Dendam Cinta Tuan Alvin

Dendam Cinta Tuan Alvin
Mengurus Al


__ADS_3

Syifana menyuapi Alvino dengan sarapan yang sudah dia buat dengan tangannya sendiri. Beberapa kali tatapan sepasang suami istri itu bertemu. Syifana langsung menundukkan wajah ketika Alvino terus memandangi dirinya.


"Al, kamu mau Mama seret dan buang ke sungai Amazon sekarang juga?" ancam wanita paruh baya yang duduk di sofa tidak jauh dari ranjang.


"Mama tega sekali, Al sedang sakit, Mah!" Alvino mencoba membela diri.


"Memangnya saat kamu merenggut apa yang seharusnya belum kamu ambil itu kamu memikirkan Syifana yang sedang sakit?" tanyanya dengan sinis.


Wanita paruh baya yang sejak tadi pura-pura membaca sebuah majalah itu kini menaruh benda yang menjadi alatnya mengintai sang putra.


Raut wajah Alvino pucat seketika, pria itu sekilas menatap Syifana. Walaupun ada kemarahan karena sang istri menceritakan tentang kejadian itu kepada ibunya. Namun, Alvino berusaha untuk mengendalikan dirinya. Jangan sampai amarahnya kembali membuat sang istri kembali merasa takut padanya.


"Maaf," lirih Syifana merasa bersalah.

__ADS_1


Alvino mengukir senyum tipis di bibir pucatnya. Tangan yang masih terdapat jarum infus tersebut menggenggam pelan tangan Syifana yang berada di sampingnya.


"Kamu tidak salah, Fana. Kamu berhak untuk menceritakan semuanya pada Mama, kamu tenang saja, tidak perlu takut lagi padaku. Karena sekejam-kejamnya saya, saya tidak pernah berani menentang Mama." Alvino langsung melepaskan genggaman tangannya ketika mendapat lirikan tajam dari Mama Seren.


Hati Syifana yang semula tertutup oleh kabut ketakutan, kini mulai luluh. Pengakuan sang suami membuatnya begitu yakin, bahwa pria tersebut tidak akan melakukan kejahatan padanya lagi. Syifana bahkan merasa salut dengan apa yang di ucapkan oleh suaminya. Dia pria yang takut jika menentang sang ibu. Itu menjadi poin plus untuknya tetap mempertahankan pria yang sudah menyakiti jiwa dan raganya.


'Bang, apakah suatu saat nanti kamu mau berubah demi Fana?' batinnya bermonolog.


"Terima kasih, Bang." Syifana menyuapkan makanan terakhir untuk sarapan sang suami.


"Harusnya saya yang berterima kasih, Fana," jawabnya ketika sudah menelan makanannya.


"Jangan terlalu banyak mengobrol! Syifa, kamu juga masih butuh istirahat." Mama Seren kini bangkit dari sofa.

__ADS_1


Wanita paruh baya itu mendekati Syifana yang masih membantu Alvino meminum obatnya. Tatapan tajamnya terus saja mengarah kepada putra tunggalnya. Bukannya tidak memiliki hati nurani ataupun ikatan batin, Mama Seren hanya ingin sang putra mau berubah dan tidak lagi menyia-nyiakan perempuan.


"Sudah, ayo keluar." Mama Seren menarik Syifana untuk keluar dari kamar.


Piring dan gelas bahkan sampai tertinggal di atas nakas. Sementara Syifana hanya bisa pasrah ketika sang mertua menariknya pergi dari kamar suaminya.


"Mah, tapi piring dan gelas belum Syifa bereskan," ujar Syifana ketika wanita itu terus menariknya.


"Biarkan saja! Kamu disini adalah Nyonya, Syifa! Bukan pembantu. Kamu istri sah satu-satunya yang di miliki oleh pemilik rumah ini!" tekan Mama Seren menegaskan.


Mau tidak mau, Syifana memang hanya bisa menurut. Keputusan dari wanita yang merupakan mertuanya itu adalah mutlak dan tidak bisa di ganggu gugat.


"Sekarang kamu kembali ke kamar! Istirahat, jangan keluar dari kamar jika Mama tidak berada di samping kamu!" perintahnya dengan tegas.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2