
Selesai sholat berjamaah di mushola pak Jajang memperkenalkan Adam pada ketua kampung karena bagaimana pun Adam adalah pendatang. Ketua kampung pun menyambut ramah pada Adam. Karena Adam datang bersama Jasmine ketua kampung dan beberapa penduduk datang ke rumah pak Jajang untuk berkenalan dengan Jasmine sekaligus membuktikan jika keduanya benar sudah menikah. Meski keduanya tidak membawa identitas diri karena baru saja terkena musibah.
Saat berkenalan dengan Jasmine ketua kampung dan beberapa penduduk dapat melihat keduanya mengenakan cincin yang sama yang menandakan jika keduanya merupakan pasangan sehingga mereka pun percaya jika keduanya benar sudah menikah. Namun begitu ketua kampung menyarankan agar keduanya tidur terpisah selama berada disana. Adam dan Jasmine pun langsung menyetujuinya. Sehingga Adam tidur dengan pak Jajang sedangkan Jasmine tidur dengan bu Sumi.
Setelah makan malam dan sholat isya' mereka pun langsung beristirahat karena besok pagi-pagi sekali Adam dan Jasmine akan diantar pak Jajang ke kota terdekat. Adam yang telah mulai terbiasa tidur dengan Jasmine pun menjadi susah untuk memejamkan matanya tanpa ada Jasmine disisinya. Ingin rasanya ia memeluk tubuh istrinya itu agar dapat segera tertidur. Namun apa daya keduanya kini harus tidur terpisah walau hanya dengan pembatas dinding bambu.
Karena tidak bisa tidur akhirnya Adam memutuskan untuk keluar dari kamar dan berniat untuk duduk di ruang depan sebentar. Saat ia baru keluar dari dalam kamar ternyata Jasmine juga terlihat keluar dari kamar tempatnya dan bu Sumi tidur.
"Mau kemana Honey?" tanya Adam yang membuat Jasmine sedikit kaget karena tak melihat Adam keluar dari kamar.
"Mau ke dapur ambil air minum... aku haus" jawab Jasmine.
"Kamu juga haus Dear?" tanyanya kemudian.
Adam hanya mengangguk. Lalu Jasmine pun mengambil gelas dan mengisinya dengan air kemudian memberikannya pada Adam. Adam menerima pemberian Jasmine dan langsung meminumnya. Baru kemudian Jasmine mengisi gelas itu lagi dan meminum airnya.
"Apa kau sudah mengantuk?" tanya Adam setelah Jasmine meletakkan gelas bekas minumnya diatas meja dapur.
"Belum begitu mengantuk..." sahut Jasmine polos.
Adam pun tersenyum dan menarik tangan Jasmine agar istrinya itu masuk ke dalam pelukannya. Jasmine pun terkejut tak menyangka jika Adam akan memeluknya.
"Aku juga tidak bisa tidur Honey... karena aku merindukanmu..." ucap Adam mulai menciumi tengkuk Jasmine.
"Dear..." ucap Jasmine tertahan karena perlakuan Adam yang langsung membuatnya meremang.
Adam pun beralih pada bibir ranum Jasmine dan mulai memagutnya. Jasmine pun pasrah dan bahkan mulai membalas ciuman panas dari suaminya. Keduanya pun terlena dan saling memagut dalam waktu cukup lama hingga mereka kehabisan nafas dan menghentikan kegiatannya. Adam menyatukan keningnya dengan Jasmine sambil tersenyum. Saat ia akan mulai lagi melanjutkam aksinya Jasmine segera mencegahnya dengan menahan dada suaminya itu menggunakan tangannya.
"Jangan Dear..."
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Adam yang sudah berkabut.
"Ingatlah kita di rumah orang Dear..." ucap Jasmine berusaha mengingatkan.
Ia tak ingin perbuatan mereka diketahui orang lain karena tak ingin merusak kepercayaan pemilik rumah dan kepala kampung yang menginginkan keduanya sementara tidur terpisah. Adam mendengus kesal karena sudah diliputi gairah. Tapi ia juga tersadar dengan perkataan Jasmine. Jangan sampai hanya karena nafsu ia dan Jasmine merusak kepercayaan orang-orang yang sudah berbuat baik kepada keduanya.
