Dia Itu Aku

Dia Itu Aku
Penyesalan


__ADS_3

Acara pun langsung dilanjutkan dengan resepsi yang diadakan ditempat itu juga sebab Maya dan Rian tidak ingin terlalu ribet dan ingin menyelesaikan semuanya sehingga mereka dapat beristirahat setelah semua acara selesai. Meski mereka berdua tak mengundang banyak tamu namun karena kedua orangtua Maya yang juga pengusaha membuat semua rekan bisnis mereka datang. Sehingga lebih dari lima ratus orang yang datang ke acara resepsi keduanya. Dan sebagian besar merupakan rekan bisnis kedua orangtua Maya.


Tamu yang berdatangan dan seakan tak berhenti mengalir membuat Maya terlihat mulai kelelahan. Meski begitu ia tetap berusaha tetap tersenyum menyambut para tamu. Jasmine yang sedari pagi sudah di susul oleh Adam pun tampak ikut berbaur dengan para tamu yang datang. Sementara di depan gedung tampak Rio dan Hana baru saja datang dengan membawa putra mereka.


"Han apa kau tidak malu dengan tamu yang lain? kita datang hanya dengan menggunakan motor..." kata Rio merasa rendah diri.


"Ga mas... aku justru ga enak kalau aku ga jadi datang sebab aku diundang langsung oleh mempelai wanitanya..." sahut Hana.


"Hemmm... ya sudah kita langsung masuk ke dalam saja..." kata Rio akhinya.


Ketiganya pun langsung memasuki hotel tempat acara dilaksanakan. Begitu mereka masuk ke dalam suasana megah dan meriah langsung menyambut ketiganya. Bahkan Raka tampak antusias melihat semua dekorasi yang tampak mewah. Saat ketiganya memasuki pintu ballroom Rio seketika tercekat. Tubuhnya tiba-tiba mematung saat melihat foto kedua pengantin yang terpajang di samping pintu masuk.


"Maya..." batin Rio tercekat.


Ya... Rio tak menyangka jika Hana mengajaknya menghadiri pesta pernikahan Maya.


"Kamu kenapa mas?" tanya Hana saat menyadari jika Rio tak bergerak dari tempatnya sedari tadi.


"A... apa... kita tidak salah gedung Han?"


"Ga lah mas... jelas-jelas tertulis di undangan jika di sini tempatnya..." sahut Hana.


"Aku malu Han..." kata Rio beralasan agar ia tak masuk ke dalam sana dan bertemu dengan Maya dan juga kedua orangtuanya.


"Kenapa malu mas... toh kita datang bukan untuk numpang makan... kita datang karena diundang mas..."


"Tapi kamu tidak tahu jika dia itu mantanku Han..." batin Rio.


"Sudah mas ayo masuk... itu kak Dara sudah memanggil kita..." sambung Hana yang melihat Dara melambaikan tangan padanya memberi isyarat agar segera masuk.


Dengan terpaksa Rio pun ikut masuk bersama Hana. Sungguh saat ini Rio benar-benar ingin pergi sejauh-jauhnya dari tempat ini. Ia merasa malu pada Maya, wanita yang telah disakitinya. Apa lagi ia datang bersama wanita yang dulu berselingkuh dengannya dan anak hasil perselingkuhannya itu dengan Hana. Meski Hana saat itu tidak tahu jika Rio sudah punya kekasih. Namun karena sudah terlanjur ia pun hanya bisa pasrah mengikuti langkah istrinya.


"Kok baru datang sih Han... kita kan mau memberi selamat sama pengantinnya bareng-bareng..." protes Dara pada Hana.


"Maaf kak... soalnya tadi jalanan macet..."


"Ya udah... kita ke atas panggung dulu aja mumpung sepi..." ajak Dara.

__ADS_1


Hana pun mengangguk setuju.


"Han aku disini saja sama Raka ya..." kata Rio yang enggan bertemu dengan Maya.


"Iya baiklah mas..."


Hana pun pergi bersama Dara dan teman sesama pegawai butik ke atas panggung untuk mengucapkan selamat pada Maya. Rio merasa sedikit lega karena tidak harus bertatapan langsung dengan Maya. Sedang di atas panggung Maya terlihat mulai kelelahan.


"Kamu tidak apa-apa sayang?" tanya Rian saat melihat Maya sedikit pucat.


"Ga pa-pa kok kak... hanya sedikit capek..." sahut Maya sambil berusaha untuk tersenyum.


"Kalau kau capek lebih baik kau istirahat saja dulu..." ucap Rian lembut.


"Ga pa-pa kok... sebentar lagi juga selesai kan?" ujar Maya tersenyum bahagia suaminya sangat memperhatikan keadaannya.


"Ya sudah kalau kamu udah ga kuat bilang dan langsung istirahat saja..."


Maya pun mengangguk patuh. Rona bahagia terpancar jelas diwajahnya. Saat itulah Hana dan teman-temannya datang mengucapkan selamat pada kedua mempelai. Rian dan Maya pun mengucapkan terima kasih atas kedatangan mereka semua. Setelah itu Hana dan yang lainnya pun turun dan kembali ke tempat duduk mereka untuk menikmati hidangan yang telah tersedia. Rio tampak nanar menatap Maya yang tengah bersanding di pelaminan. Jika saja dia bisa setia mungkin saat ini dialah yang ada di sana berdiri berdampingan dengan Maya.


