Dendam Cinta Tuan Alvin

Dendam Cinta Tuan Alvin
Kekecewaan Jonathan


__ADS_3

Setelah panggilan Vidio itu berakhir, Alvino yang tadi sempat men screenshoot layar ponsel yang menampakkan wajah cantik sang istri kini meraba hasil bidikan tersebut dengan ibu jarinya. Rasa sesak begitu terasa saat menyesali segala perbuatannya di awal pernikahan mereka. Betapa dia sering kali menyiksa Syifa dengan kejam. Namun, setelah semua perlakuan buruknya, sang istri tetap tidak menaman rasa benci. 


"Maaf, Fana. Bukan aku tidak mencintai kamu, tapi aku sadar aku belum cukup pantas untuk menjadi pendamping kamu." 


Alvino menaruh ponsel miliknya di meja lalu kembali fokus pada berkas perusahaan untuk melampiaskan rasa sesak di hatinya. Berharap jika menyibukkan diri dengan bekerja akan membuat dirinya sedikit melupakan masalah yang tengah di hadapi. 


Ketika Alvino sedang menandatangi dokumen penting perusahaan tiba-tiba Andri masuk ke ruangan dengan wajah tegang. Sang pemimpin menghentikan kegiatannya lalu menatap curiga pada si sekretaris. 


"Ada masalah?" tanya Alvino singkat. 


"Maaf, Tuan. Ada pemberontakan di markas. Beberapa orang yang kemarin mundur, sekarang justru datang menyerang!" 


"Mereka menyerang dengan alasan apa? Bukankah kau sudah menyelesaikan urusan pesangon untuk mereka?" tanya Alvino seraya menyandarkan punggungnya pada kursi kerja. 


"Benar, Tuan. Mereka datang menyerang karena mengira anda sudah tidak akan peduli lagi pada anggota yang masih bertahan," ujar Andri membeberkan. 


Alvino mengembuskan napasnya kasar. Ada saja masalah yang datang menghadang. Padahal saat ini, dia hanya ingin mengubah diri menjadi orang baik. 


"Ternyata jadi orang baik itu tidak mudah. Entah setelah ini akan ada masalah apa lagi." 


"Kita ke markas sekarang. Lindungi semua anggota yang masih setia pada kita!" 


"Baik, Tuan." 


Alvino bangkit dari duduknya lalu bergegas pergi di ikuti oleh Andri di belakang. Pria gagah itu rela meninggalkan setumpuk dokumen penting demi keselamatan para anggota klan yang masih memegang teguh kesetiaan mereka pada Alvino, meski tidak lagi menggunakan nama wild wolf. 

__ADS_1


Andri mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Meski jalanan sedang tidak dalam keadaan lengang, Andri sama sekali tidak terlihat kesulitan. Dia menyalip di antara beberapa mobil yang menghalangi jalannya. Sudah seperti seorang pembalap mobil internasional. 


Beberapa saat kemudian mereka telah sampai di markas Wild Wolf. Tempat itu sudah terlihat kacau meski hanya dilihat dari luar. Alvino tersenyum kecut, ternyata beberapa anak buahnya dulu, kini tega berkhianat. Padahal dia sudah berbaik hati memberikan keputusan di tangan mereka antara bertahan atau mundur. Dia juga tidak membiarkan mereka pergi dengan tangan kosong. 


"Ayo, selamatkan yang masih tersisa. Aku yakin, mereka pasti berbuat di luar batas." Alvino lebih dulu keluar dari mobil. 


Andri langsung sigap mengikuti, akan tetapi sebelum itu dia sudah menyiapkan beberapa senjata yang akan dia gunakan untuk melawan para pengacau yang datang. 


Ketika baru saja masuk ke markas itu, Alvino hanya mampu menatap sekeliling. Tempat itu sudah sangat menyedihkan. Beberapa anggotanya tergeletak bersimbah darah dengan banyaknya luka tembak. Alvino berjalan masuk dengan sesekali memeriksa keadaan para anggotanya. Banyak dari mereka yang sudah kehilangan nyawanya. 


Kedua pria itu terus berjalan melewati setiap tubuh tidak bernyawa itu. Kewaspadaan mereka meningkat saat kembali mendengar suara tembakan yang berasal dari dalam. Alvino mengeluarkan pistol miliknya, begitu juga dengan Andri. Mereka berjalan perlahan agar kedatangannya tidak terdeteksi oleh para pengkhianatan di dalam. 


Keduanya menyembunyikan diri di balik pilar besar. Mata tajam Alvino berusaha mencari siapakah orang yang sudah memimpin pemberontakan tersebut. Netranya membelalak seketika saat berhasil menemukan seseorang yang menjadi biang dari kekacauan ini. 