"Kau benar... baiklah kita kembali saja ke kamar dan tidur agar besok kita bisa bangun pagi" kata Adam akhirnya.
Keduanya pun berjalan beriringan untuk kembali ke kamar mereka masing-masing. Saat keduanya berada didepan pintu kamar yang ditempati Jasmine bersama bu Sumi, Jasmine menyempatkan diri untuk mencium bibir suaminya sekilas sebagai ucapan selamat tidur untuk Adam sebelum dirinya masuk ke dalam kamar. Mendapat ciuman dari istrinya Adam tersenyum senang. Kini ia masuk ke dalam kamar yang ditempatinya bersama pak Jajang dengan riang dan segera membaringkan tubuhnya diatas tempat tidur. Dan dalam sekejap pria itu sudah terbang ke alam mimpi.
Demikian juga dengan Jasmine. Begitu kepalanya menyentuh bantal ia pun langsung memejamkan matanya dan tertidur. Tapi sebelum benar-benar tertidur ia masih sempat berdo'a agar besok semuanya berjalan lancar sehingga ia dan Adam bisa kembali ke rumah dengan selamat.
Di tempat lain tampak bu Rasti tengah menatap layar televisi yang ada dihadapannya. Sejak tadi disetiap saluran televisi memberitakan tentang kecelakaan yang menimpa Adam dan Jasmine. Dari berita itu dia tahu jika Adam dan Jasmine diperkirakan tidak selamat dari kecelakaan yang menimpa keduanya. Sebab walau bangkai mobil mereka berhasil dikeluarkan dari dasar sungai namun tubuh keduanya tidak dapat ditemukan. Meski tim penyelamat sudah menyusuri sungai dan melakukan penyelaman untuk mencari keduanya.
Saat tengah fokus menatap layar televisi dan menyimak setiap berita terakhir dari peristiwa kecelakaan Adam dan Jasmine, bu Rasti dikejutkan dengan kedatangan suaminya pak Farhan.
"Apa kau senang orang suruhanmu dan mantan suamimu berhasil melenyapkan pasangan itu?" tanyanya dengan suara dingin.
"Mas..."
"Mereka memang pantas mendapatkannya mas... karena mereka putraku masuk rumah sakit jiwa!"
"Apa kau tidak pernah sadar jika putramu itulah yang sebenarnya bersalah? dia sudah menculik seorang gadis dari keluarganya dan apa kau sama sekali tidak memikirkan nasib gadis itu jika putramu sampai menodainya?"
"Tapi dia tidak melakukannya mas"
"Iya... aku tahu... tapi setidaknya kau sadar bukan kalau putramu itu yang salah!" sentak pak Farhan.
"Sungguh Ras... aku semakin tak mengenalimu... kau bahkan lebih mengikuti saran mantan suamimu itu dari pada aku!" ujar pak Farhan ambil berlalu meninggalkan bu Rasti sendiri.
__ADS_1
"Tapi mas... aku begini juga karena kamu! kamu sendiri yang tidak mau membantuku membalas kedua orang itu!" teriak bu Rasti yang membuat pak Farhan menghentikan langkahnya berbalik menatap bu Rasti.
"Kau tahu alasanku tak mau membantumu kan? apa kau tahu jika saat ini kamu sudah jadi seorang pembunuh?" sahut pak Farhan sambil menatap bu Rasti tajam.
Bu Rasti hanya diam saat mendengar perkataan pak Farhan.
"Kau fikir tanganmu tidak ikut kotor seperti orang suruhanmu itu? kau salah Rasti kau sama seperti mereka... seorang pembunuh! karena kaulah yang telah menyuruh mereka untuk mencelakai kedua orang itu!" seru pak Farhan lalu meninggalkan bu Rasti dan naik ke lantai dua rumahnya dan masuk ke dalam kamarnya.
