Dia Itu Aku

Dia Itu Aku
Berhenti Mengenang Masa Lalu


__ADS_3

Di tempat lain tampak Rio tengah menemani putranya bermain di taman kota sambil menunggu jam pulang Hana istrinya dari butik. Kali ini Rio tak begitu bersemangat saat menemani putranya itu. Dibiarkannya bocah kecil itu bermain sesukanya asal tidak membahayakan dirinya. Sebenarnya ia tengah gundah karena kemarin menghadiri pernikahan Maya. Tidak bisa di pungkiri jika ia masih menyimpan para pada gadis itu. Sebenarnya hubungannya dengan Hana hanya merupakan selingan untuknya saat menjalani LDR dengan Maya waktu itu.


Ia tak menyangka jika ia akan kebablasan berhubungan dengan Hana hingga membuat gadis itu hamil benihnya dan mau tidak mau ia pun harus bertanggung jawab. Jika dulu dia sudah mulai menerima Hana sebagai istrinya entah mengapa saat kemarin melihat Maya yang bersanding di pelaminan dengan pria lain membuat hatinya merasa perih. Ia menyesal mengapa dulu tidak bisa menahan nafsunya dan tidak setia pada Maya. Hingga kini ia harus kehilangan Maya yang nyatanya masih tersimpan di dalam hatinya. Rio tersentak dari lamunannya saat mendengar panggilan Raka.


"Ayah... ayo jemput bunda..." rengeknya sambil menggoyangkan lengan Rio.


"Eh... iya sayang... kita jemput bunda sekarang..." sahut Rio.


Keduanya pun berjalan ke arah pakiran dan naik ke atas motor Rio untuk menjemput Hana. Sementara di rumah barunya tampak Maya tengah sibuk. Hari ini kedua orangtuanya dan juga mertuanya akan datang mengunjunginya saat makan malam. Oleh karenanya Maya ingin menjamu mereka dengan memasakkan makanan hasil karyanya. Ya sebelum menikah dengan Rian, Maya menyempatkan dirinya untuk belajar memasak. Ia ingin nanti saat sudah menjadi istri Rian ia bisa memasak untuk suaminya itu. Hal ini tak lepas dari nasehat mamanya juga yang mengatakan jika sebagai seorang istri Maya harus bisa menyenangkan suaminya termasuk urusan perut. Dan akhirnya Maya pun ikut les memasak pada salah satu chef terkenal yang membuatnya kini sudah percaya diri untuk memasak bagi orangtua dan juga mertuanya.


Setelah berjibaku di dapur sedari siang akhirnya Maya bisa bernafas lega saat semua masakan sudah tersaji diatas meja. Ya Maya memasak semuanya sendiri sedang Art yang disediakan oleh Rian hanya membantunya memotong bahan makanan saja. Sedangkan untuk membuat bumbu dan yang lainnya Maya sendiri yang melakukannya. Rian yang sengaja pulang cepat dari kantor karena tahu jika kedua orangtuanya dan juga orangtua Maya akan makan malam di rumahnya. Ia tersenyum saat mendapati meja makan yang penuh dengan berbagai macam masakan.


"Nyonya ada dimana bik?" tanyanya pada sang Art yang tengah menata meja makan.


"Nyonya sedang ada di kamar tuan... mungkin masih mandi... seharian tadi nyonya sibuk menyiapkan semuaa hidangan ini tuan..." terangnya pada Rian ynag menbuat lelaki itu tersenyum senang.


Meski ia tak menyuruh Maya memasak sendiri tapi melihat istrinya itu yang sudah bersusah payah menyiapkan semuanya tak bisa dipungkiri jika ia merasa bahagia. Karena Maya terlihat sangat ingin menjalani perannya sebagai ibu rumah tangga. Dengan segera ia pun menuju ke kamarnya di lantai atas. Saat masiuk ke dalam kamar ia dapat melihat istrinya tengah mengeringkan rambutnya yang basah sehabis mandi. Rian langsung memeluk istrinya itu dari dari belakang dan melabuhkan sebuah kecupan di puncak kepala Maya yang masih agak basah.


"Sayang..." pekik Maya yang kaget karena ulah Rian.


"Hemm... kau harum sekali sayang..." ujar Rian sambil mengendus rambut Maya.


"Akukan baru mandi... tentu saja wangi..." sahut Maya sambil terkekeh.


"Sekarang lebih baik kamu mandi sayang... sebentar lagi mama sama papa akan datang..." sambung Maya mencoba menghentikan Rian yang sudah mulai grepa *****.


"Tapi aku masih merindukanmu... seharian ini aku tidak bisa konsentrasi kerja karena memikirkanmu..." ucap Rian yang tak mau menghentikan aksinya.


"Tapi kalau mama sama papa datang dan kau belum rapi bagaimana?"

__ADS_1


"Hemm... baiklah..." ucap Rian akhirnya kemudian melepaskan belitannya pada Maya dan masuk ke kamar mandi.


Maya pun langsung menyiapkan pakaian ganti untuk suaminya itu sebelum ia keluar dari kamar untuk memeriksa persiapan makan malam keluarga pertamanya setelah menjadi istri Rian. Tak berapa lama terdengar suara mobil memasuki halaman rumahnya. Maya pun bergegas melihat siapa yang datang. Dan seperti yang ia duga kedua orangtuanya sudah datang. Maya pun langsung menyambut keduanya. Tak berselang lama kedua mertuanya juga datang. Maya membawa mereka langsung masuk ke dalam rumah. Sementara Rian tampak baru saja turun dari lantai atas setelah selesai mandi. Mereka pun berbincang ringan sebelum akhirnya mereka makan malam bersama.


