Dendam Cinta Tuan Alvin

Dendam Cinta Tuan Alvin
Diculik


__ADS_3

Seorang wanita paruh baya kembali ke mansion sang anak hanya bersama dengan sang supir. Menantu yang dia bawa kini tidak bersamanya. Wajah wanita itu bahkan terlihat sangat lesu, Alvino yang melihat sang ibu datang sendirian kini bangkit dan menghampiri wanita yang 25 tahun silam sudah melahirkannya.


"Mah, Fana mana?" tanya Alvino seraya melongok ke belakang. Siapa tahu sang istri tertinggal di belakang.


Namun, perempuan itu sama sekali tidak terlihat batang hidungnya. Perasaan Alvino langsung tidak enak, apa lagi ketika melihat wajah sang ibu yang memang terlihat berbeda dari biasanya.


"Fa-na ... di culik!" jawab Mama Seren dengan suara tercekat.


Bagaikan di sambar petir di siang hari, Alvian mematung di tempatnya. Kaki yang tadi sempat berdiri tegak, kini terasa lunglai seakan tidak memiliki tulang sebagai penopangnya.


Tatapan mata Alvino kosong, dia yang biasanya selalu sigap dalam menghadapi situasi tidak biasa seperti ini, mendadak kehilangan kuasanya. Dunia Alvian terasa runtuh saat mendengar kabar istri kecilnya di culik.


Siapa yang berani menculik perempuan itu, siapa orang yang berani mencari masalah dengannya. Apa dia tidak tahu siapa Alvino Maladeva yang sebenarnya sampai berani menculik istrinya. Banyak pertanyaan yang hinggap di hati Alvino saat ini.


"Al, cepat kamu cari menantuku!" seru Mama Seren panik.

__ADS_1


Wanita paruh baya itu menggoncang tubuh putranya agar menyadarkan pria tersebut. Cukup lama sang ibu melakukan itu hingga Alvino benar-benar sadar dari rasa terkejutnya.


Tanpa berucap apapun, pria itu langsung melangkah keluar dari mansion. Alvino bahkan lupa dimana tempat sang istri di culik ataupun info yang bisa membantunya untuk mencari keberadaan sang istri.


Alvino langsung masuk ke dalam mobil Andri saat tangan kanannya itu baru saja sampai di mansion. "Jalan cepat!" serunya memberi perintah.


Andri menuruti perintah dari pimpinannya itu meskipun dirinya sama sekali tidak tahu tujuan yang akan mereka tuju. Sesekali Andri menengok ke belakang untuk mengecek keadaan tuan mudanya. Pria yang duduk di kursi penumpang itu terlihat sangat marah. Entah marah kepada siapa, Andri tidak tahu. Yang jelas, dia yang sudah begitu lama bersama dengan pria itu sangat hapal bagaimana karakter dari pempimpunnya.


Hingga beberapa lama mengemudi, akan tetapi Alvino sama sekali tidak memberi tahu kemana mereka akan pergi membuat Andri memberanikan diri untuk bertanya.


Pertanyaan dari pria yang masih memegang kemudi itu membuat Alvino sadar dari pikirannya tentang Syifana. Pria itu menepuk kepalanya sendiri dengan kencang. Merasa bodoh karena tidak meminta info apa-apa kepada sang ibu.


"Aku tidak tahu, Ndri, yang jelas kita haru mencari istriku!"


Kedua alis Andri terangkat sebagai ekspresi heran. "Memangnya Nona kemana, Tuan?" tanya Andri penasaran.

__ADS_1


"Istriku di culik."


Andri reflek menginjak pedal rem sangat dalam dan tiba-tiba, suara decitan antara gesekan ban mobil dan aspal begitu terdengar keras. Aspal jalan itu bahkan sampai membekas noda berwarna hitam pekat.


"Siapa yang berani menculik Nona Syifa, Tuan?" pertanyaan bodoh keluar dari mulut Andri.


"Kalau aku tahu, aku tidak mungkin kebingungan, Ndri!" rutuknya kesal.


Andri cengar-cengir dengan jawaban Alvino. Pria itu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Merasa sangat bodoh sekali karena memberikan pertanyaan tidak bermutu seperti itu.


"Nona di culik ketika keluar rumah? Kalau boleh tahu, dengan siapa, Tuan?" tanya Andri sudah dalam mode serius.


"Mama," jawab Alvino singkat.


Pria itu sedang sibuk berpikir dan menebak, siapa kira-kira yang berani mencari masalah dengannya. Berbeda dengan Andri yang justru menahan senyum tipisnya agar tidak di lihat oleh sang pemimpin klan.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2