Dendam Cinta Tuan Alvin

Dendam Cinta Tuan Alvin
Kedatangan mertua


__ADS_3

Seorang pria menuruni anak tangga dari lantai 3 yang merupakan letak kamarnya hingga sampai di lantai dasar dengan buru-buru. Wajahnya yang tampan terlihat panik, di belakangnya sang sekretaris tengah mengikutinya.


Ketika sampai di lantai dasar, dia segera menuju ke ruang tamu. Langkahnya yang semula tergesa kini melambat ketika mendengar suara, yang berasal dari ruangan itu. Dia menyembunyikan diri di balik lemari besar yang berada di sana.


Pria tampan yang wajahnya kini terlihat lelah, stres dan panik itu berusaha mengendalikan dirinya agar tamu yang datang tidak mencurigai dirinya.


"Semua akan baik-baik saja, Tuan." Andri menepuk lembut bahu bosnya itu.


Melihat bosnya dalam keadaan tertekan, Andri berusaha mengalirkan energi positif agar sang bos tidak merasa gerogi atau sampai salah bicara di depan tamu yang datang mendadak itu.


Saat sudah dapat menguasai diri, pria itu kembali melangkahkan kakinya. Bibir yang sejak tadi hanya murung kini terpaksa melengkungkan senyuman, agar tamu itu percaya dengan apa yang dia katakan nanti.


"Vino, kamu kenapa turun sendirian? Dimana putriku?" tanya tamu yang sudah duduk di sofa ruang tamu.


Pria itu terpaksa mengembangkan senyum manakala tatapannya bertemu dengan perempuan berperut buncit, yang duduk berdampingan dengan pria lain, seorang pria yang membuat dia gelap mata dan melampiaskan dendamnya kepada istri kecilnya.


Alvino mendudukkan dirinya di sofa tunggal, yang berada tepat di samping ayah mertuanya. Sementara Andri tetap berdiri di samping sofa tuan mudanya. Pria yang merupakan tangan kanan Alvino itu sempat mengangguk kearah perempuan yang duduk di sofa, sebagai tanda rasa hormatnya.


Ya tamu yang datang adalah keluarga inti Syifana. Pastinya mereka ingin bertemu dengan gadis kecil kesayangan mereka, yang kini sudah di ambil alih hak dan tanggung jawabnya oleh Alvino.


"Fana sedang jalan-jalan, Pah. Mama yang baru saja pulang dari LA memaksa ingin menghabiskan waktu dengan menantu satu-satunya yang dimilikinya," jawab Alvino dengan sopan.

__ADS_1


Dari wajah dan cara bicara pria itu memang tidak terlihat kebohongan sama sekali. Dia berucap seperti orang tanpa beban, akan tetapi tidak dengan Ara. Perempuan itu dapat menangkap gerak-gerik pria yang sudah sejak kecil bersamanya. Namun, Ara tidak ingin menciptakan masalah dengan mencecar pria yang kini menjadi saudara iparnya.


Pria paruh baya yang merupakan ayah kandung Syifana itu mengangguk. Hatinya yang sejak 2 hari yang lalu merasa gelisah, kini sedikit lega. Setidaknya sang putri berada di tempat dan lingkungan yang tepat. Dia sebagai seorang ayah, hanya ingin sang putri mendapatkan yang terbaik untuk kehidupan selanjutnya. Apa lagi anak-anaknya kini sudah tidak memiliki ibu sebagai tempat mengadu.


"Vino, tolong jaga Syifana dengan baik, dia Ayah besarkan dengan kasih sayang yang berlimpah. Ayah bahkan tidak rela ada seekor semutpun menyakitinya," mohon pria paruh baya itu.


Mendengar permintaan sang mertua, hati Alvino serasa di himpit bongkahan batu besar. Paru-parunya tiba-tiba merasa sesak untuk bernapas. Dia yang sudah di berikan kepercayaan oleh orang tua sang istri, nyatanya justru menyakiti perempuan yang dinikahinya tanpa cinta secara lahir dan batin.


Tidak hanya penyiksaan berupa membawa wanita lain ke rumah, dia bahkan menyakiti fisik sang istri dengan begitu kejam. Lebih parahnya lagi, dia bahkan mengambil kesucian perempuan polos itu tanpa sedikitpun kelembutan.