Tapi nasi sudah menjadi bubur... dia yang dulu berjanji setia pada Maya tergoda akibat bujukan temannya yang mengatakan jika sebelum janur kuning melengkung ia masih bebas menjalin hubungan dengan siapa saja termasuk berkencan dengan wanita lain. Dan sekarang beginilah dia... hidupnya berubah saat Maya memergokinya tengah tidur dengan Hana. Saat itu Maya memang tidak melihat wajah Hana dengan jelas karena ia membelakangi Maya saat itu. Sedangkan Hana ia yang tengah tertidur pulas setelah menghabiskan malam dengan Rio tak mendengar apa pun.


"Mas... kamu kenapa? kok kayak suntuk gitu?" tanya Hana saat melihat Rio yang sedari tadi melamun.


"Ga pa-pa kok... hanya saja sebentar lagi kan jam aku berangkat kerja... apa bisa kita pulang sekarang?" tanya Rio agar mereka bisa segera pulang.


"Oh iya mas... aku lupa... kalau begitu kita pamit sama kak Dara dan yang lainnya dulu..."


Rio pun mengangguk setuju. Keduanya pun kemudian berpamitan untuk pulang terlebih dahulu. Rio merasa lega saat mereka sudah keluar dari dalam hotel. Dia pun mengambil motornya dan segera membonceng istri dan putranya lalu pergi dari sana. Ada rasa sakit yang entah mengapa datang padanya saat melihat Maya bersanding dengan orang lain. Meski begitu ia sadar dengan kesalahannya. Ingin rasanya ia menemui Maya dan meminta maaf atas semua kesalahannya. Tapi Rio sadar jika mungkin saja kehadirannya tidak pernah diinginkan oleh Maya.


Sementara setelah acara resepsi selesai Maya langsung diboyong oleh Rian ke kamar hotel yang sudah di pesan khusus olehnya. Rian juga langsung menyuruh Maya untuk beristirahat begitu mereka sampai di dalam kamar karena melihat Maya yang kelelahan karena berdiri terlalu lama diatas pelaminan. Setelah membersihkan diri keduanya pun langsung beristirahat. Rasa lelah karena seharian menjalani berbagi prosesi pernikahan membuat keduanya langsung tertidur saat sudah menyentuh bantal.


Matahari sudah mulai turun ke peraduannya saat Maya mulai menggeliat dan mulai terbangun dari tidurnya. Saat membuka matanya Maya terkejut saat melihat wajah Rian yang begitu dekat dengannya. Wajah Rian yang terlihat sangat tampan meski dalam keadaan tertidur. Maya meraih ponselnya yang ada di atas nakas. Matanya membulat sempurna saat melihat jam sudah menunjukkan pukul setengah lima sore. Segera ia membangunkan Rian agar tidak tertinggal sholat ashar.


"Kak... bangun..." kata Maya sambil menggoyangkan tubuh Rian.


"Hemmm...."

__ADS_1


"Bangun kak sudah sore..."


Ria menggeliat pelan dan mengejapkan matanya.


"Kak..."


"Hemm... ya..." sahut Rian kemudian bangun dari tidurnya dan beranjak ke kamar mandi.


"Lebih baik kita mandi bareng saja May biar cepat...." sambung Rian membuat Maya kaget.


"Ta... tapi... kak..."


"Tenang saja sayang... aku tidak akan melakukan hal yang aneh... ayo nanti kita telat sholatnya..." terang Rian yang tahu jika istrinya itu gugup.


Dan sesuai dengan perkataan Rian keduanya hanya mandi dan setelahnya berwudhu dan menunaikan sholat ashar. Selesai beribadah keduanya memutuskan untuk bersantai menikmati sore di balkon kamar hotel mereka. Sambil menikmati pemandangan senja dan menikmati minuman dan camilan yang mereka pesan keduanya duduk berdampingan. Maya menyandarkan kepalanya di pundak Rian.


"Kak... rasanya kau tidak percaya kita berdua sudah menikah..."


"Aku juga sayang... kau tahu saat pertama melihatmu aku sudah jatuh cinta..."


"Benarkah?" tanya Maya mendongakkan kepalanya memandang wajah Rian.


"Hemmm...." sahut Rian sambil mengangguk.


"Apa kau tidak percaya?" sambung Rian memandang Maya intens.


"Aku tidak tahu..." sahut Maya sambil menundukkan kepalanya.


"Jadi benar kau tidak percaya?" ucap Rian lagi sambil mendekatkan wajahnya pada istrinya itu.


Maya kembali mendongakkan kepalanya dan terkejut saat mendapati wajah suaminya itu sudah begitu dekat dengannya. Bahkan nafas pria itu dapat ia rasakan menerpa wajahnya. Tanpa aba-aba Rian semakin mendekatkan wajahnya dan menyentuh bibir Maya dengan lembut dengan bibirnya. Maya memejamkan matanya meresapi apa yang tengah dilakukan oleh suaminya itu. Untuk sesaat keduanya saling m**n****p dan m*l***t. Keduanya begitu menikmati hal yang baru pertama kali mereka lakukan. Memang selama menjalin kasih keduanya tidak pernah melakukan hal lebih selain berpegangan tangan dan mencium kening.


Keduanya begitu terbuai hingga akhirnya menghentikan kegiatannya karena sama-sama kehabisan oksigen. Rian mengelus bibir Maya yang basah akibat perbuatannya sambil tersenyum.


"Jika saja waktunya tidak mepet pasti aku akan memakanmu sekarang juga sayang..." bisik Rian dengan suara serak.


"Kakak..." seru Maya sambil memukul lengan suaminya itu pelan.

__ADS_1


Tak lama terdengar suara azan yang menandakan jika mereka harus mengerjakan kewajibannya sebagai seorang muslim.


__ADS_2