Di depan butik tante Fira tampak Rio tengah menunggu kepulangan Hana bersama Raka. Saat melihat istrinya itu keluar dari dalam butik dengan wajah lelahnya ada yang tercubit di hati Rio. Ia merasa gagal sebagai suami yang seharusnya bisa memberikan segalanya bagi keluarga kecil mereka tapi ia belum bisa. Bahkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari istrinya itu masih harus ikut banting tulang. Dan apa yang sudah difikirkannya tadi? menyesali kehidupannya dengan Hana? padahal wanita itu juga korban dari kelakuan bejatnya yang sudah merayu wanita polos itu hingga harus hamil diluar nikah dan kehilangan semua impiannya.


Hana bahkan masih bisa tersenyum ditengah himpitan ekonomi mereka dan tak sekali pun berniat meninggalkan dirinya. Dan wanita itu dengan suka rela ikut bekerja demi membantunya memenuhi kebutuhan hidup keluarga kecil mereka.


"Apa yang sudah kau fikirkan Rio... Maya adalah masa lalumu... kau memang bersalah padanya tapi kini dia juga sudah bahagia menemukan suami yang mencintainya... lihatlah Hana! dia juga wanita yang baik... tak pantas jika kau masih membandingkannya dengan Maya..." terdengar suara dari dalam hati Rio saat melihat Hana yang tersenyum cerah saat melihat dirinya dan Raka.


"Mas sudah menunggu lama?"


"Gak... tadi kami bermain di taman dulu... iya kan Raka?"


"Iya bunda..."


"Ayo kita pulang sekarang..." ajak Rio.


Ditempat lain...


Jasmine tengah bersantai bersama mama Tika dan mama Sinta karena Adam tengah keluar kota. Karena ini lah Adam tidak pindah dari rumah mamanya dan juga membawa mama Tika untuk tinggal bersama. Ia tidak ingin istrinya sendirian di rumah saat ia harus berada di luar kota.


"Bagaimana keadaan kandunganmu sayang? apa semuanya baik-baik saja?" tanya mama Tika.


"Iya ma... semua baik-baik saja... bayinya sangat sehat... semoga semuanya lancar saat lahiran nanti..." kata Jasmine.


"Aamiin..." sahut mama Tika dan mama Sinta bersamaan.


"Lalu apa kalian sudah tahu jenis kelamin anak kalian? secara kan kini sudah hampir tujuh bulan" tanya mama Sinta.

__ADS_1


"Hemmm... belum ma... soalnya aku dan kak Adam sengaja tidak ingin tahu dulu... biar jadi kejutan nanti..." sahut Jasmine sambil mengelus perutnya yang buncit.


"O... tapi malah bagus itu jadi akan ada rasa penasaran hingga saat lahiran nanti..." ujar mama Sinta.


"Iya... makanya sekarang kalau mau beli peralatan bayi aku sama kak Adam memilih warna dan model yang netral..." kata Jasmine.


"Kalian sudah mulai membeli perlengkapan bayi?" tanya mama Tika.


"Belum ma... rencananya setelah kak Adam pulang baru kami mencicil membelinya..." terang Jasmine.


Mama Tika dan mama Sinta pun mengangguk setuju. Karena ini merupakan cucu pertama bagi keduanya maka mereka sangat antusias menunggu kelahiran sang jabang bayi. Apa lagi mama Sinta yang sudah menunggu lama agar Adam menikah dan memiliki anak. Penantian putranya menunggu Jasmine hingga akhirnya bisa mempersunting gadis itu menjadi istrinya memang bukan waktu yang singkat. Di saat rekannya sudah menikah dan memiliki momongan Adam masih setia menunggu Jasmine dan mencari keberadaan gadis itu saat menghilang.


Sungguh bukan perjuangan yang mudah hingga Adam kini bisa menjadikan Jasmine sebagai istrinya dan kini mengandung anak mereka. Mama Sinta juga merasa bersyukur karena meski perbedaan usia putranya dengan Jasmine cukup jauh namun Jasmine bisa mengimbangi kedewasaan suaminya.


"Mama kenapa?" tanya Jasmine saat melihat mata mama Sinta berkaca-kaca.


"Mama hanya terkenang dengan perjuangan kalian hingga menikah sayang..." terang mama Sinta.


"Mama..." ucap Jasmine sambil mengelus lengan mertuanya itu.


"Iya Jeng... aku juga merasa terharu jika mengingatnya..." kata mama Tika yang kini ikut berkaca-kaca.


Bagaimana tidak... dulu Jasmine bahkan lumpuh dan harus terus fisioterapi agar bisa berjalan lagi. Ibu mana yang tidak khawatir pada masa depan putrinya saat tiba-tiba mengalami kecelakaan dan mengalami kelumpuhan.


"Mama..." kini Jasmine beralih pada mamanya dan langsung memeluknya.


"Mama jangan khawatir lagi... kak Adam akan selalu menjagaku..." sambung Jasmine untuk menenangkan mamanya.


"Mama tahu sayang... dan mama juga percaya pada Adam..." sahut mama Tika.

__ADS_1


Setelah suasana mengharu biru ketiganya pun mengalihkan pembicaraan pada persiapan Jasmine menuju persalinan. Kedua mama dan mama mertuanya bahkan menyarankan agar Jasmine mulai ikut senam ibu hamil. Bahkan keduanya bersedia menemani Jasmine saat menjalani senam saat Adam tidak bisa menemaninya.


__ADS_2