
Kegiatan Ali saat ini tidak luput dari perhatian Ara. Terbukti saat sang suami membalikkan tubuhnya, si istri dengan sigap mencekal pergelangan tangan suaminya. Perempuan itu menggeleng pelan sebagai tanda bahwa dia tidak ingin sang suami melakukan hal yang akan disesalinya. Seakan-akan Ara tahu bahwa sang suami berniat menemui sang ayah.
"Tapi, Moon. Ayah sudah keterlaluan. Aku harus bicara padanya," ujar Ali dengan wajah yang memerah.
"Jangan lakukan apapun saat kamu masih emosi, Danish! Atau kamu akan menyesal."
Mau tidak mau Ali akhirnya menurut, pria itu masih bertahan di tempat, akan tetapi dengan posisi yang berbeda. Ali ikut bersimpuh di tanah seraya memeluk erat tubuh sang adik. Penyesalannya semakin besar terhadap adiknya itu. Namun, semua sudah menjadi bubur. Tidak ada yang bisa di lakukan selain berusaha tetap kuat demi sang adik.
"Kamu tenang saja, Syifa. Kakak tidak akan membiarkan kamu menjanda di usia muda. Kakak janji," tekad Ali seraya mengelus lembut Surai hitam sang adik.
Syifa merasa lebih tenang di pelukan kedua kakak yang begitu menyayanginya. Meskipun Syifa mengetahui bahwa alasan Alvino menyakitinya karena sang kakak, perempuan muda itu tidak sedikitpun merasa dendam. Dia justru merasa beruntung karena merasa di cintai oleh sepasang suami istri yang masih memeluknya dengan erat.
Suara Isak tangis Syifana sudah mulai tidak terdengar, berganti dengan sesegukan lirih yang terasa sangat memilukan di hati ketiga orang yang menjadi saksi. Ara masih terus berusaha menenangkan sang adik, walaupun tubuhnya sendiri sudah merasa pegal dan perutnya sedikit kram karena terlalu lama berjongkok.
"Kak, boleh Syifa minta sesuatu?" tanya Syifa saat sudah sedikit merasa lebih tenang.
Perempuan muda itu mendongak menatap kedua kakaknya yang masih memberinya pelukan hangat. Ara mengulas senyum tipis serta menganggukkan kepala pelan.
"Syifa mau minta apa?" tanya Ara menatap wajah sendu sang adik.
"Syifa ingin bertemu Bang Vino, jika tidak bisa, boleh tolong telepon suami Syifa."
Ara mengalihkan pandangan ke arah sang suami. Meminta jawaban dari suaminya itu atas permintaan sang adik. Ketika si suami merespon dengan anggukan, Ara tersenyum lega.
"Boleh, nanti kakak hubungi Kak Al untuk kamu," jawabnya dengan lembut.
__ADS_1
Binar bahagia menghiasi wajah cantik Syifana. "Terima kasih, Kak."
Ara akhirnya membawa sang adik untuk masuk ke dalam. Sebelum Ara menghubungi Alvino, dia meminta sang adik untuk membersihkan tubuhnya lebih dulu dari kotoran yang menempel saat menanam bunga tadi.
Saat Syifana sudah selesai membersihkan dirinya, Ara segera mengambil ponsel miliknya untuk menepati janji pada si adik tersayang. Ara melakukan panggilan video kepada pria yang memiliki jasa besar atas kehidupannya.
Layar masih menampakkan bahwa panggilan masih berdering, itu artinya orang di seberang sana belum menerima panggilan Vidio tersebut. Melihat bahwa sang suami tidak juga menerima panggilan yang dia lakukan dengan menggunakan ponsel sang kakak, wajah Syifana berubah sendu.
Saat Syifana memberikan ponsel itu kepada Ara, bersamaan dengan tersambungnya panggilan Vidio itu. Layar ponsel itu seketika penuh dengan wajah tampan sang suami.
"Hallo, ada apa, Ra?" tanya Alvin saat belum menyadari wajah siapa yang berada di layar.
"Bang Vino!" panggil Syifa dengan gembira.
Suara Alvino tercekat, sebenarnya dia tidak kalah gembiranya saat ternyata istri kecil yang pernah disia-siakan olehnya itu justru memulai komunikasi dengannya. Pulpen yang berada di tangan terlepas begitu saja saat melihat senyum manis istrinya.