Pak Farhan langsung mengemasi pakaiannya dan memasukkannya ke dalam koper. Ia sudah tidak tahan dengan tingkah istrinya yang menurutnya sudah sangat keterlaluan. Bukannya menasehati putranya karena telah menculik anak gadis orang ia malah membela putranya itu. Bahkan menaruh dendam pada korban putranya saat putranya dimasukkan rumah sakit jiwa.
Bu Rasti kaget saat melihat suaminya turun dengan menenteng kopernya. Ia tahu jika suaminya membawa pakaiannya di dalam koper itu.
"Kau mau kemana mas?"
"Aku akan pergi dari sini... aku tidak mau hidup dengan seorang pembunuh! kau tunggu saja besok pengacaraku akan mengurus perceraian kita" kata pak Farhan datar.
"Kenapa mas? apa salahku padamu hingga kau mau kita berpisah?" tanya bu Rasti sambil meneteskan air mata tak menduga jika pak Farhan akan menceraikannya.
"Kau tidak tahu kesalahanmu... atau kau pura-pura tidak tahu hah? kau fikir aku tidak tahu jika selama ini kau minum pil KB agar kau tidak hamil! selama ini aku bersabar karena aku fikir kau melakukannya karena tak ingin membuatku tak lagi menyayangi putramu... meski putramu juga tak pernah mau menerimaku menjadi ayah sambungnya... tapi perbuatanmu kali ini yang membangkang padaku dan malah mengikuti mantan suamimu membuatku yakin jika kau tidak pantas untuk menerima pengorbananku..." kata pak Farhan mengeluarkan semua isi hatinya.
"Mas..." ucap bu Rasti tercekat.
Ia tak menyangka jika sikap curangnya dengan meminum pil KB telah diketahui oleh suaminya. Ya ia memang sengaja tak ingin hamil lagi meski tahu jika suaminya menginginkan keturunan darinya. Karena pak Farhan memang belum pernah memiliki anak meski ia juga pernah menikah sebelum dengan bu Rasti sebab istrinya dulu meninggal saat kecelakaan mobil padahal saat itu ia tengah mengandung. Namun pak Farhan mencoba untuk mengerti dengan perasaan bu Rasti tapi ternyata wanita itu malah mengikuti saran mantan suaminya yang jelas-jelas dulu sudah mengkhianatinya.
"Kau tahu Ras... jika Ghani tahu yang membunuh wanita yang dicintainya itu adalah kamu... ibunya... maka sudah bisa dipastikan kau akan kehilangan putramu selamanya meski ia sudah keluar dari rumah sakit jiwa..." kata pak Farhan.
Perkataan pak Farhan membuat bu Rasti tersadar jika yang telah dilakukannya bukan membawa kebaikan bagi putranya... dan benar Ghani pasti tidak akan pernah mau memaafkannya jika tahu kebebarannya dan ia akan kehilangan putranya itu untuk selamanya. Pak Farhan kembali melanjutkan langkahnya meninggalkan bu Rasti. Sementara bu Rasti masih berdiri mematung bergelut dengan fikirannya sendiri. Ia bahkan tidak menyadari jika pak Farhan sudah pergi meniggalkan rumahnya.
Sementara di sebuah rumah sakit jiwa tampak semua penghuni tengah berada di ruang hiburan dimana mereka dibiarkan untuk bergerak bebas melakukan kegiatan yang mereka sukai termasuk menonton televisi. Ghani yang merasa tidak gila sengaja menjauh dari sesama pasien lainnya. Ia lebih memilih untuk menonton televisi sambil duduk disudut ruangan. Saat itulah ia melihat berita tentang kecelakaan yang menimpa Jasmine. Pemuda itu langsung menegakkan tubuhnya dan mengepalkan tangannya. Ia tak menyangka jika wanita yang ia kira telah ia bunuh ternyata masih hidup namun kini wanita itu sudah meninggal karena kecelakaan.
__ADS_1
"Jadi saat itu aku tidak membunuhmu Jasmine..." gumamnya sambil tersenyum tipis.
Namun tiba-tiba ia menangis karena tersadar jika wanita yang dicintainya kini sudah meninggal. Dan dari yang ia ketahui dari televisi kecelakaan yang merenggut nyawa Jasmine itu karena ada yang menabrak mobil yang ditumpanginya.