
Bel sekolah berbunyi tanda waktunya pulang. Anak-anak langsung berlarian seakan berebut untuk segera pulang. Jasmine dan Maya berjalan santai menuju gerbang sebab sopir mereka mungkin belum datang karena jalanan ramai. Saat keduanya sedang berjalan dikoridor yang sudah mulai sepi Cindy sudah menghadang keduanya dengan membawa tiga temannya yang lain.
"Kalian mau kemana?" sergahnya.
"Ya pulanglah ... emang mau nginep disini?" jawab Maya sekenanya.
Cindy pun langsung melotot.
"Jangan berani ya!" kata Cindy sambil berkacak pinggang.
"Lho emangnya kenapa kalau kami berani? Sama hantu saja kami berani apa lagi sama kamu!" sahut Maya sambil menunjuk pada wajah Cindy yang sudah merah padam.
"Sudah jangan dihiraukan ... " kata Jasmine sambil menarik tangan Maya dan mengajaknya pergi.
Namun tiba-tiba Cindy menjegal kaki Maya hingga gadis itu hampir saja terjatuh jika tidak sedang digandeng Jasmine. Melihat perlakuan Cindy pada Maya membuat Jasmine tak tinggal diam.
"Maksud kakak apa selalu mengganggu kami?" ucapnya kesal.
Cindy hanya tersenyum sinis melihat keduanya yang kini mulai melawan.
"Aku sangat tidak suka dengan kalian berdua" tunjuknya.
"Sebab kalian hanya sampah yang mengotori jalanku saja" ucapnya sambil berusaha kembali memojokkan keduanya.
"Sampah? Kau pikir kau itu siapa seenaknya mengatai orang?" balas Maya.
"Lagi pula kalau mau mengatai orang itu ngaca dulu" sambungnya.
"Apa maksud kamu hah?"
"Pikir aja sendiri" sembur Maya.
Dengan geram Cindy pun mengangkat tangannya bersiap untuk menampar Maya. Namun sayang kalah cepat dengan gerakan Jasmine yang sudah menahan tangannya dan memitingnya sehingga gadis itu pun kesakitan.
"Jangan sekali-kali meremehkan orang lain" sentaknya sambil mendorong tubuh Cindy kearah teman-temannya yang berada di belakang.
Teman-temannya yang melihat Cindy pun berusaha mengeroyok Jasmine dan Maya. Tapi mereka salah perhitungan karena dua gadis itu ternyata berhasil merobohkan mereka hanya dalam beberapa detik saja. Bahkan Cindy yang kembali ikut mengeroyok pun ikut terkapar.
"Sudah kubilang jangan suka meremehkan orang lain" tukas Jasmine.
"Kali ini kalian salah memilih lawan..." sambung Maya.
Lalu keduanya pun melenggang pergi ke gerbang sekolah dimana sopir keluarga Maya sudah menunggu.
"Aku sungguh heran apa sebenarnya yang membuat si Cindy itu terus mengganggu kita" ucap Jasmine begitu keduanya sudah berada didalam mobil.
"Mungkin saja benar jika sebenarnya dia ingin membuat kita sebagai kambing hitam agar dia tidak ketahuan sedang mendekati kak Rio" ujar Maya mengira-ngira.
__ADS_1
"Hemmm mungkin saja... kau tahu May masalah ini membuatku pusing" kata Jasmine.
"He...he..he... apalagi aku..." sahutnya sambil menampakkan wajah polosnya.
"Apa masalah percintaan itu selalu rumit ya May?" kata Jasmine.
"Entahlah ... soalnya aku juga belum pernah jatuh cinta" ujar Maya, lalu keduanya pun tertawa cekikikan karena merasa lucu.
"Eh tapi janji ya... kalau salah satu diantara kita ada yang jatuh cinta harus memberi tahu yang lainnya" kata Maya.
"Kenapa?"
"Supaya bisa kasih tahu gimana rasanya jadi ga penasaran"
Keduanya pun kembali tertawa.
Hari ini walau pun agak sebal dengan tingkah Cindy dan kelompoknya tapi setelah bercanda dengan Maya, Jasmine jadi teralihkan dari masalahnya yang membuatnya seperti punya dua kehidupan. Sementara di kantor pak Adam masih saja memikirkan hilangnya Jessica yang misterius dari toilet. Merasa tak bisa konsentrasi dengan pekerjaannya ia pun memutuskan untuk keluar dan mencari angin sebentar. Setelah berkeliling tak tentu arah akhirnya ia pun memutuskan untuk memasuki mini market yang ia temui. Saat ia sedang berkeliling mencari sesuatu yang bisa dijadikan camilan saat ia suntuk tiba-tiba ia mendengar suara yang membuatnya langsung tertegun.
"May kamu mau pilih yang mana?"
"I... itu ... bukannya suara Jessica?" gumamnya.
Dan tanpa pikir panjang ia pun segera mencari sumber suara.
Namun ia tertegun karena orang yang dicarinya tak ia temukan. Berkali-kali ia berkeliling namun nihil ia tak dapat menemukan Jessica. Akhirnya ia pun memilih untuk membayar barang belanjaannya ke kasir. Saat itulah ia melihat gadis kaca mata yang ia lihat di cctv hotel malam itu. Tampak gadis itu berdiri di depan kasir bersama temannya masih mengenakan seragam SMUnya. Setelah membayar kedua gadis itu pun langsung keluar dari mini market.