"Bang Vino." Syifana kembali memanggil karena mengira suaminya itu tidak mendengar panggilannya gara-gara jaringan yang buruk.
"Ya, Fa-na. Ka-mu su-dah seh-at?" tanyanya dengan terbata.
"Fana sudah lebih baik, Bang. Melihat Bang Vino baik-baik saja dengan ketidak hadiran Fana disana sudah lebih dari cukup," ujarnya dengan lega.
Awalnya yang menjadi kekhawatiran perempuan muda itu adalah bagaimana keadaan sang suami. Mengingat dia pernah menjadi saksi kesakitan Alvino pada saat depresinya kambuh saat itu. Namun, melihat saat ini suaminya sudah bisa melakukan aktivitas dengan normal membuat rasa cemas Syifana sedikit terkikis.
Alvino tersenyum kecut saat mendengar ucapan sang istri barusan. "Saya kuat karena kamu, Fana. Kamu adalah sumber kekuatan saya sekarang," batin Alvino.
__ADS_1
"Bang Vino," panggil Syifa sekali lagi, perempuan muda itu seperti ragu-ragu untuk mengucapkan apa yang perlu disampaikan.
"Iya, Fana. Ada apa?" tanya Alvino seraya menatap wajah cantik yang memenuhi ponsel barunya, beruntung dia tidak ganti nomor jadi siapapun yang memiliki nomornya masih bisa menghubungi.
"Boleh kita bertemu, Fana rindu."
Mendapat permintaan pertama dari istrinya, Alvino hanya mampu memejamkan kedua matanya. Merasakan perih dari kegalauan yang sedang melanda kalbunya.
Tidak mendapat respon dan justru melihat sang suami memejamkan matanya, Syifana merasa bahwa permintaannya ini seperti akan di tolak. Perempuan muda itu menundukkan wajahnya demi menyembunyikan rasa sedih.
Sedangkan Ara yang juga berada di tempat yang sama hanya mendengar dan melihat interaksi antara sepasang suami istri yang tengah terpisah tersebut. Dia sama sekali tidak ingin mengganggu mereka yang tengah melepas rasa rindu karena sedang dipisahkan oleh keadaan.
"Bagaimana caranya kita bertemu, Fana. Saya tidak mungkin datang dan menyakiti ayahmu untuk kedua kalinya. Sebaiknya kamu pikirkan baik-baik, ucapan ayah adalah benar. Saya tidak pantas untuk kamu," jawab Alvino yang pada akhirnya terpaksa menolak permintaan Syifana.
Pedih, penolakan yang justru di dapatkan oleh Syifana. Padahal perempuan muda itu sudah sangat berharap bisa bertemu dengan Alvino, pria yang berhasil membuatnya jatuh cinta hanya lewat senyuman menawan itu.
"Baiklah, Bang. Maaf jika Syifa mengganggu," ujarnya tanpa berani menatap sang suami.
Setelah itu Syifa langsung mengakhiri sambungan teleponnya. Kedua mata indah itu kini sudah dipenuhi oleh cairan bening yang sebentar lagi akan mengalir, menjadi anak sungai berukuran kecil di kedua pipi Syifana.
Ara sebenarnya merasa sangat kasihan pada sepasang suami istri itu. Ujian rumah tangga yang mereka hadapi jauh lebih besar dari ujiannya saat awal pernikahan dengan Ali dahulu. Jika dulu Ali dan Ara hanya memiliki masalah atas dasar diri sendiri, lain dengan Syifa dan Alvino, mereka mendapat pertentangan keras dari orang tua pihak perempuan.
"Sabar, Syifa. Besok kita datangi kantor Kak Al. Tapi, kamu jangan bilang pada Ayah kalau kita akan pergi kesana. Bilang saja kamu mau menemani kakak belanja perlengkapan bayi," ucap Ara tiba-tiba dengan saran yang cukup konyol.
Meskipun terkejut dengan saran yang di berikan oleh kakak iparnya, akan tetapi Syifana mengangguk setuju. Mungkin dengan cara mendatangi Alvino ke kantornya akan membuat pria itu berubah pikiran.
__ADS_1