakit Amanah Bunda."
Ponsel yang menempel di telinga seketika jatuh membentur lantai saat tangannya tiba-tiba merasa lemas setelah mendengar kabar buruk dari kakaknya.
Kini Syifana sudah sampai di rumah sakit yang disebutkan oleh Ali. Perempuan muda itu langsung berlari menuju ruang operasi. Disana sudah ada Ali dan Ara yang menunggu dengan cemas.
"B-a-ng, a-yah kenapa?" tanya Syifana dengan suara tercekat.
"Ada seseorang yang menusuk ayah, Syifa. Tapi anehnya semua barang-barang milik ayah tidak ada yang hilang satupun," ungkap Ali kepada sang adik.
"A-y-a-h! Ini semua karena Syifa, Kak. Kalau saja Syifa tidak membangkang ayah. Ini tidak akan pernah terjadi," seru Syifana menyalahkan dirinya sendiri.
Tidak lama setelah itu seorang dokter keluar dari ruang operasi. Ketiga orang yang menunggu segera menghampiri dokter itu untuk bertanya tentang keadaan ayah mereka.
"Bagaimana, Dok? tanya Ali menuntut.
Raut wajah dokter itu seperti tidak ada semangat sedikitpun. Justru terlihat lesu tidak bertenaga. Dia hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.
"Maksud dokter apa? Operasi ayah kami berhasil, 'kan? Ayah baik-baik saja."
"Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, akan tetapi Tuhan berkehendak lain. Maaf, ayah kalian sudah meninggal dunia," ujar sang dokter dengan berat hati.
"Ayah! Tidak mungkin. Ayah pasti baik-baik saja, Bang! Ayah tidak mungkin meninggal."
Bersambung...
__ADS_1
Hay, Author bawa rekomendasi lagi, nih! mampir, yak ke karya author Eni Pua dengan judul Cinta Dan Pengkhianatan.