Suara gaduh yang di timbulkan dari baku tembak di depan sana membuat Alvino merasa gagal sebagai pemimpin. Dia mulai ragu dengan keputusannya yang di ambil tanpa pertimbangan apapun. Namun, pertumpahan darah ini telah terjadi. 


"Jonathan memutuskan untuk mundur karena menganggap anda sudah lemah, Tuan. Dia tidak mau bertahan dengan seseorang yang tiba-tiba mengubah visi dan misi awal Wild Wolf. Dia juga sempat membujukku untuk pergi meninggalkan anda, tapi saya memutuskan untuk bertahan." 


"Aku tidak mengira jika dia akan selicik ini, Ndri. Baiklah, dia bilang aku lemah, 'kan?" Kita buktikan siapa pecundang sebenarnya." 


Alvino akhirnya keluar dari balik pilar besar yang sejak tadi menjadi tempat persembunyian. Dia keluar dengan tangan kosong setelah sebelumnya sudah memasukkan pistolnya di saku jas. 


"Cukup, Jo!" seru Alvino dengan tegas. 


Jonathan yang merasa namanya di panggil, memutuskan untuk menghentikan pertarungannya. Pria yang dulu merupakan orang kepercayaan Alvino tentang markas menoleh ke arah sumber suara. Seringai licik tercetak jelas di kedua sudut bibirnya saat melihat mantan pimpinannya itu berdiri dengan jarak tidak lebih dari lima meter.

__ADS_1


 "Ah, ternyata anda masih peduli dengan mereka, yah! Aku pikir anda sedang sibuk dengan wanita si*lan itu." Jonathan dengan sengaja menghina perempuan yang dicintai oleh Alvino, dia menilai karena perempuan itulah dia kehilangan pemimpinnya yang sejak dulu menjadi kebanggaan. 


Mendengar hinaan keluar dari mulut Jonathan kepada istrinya, wajah Alvino memerah bak kepiting rebus. Kedua tangan kekar itu terkepal sempurna. Sebentar lagi pasti siap meluncurkan pukulan mematikan yang selama ini menjadi andalannya. Namun, dia masih berusaha menahan emosinya.


Andri yang takut jika amarah bosnya akan membuncah akibat perkataan Jonathan akhirnya mengeluarkan suaranya. Bagi sekretaris kepercayaan Alvino, ucapan dari mantan rekannya itu memang sudah melampaui batas. 


"Jo. Jangan kurang ajar! Kau tidak berhak menghina Nona dengan mulut kotormu itu." Andri mengingatkan Jonathan agar tidak berbicara macam-macam. 


Peringatan Andri hanya di anggap angin lalu oleh Jonathan. Melihat bosnya sudah terpancing justru membuat dia semakin bersemangat. Inilah yang dia cari, Alvino yang tangguh dan tidak terkalahkan oleh musuh. 


"Jika kau menganggap wanita itu nona muda, silahkan! Tapi bagiku, dia hanyalah seonggok daging sial*n yang menjadikan tuanku lemah!" 


 "Cukup, Jo. Jika kau kecewa dengan keputusan yang ku ambil, aku bisa terima itu. Tapi jangan pernah hina istriku!" seru Alvino dengan tegas. 


Tawa meremehkan terdengar begitu nyaring. Tidak ada sedikitpun rasa takut atas seruan dari Alvino. Baginya, pria di depannya ini sudah bukan seseorang yang perlu di hormati lagi. 


"Bagus jika Anda menyadari rasa kecewaku saat ini. Bagiku, anda sudah tidak lagi pantas menjadi pemimpin wild wolf sejak anda mengubah nama panggilan anda menjadi Alvino." 


"Dimana Tuan Aldevku yang memiliki ambisi besar dulu? Anda mengubah segalanya setelah jatuh hati pada gadis lemah itu. Padahal saya masih tetap berdiri di garda terdepan anda dalam ambisi mendapatkan Nona Ace. Kalian adalah pasangan serasi. The King and Queen Mafia," jelas Jonathan akhirnya mengeluarkan isi hatinya. 


Alvino terpaku saat mendengar segala isi hati Jonathan. Ternyata pria itu juga memiliki ambisi yang dulu membuatnya depresi. Namun, dulu saat dirinya depresi dengan penolakan Ara, dia masih tetap bisa memimpin wild wolf seperti sedia kala. Berbeda dengan saat ini yang dalam waktu singkat, dia justru membubarkan klan warisan sang ayah. 


"Jo, sadarlah! Ambisi tidak akan pernah membuat kita maju. Kita hanya terus berputar pada takdir yang selalu kita lawan. Ara sudah bahagia dengan keluarganya," 


Bersambung… 

__ADS_1


Hay, Gays. Sambil nunggu update DCTA mampir juga yuk ke karya Mama author yang kecei badai. Dijamin ga akan nyesel, deh! karya Nazwa Talita dengan judul Cinta Berselimut Luka.



__ADS_2