Setelah mengikuti selama beberapa saat ia pun melihat jika mobil yang ditumpangi keduanya masuk ke halaman sebuah rumah. Lalu tampak kedua gadis itu turun dan memasuki rumah tersebut.
"Ini rumah siapa? Apakah ini rumah gadis itu?" ucapnya dalam hati.
"Apakah aku harus menungguinya disini atau..." tiba-tiba bunyi ponselnya membuyarkan lamunannya.
"Halo..."
"Maaf pak... rapat dengan klien sebentar lagi akan dimulai bapak ada dimana?" terdengar suara Nana sekretarisnya.
Adam pun mendengus kesal.
"Aku segera ke sana" ucapnya sambil mematikan ponselnya.
Kemudian ia pun menghubungi anak buahnya yang lain.
"Kalian selidiki pemilik rumah di alamat ini dan awasi setiap orang yang keluar masuk dari rumah tersebut" perintahnya.
Lalu ia pun melajukan mobilnya menuju ke kantornya.
Malam ini akhirnya Jasmine menginap lagi di rumah Maya karena gadis itu ingin agar Jasmine menemaninya karena tiba-tiba saja kedua orangtuanya harus pergi keluar kota. Mama Tika pun tak merasa keberatan jika Jasmine menginap di rumah Maya. Keesokan harinya keduanya pun berangkat ke sekolah bersama setelah sebelumnya mama Tika mengirimkan buku-buku yang dibutuhkan Jasmine hari ini melalui paket online. Saat keduanya keluar dari rumah menuju sekolah dengan diantar sopir tak menyadari jika sedari tadi ada yang mengikuti mobil mereka. Saat tiba di depan sekolah keduanya tampak orang itu diam-diam mengambil gambar Jasmine dan Maya menggunakan kamera ponselnya dan langsung mengirimkannya kepada atasannya.
__ADS_1
"Hemm... jadi kau bersekolah di situ rupanya..." gumam pak Adam saat menerima kiriman foto Jasmine dari orang suruhannya.
"Tetap awasi mereka terutama gadis ini" pesannya sambil menandai foto Jasmine.
"Jangan lupa cari tahu siapa dia sebenarnya" pesannya lagi pada orang suruhannya itu.
"Sekarang kita lihat siapa kamu sebenarnya" kata pak Adam sambil memandang foto Jasmine yang ada di ponselnya.
Hari ini Jasmine dan Maya menjalani sekolahnya dengan tenang karena Cindy dan temannya tak mengganggu keduanya. Bahkan seharian di sekolah tak tampak batang hidung mereka. Entah apa yang terjadi pada mereka sejak kejadian kemarin. Jasmine dan Maya bahkan tak terlalu memikirkannya.
Keduanya malah asyik dengan hobi baru mereka yaitu nonton drakor yang memang sedang booming. Keduanya bahkan sudah punya idolanya masing-masing. Maya bahkan sudah punya target untuk masuk dalam ranking 5 besar dikelasnya akhir tahun ajaran ini agar bisa dapat meminta dibelikan pernak-pernik idolanya langsung dari Korea.
Ya keduanya memang selalu mengutamakan prestasi terlebih dahulu sebelum meminta sesuatu kepada orangtua masing-masing. Saat bel tanda pulang sekolah berbunyi keduanya pun bergegas ke gerbang sekolah menunggu jemputan mereka masing-masing karena hari ini mama Maya sudah pulang walau papanya belum. Saat melihat kedua targetnya berpisah orang suruhan pak Adam pun langsung meghubungi atasannya itu.
"Ada apa?"
"Mereka berpisah pak... jadi siapa yang harus saya ikuti?"
"Ikuti gadis yang kemarin saya suruh kamu mencari identitasnya" perintahnya.
"Baik pak" kemudian dengan cepat orang itu pun mengikuti mobil mama Tika yang menjemput Jasmine. Seperti biasa mama Tika membawa Jasmine ke butik tante Fira.
Sesampainya didepan butik keduanya pun langsung turun dan masuk kedalam. Saat itulah orang suruhan pak Adam kembali mengambil gambar keduanya dan mengirimkannya pada atasannya.
"Bu Tika?" kata pak Adam saat menatap gambar kiriman orang suruhannya. "Apa hubungan bu Tika dengan bocah kacamata itu?" pikirnya penasaran.
"Apa dia anak dari bu Tika?" pikirnya lagi.
"Nana cepat beri saya data pribadi dari bu Tika desainer butik bu Fira!" perintahnya pada sekretarisnya.
Tak berapa lama Nina pun masuk dan menyerahkan file tentang data pribadi bu Tika yang diminta oleh atasannya itu. Dengan seksama dibacanya satu persatu informasi yang ada di file tersebut.
"Ternyata bu Tika janda beranak satu..." gumamnya.
"Jadi gadis itu mungkin anaknya... lalu apa hubungannya dengan Jessica?" semakin ia berusaha untuk memikirkannya membuatnya semakin pusing.
"Aku harus sedikit bersabar menunggu hasil penyelidikan dari orang suruhanku itu..." putusnya.
Sementara orang suruhannya terus mengawasi targetnya dengan seksama. Sedang sang target tampaknya belum menyadari jika mereka tengah diawasi.
"Ra ... aku dan Jasmine pulang dulu ya..."
"Iya ga pa-pa" jawab tante Fira.
"Tante aku pulang dulu ya..." pamit Jasmine.
"Iya sayang..." sahutnya sambil mengacak pelan rambut Jasmine.
__ADS_1
"Hati-hati di jalan ... " ucapnya lagi ketika keduanya keluar dari butik.