Tatapan mata Alvino kini kosong. Pikirannya melanglang buana mansion utama ibunya. Dia ingin meminta pengampunan dari sang istri, bersimpuh di kaki perempuan itu untuk mengobati penyesalan yang kian mendera. Jika sang istri ingin melakukan hal yang sama padanyapun, dia akan dengan suka rela menjalaninya.


'Aku harap semua yang ada di pikiranku, tidak terjadi, Kak. Aku akan sangat kecewa jika kamu benar-benar melakukanny,' batin Ara dengan tatapan yang tidak lepas dari Alvino.


"Vin, kamu kenapa? Vino." Ayah Hendra akhirnya sedikit mengguncang lengan sang menantu.


Pria paruh baya itu bingung karena sang menantu justru melamun. Entah apa yang di pikirkan oleh menantunya itu, akan tetapi dia mencoba berpikir positif. Mungkin Alvino sedang banyak masalah di kantornya, maklum saja pria yang menikahi putrinya itu sudah sukses di usia muda.


Alvino terlonjak kaget ketika sang mertua menggoncang lengannya. Pria itu mengerjapkan matanya untuk menyadarkan diri dari lamunan yang kini buyar. Alvino bahkan menggoyangkan kepalanya beberapa kali untuk menguasai diri kembali.


Pria tampan yang masih menggunakan kemeja kerja itu beralih menatap sang mertua, lalu bergantian juga menatap kakak iparnya yang justru membalasnya dengan tatapan sinis, sementara perempuan yang berada di ujung sofa itu tersenyum tipis.

__ADS_1


Alvino membalas senyuman itu dengan canggung. Entah kenapa rasa getaran yang dulu selalu ada, kini terasa hambar ketika melihat senyuman itu. Senyuman yang dulu membuat hari-harinya selalu berbunga-bunga. Di otaknya kini justru muncul senyum ceria sang istri ketika merawatnya di rumah sakit dulu.


"Vino baik-baik saja, Pah. Hanya sedikit ada problem di perusahaan," elak pria itu setelah pandangannya kembali kepada mertuanya.


"Oh, ya sudah, karena Syifana tidak ada di rumah, Ayah pulang dulu, yah! Sekali lagi, tolong jaga putri Ayah dengan baik. Cintai dia dengan sepenuh hati kamu, dengan begitu kamu akan menikmati surga dunia ketika melihat kebahagiaan yang di rasakan oleh istrimu, Vino." Ayah Hendra menepuk lembut bahu sang menantu sebelum bangkit.


"Iya, Ayah. Doakan agar Vino bisa melakukan yang terbaik untuk Fana," jawabnya dengan getir.


Ali dan Ara ikut beranjak, sejak kedatangannya di tempat itu, Ali sama sekali tidak mengeluarkan suara. Pria yang merupakan kakak kandung Syifana itu terpaksa ikut datang hanya karena paksaan dari ayahnya. Bukan karena tidak ingin melihat sang adik, hanya saja dia masih belum bisa berdamai dengan rasa kesalnya pada pria yang pernah ingin merebut istrinya itu.


Alvino mengantar mertua dan iparnya hingga sampai di depan mobil kakak dari istrinya itu. Mereka sempat berbincang sebentar sebelum akhirnya masuk ke mobil, tentunya yang berbincang hanya Alvino dan ayah mertuanya. Ali mana mau berbicara dengan pria yang dibenci olehnya.


Mobil melaju keluar dari halaman luas mansion besar Alvino. Pria itu berdiri dengan tatapan kosong hingga beberapa waktu. Sang asisten yang paham bahwa tuan mudanya kembali melamun, kini menghampiri pria itu. Dia berdehem untuk menyadarkan tuan mudanya dari lamunan tentang istri yang di sia-siakan.


"Tuan, lebih baik anda beristirahat, Nona juga pasti tidak akan suka jika anda sampai melupakan kesehatan anda," ujar Andri agar tuan mudanya itu tidak terus-terusan menyiksa diri.


Alvino yang kini sudah sadar dari lamunannya tentang sang istri, kini membalikkan tubuhnya. Tanpa berkata apapun, pria itu melangkah masuk ke dalam mansion. Namun, langkahnya kembali terhenti ketika melihat bingkai foto yang terpajang di ruang tamu. Sebuah foto yang tadi sempat dia lupakan.


"Andri, apa mertuaku sempat melihat foto itu?" tanya Aldev dengan tatapan tajam.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2